Berat rasanya berfikir tentang beberapa waktu lagi saya akan
mengakhiri gerak di dalam wadah ternyamanku. Pencapaian tertinggi yang saya
cita-citakan memang sudah tercapai. Syukur saya ucapkan. Dan merupakan suatu
kebanggaan tersendiri yang ada pada diriku.
Perjalanan awal ini memanglah terasa berat. Karena sangat
tidak saya duga, waktu luang saya hampir tertutup untuk keluarga, bahkan
teman-teman dekat lainnya. Agenda yang bertumpuk-tumpuk sangatlah membebaniku. Saya
takut jika suatu saat saya merasa terbiasa dengan keadaan ini, dan saya asyik
dalam menjalaninya, kemudian saya tidak dapat meninggalkan keadaan yang saya
cita-citakan ini.
Keadaan seiring berubah, dulu target yang sangat terlihat
jelas menjadi buram ketika ada anggota baru di lingkup ini terpampang di
nama-nama pengajar. Apakah masih ada kesempatan untukku untuk kesempatan besok?
Tuhan memang selalu berkehendak seenaknya sendiri. Karena dia maha kuasa, saya
rasa itu memang diciptakan untuk mencambukku. Agar saya menjadi person yang
jauh lebih baik, lebih berusaha, lebih bertekat. Terimakasih tuhan kau
memberikan kesempatan aku untuk menjadi person yang lebih tangguh.
Di wadah lain kemarin gerbong mengalami kegagalan yang
hebat. Sehingga tekanan moral sering sekali menyerangku dengan seangkatanku. Mental
juara memang tahu, dimana saya bisa menang dan saya tahu kapan saya bisa kalah.
Menyalahkan memang sudah menjadi tradisi regim. Bukan berusaha
memperbaiki, namun melepaskan tanggung jawab bersama yang merugikan
adik-adiknya. Maka ganjaran yang diberikannya adalah kekalahan yang
dipermainkan oleh senior-senior yang tak menjabat.
Tapi sebenarnya gerbong dapat menjadi juara, karena kita
berjuang tanpa kecurangan. Berbeda dengan gerbong yang menghalalkan semua cara
untuk menang. Mengambil suara yang seharusnya tidak memiiki hak suara. Namun,
itulah politik.
Apalagi pencampur tangan selalu hadir di sisi adik-adik. Jadi,
perang saya kemarin adalah perang saya secara pribadi dengan orang yang lebih
tua, sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi individu kami.
Yang saya akui adalah sisi moral dari calon saya. Saya dapat
saja memangkas apa yang menjadi hak lawan. Namun, semua itu dicegah oleh calon
yang memiiki nurani tinggi. Tapi apa daya? Itulah politik. Seburuk, seindah,
secantik apapun permainan. Semua akan sah dimata politik. Seperti lumpur yang
dihias sehingga menjadi bentuk seni. Namun itu tetaplah lumpur.
Semoga semua proses yang aku alami ini tidak akan pernah
sia-sia. Karena ini semua adalah bekalku untuk menghindari eksploitasi atau
pemanfaatan diri pribadi. MERDEKA !!!
.