Ariel Sharon, 23 Maret
2013
Dini hari momentum Dies-Natalist GmnI
Dini hari momentum Dies-Natalist GmnI
Luapan Jiwa Nasionalisme
Pada hakikatnya perasaan dekat
antar manusia dengan manusia yang lain akan mengakibatkan sebuah hal yang tak
perlu kita ragukan lagi. Bahkan parameter kita dekat dengan Tuhan adalah
seberapa dekat kita dengan manusia-manusia lain. Karena agama tidak pernah
mengajarkan kita untuk saling menyakiti, bahkan bentuk aksi terorisme yang
mengatasnamakan agama adalah orang-orang yang sebenarnya memperburuk citra
agama itu sendiri. Agama tak pernah memberikan sebuah mandat kepada pemimpin
siapapun. Jadi setiap manusia berhak menjadi seorang pemimpin. Meskipun pemimpin
dalam lingkup yang tak besar.
Mungkin di indonesia ini masyarakat
terlalu terlena dengan perbedaan. Perbedaan kasta, harta, martabat, dan
status-status derajat lainnya. Bahkan perbedaan yang merasa golongannya adalah
golongan yang paling mulia juga akan menjadi sebuah faktor pemecah belah
persatuan dan kesatuan di negeri kita. Negeri kita di anugerahi bernagai macam
suku, ras, agama, golongan, adat-istiadat, bahkan berbeda-beda wilayah
persebaran penduduk. Maka tolak ukur penguasa dunia adalah; “barang siapa yang
dapat menguasai dan merebut hati seluruh rakyat indonesia dari sabang sampai
merauke yang memiliki banyak perbedaan ini, maka dialah kunci perdamaian dunia”.
Sungguh bukan maksud saya untuk
mengagung-agungkan bangsa kami, namun itulah luapan jiwa nasionalisme saya
terhadap indonesia. Hakekat indonesia memiliki rasa nasionalisme kemanusiaan
tetap berada di dalam isi hati terdalam. Dimana nasionalisme yang tidak terlalu mengagung-agungkan bangsa
sendiri, tapi semua manusia memiliki kesamaan hak untuk ber asasi. Disitulah pedoman
saya atas menghargai sesama manusia. Karena sedekat apa hubungan seorang
manusia dengan manusia yang lain itulah cermin dari kedekatan hubungan manusia
tersebut dengan Tuhan....
Salam Indonesia Merdeka !!!!!!!