Perasaan ini untukmu memang terlalu dalam. Sehingga kehilanganmu
seakan-akan kehilangan seluruh hidupku. Aku tak bisa membayangkan apa artinya
diriku tanpa dirimu, apa jadinya diriku tanpa dirimu.
Ketika bibir “iya”-ku tidak kau ikuti dengan kata “iya”,
seakan-akan aku takut dirimu tidak searah dengan mauku ketika kita benar-benar
kita.
Ketika diriku terlalu memaksa dirimu tanpa alasan. Ku akui
aku kehabisan kata-kata untuk beralasan. Bukan karena aku tak pandai bicara. Tapi,
maklumilah caraku untuk meyakinkan dirimu, karena aku laki-laki.
Ketika bibir “iya”-ku tidak kau ikuti dengan kata “iya”,
seakan-akan aku takut dirimu tidak searah dengan mauku ketika kita benar-benar
kita.
Aku luluh ketika aku melihat embun yang keluar dari matamu. Aku
luluh ketika kerut dahi dan bibirmu berbeda. Maafkan aku yang egois ini. Karena
begitulah caraku mencintaimu.
Bukan berarti ketika aku mengulangi ini perasaanku padamu
akan berubah. Aku hanya ingin melihat wajahmu ketika aku berkata begitu. Aku ingin
melihat kesunguhan hatimu akan mencintaiku. Aku tahu kau cintai diriku karena
terpaksa. Aku tau kau tak bisa melepasku karena terpaksa.
Terpaksa karena itu jalan takdir kita, karena duri dariku yang
melukai dirimu akan selalu membekas. Aku memaksakan itu karena aku sungguh
mencintaimu. Dan ingat ...
Ketika bibir “iya”-ku tidak kau ikuti dengan kata “iya”,
seakan-akan aku takut dirimu tidak searah dengan mauku ketika kita benar-benar
kita.
Aku luluh ketika aku melihat embun yang keluar dari matamu. Aku
luluh ketika kerut dahi dan bibirmu berbeda. Maafkan aku yang egois ini. Karena
begitulah caraku mencintaimu.
Dan...
Aku luluh ketika aku melihat embun yang keluar dari matamu. Aku
luluh ketika kerut dahi dan bibirmu berbeda. Maafkan aku yang egois ini. Karena
begitulah caraku mencintaimu.
Karena begitulah caraku mencintaimu.
:')
No comments:
Post a Comment