Wednesday, May 28, 2014

Maafkan Aku yang Egois Ini


Perasaan ini untukmu memang terlalu dalam. Sehingga kehilanganmu seakan-akan kehilangan seluruh hidupku. Aku tak bisa membayangkan apa artinya diriku tanpa dirimu, apa jadinya diriku tanpa dirimu.

Ketika bibir “iya”-ku tidak kau ikuti dengan kata “iya”, seakan-akan aku takut dirimu tidak searah dengan mauku ketika kita benar-benar kita.

Ketika diriku terlalu memaksa dirimu tanpa alasan. Ku akui aku kehabisan kata-kata untuk beralasan. Bukan karena aku tak pandai bicara. Tapi, maklumilah caraku untuk meyakinkan dirimu, karena aku laki-laki.

Ketika bibir “iya”-ku tidak kau ikuti dengan kata “iya”, seakan-akan aku takut dirimu tidak searah dengan mauku ketika kita benar-benar kita.

Aku luluh ketika aku melihat embun yang keluar dari matamu. Aku luluh ketika kerut dahi dan bibirmu berbeda. Maafkan aku yang egois ini. Karena begitulah caraku mencintaimu.

Bukan berarti ketika aku mengulangi ini perasaanku padamu akan berubah. Aku hanya ingin melihat wajahmu ketika aku berkata begitu. Aku ingin melihat kesunguhan hatimu akan mencintaiku. Aku tahu kau cintai diriku karena terpaksa. Aku tau kau tak bisa melepasku karena terpaksa.

Terpaksa karena itu jalan takdir kita, karena duri dariku yang melukai dirimu akan selalu membekas. Aku memaksakan itu karena aku sungguh mencintaimu. Dan ingat ...

Ketika bibir “iya”-ku tidak kau ikuti dengan kata “iya”, seakan-akan aku takut dirimu tidak searah dengan mauku ketika kita benar-benar kita.

Aku luluh ketika aku melihat embun yang keluar dari matamu. Aku luluh ketika kerut dahi dan bibirmu berbeda. Maafkan aku yang egois ini. Karena begitulah caraku mencintaimu.

Dan...

Aku luluh ketika aku melihat embun yang keluar dari matamu. Aku luluh ketika kerut dahi dan bibirmu berbeda. Maafkan aku yang egois ini. Karena begitulah caraku mencintaimu.

Karena begitulah caraku mencintaimu.

:')

No comments:

Post a Comment