Siapa yang
peduli, silakan membaca tulisan singkat ini.......
Mahasiswa
Nama mahasiswa
dapat diartikan sebagai kasta tertinggi pada seorang pelajar. Maka, seorang
mahasiswa haruslah menjadi contoh dan teladan bagi seluruh kaum yang
berpendidikan. Menyandang gelar sarjana seharusnya memiliki pola pikir yang
brilian. Mahasiswa bukan orang yang pantas menjadi budak berdasi. Melainkan orang yang seharusnya membuat
lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sehingga dapat membantu menekan angka
pengangguran di negeri ini.
Mahasiswa
di dalam sebuah harapan bangsa yang sangat berpengaruh bagi negeri ini
merupakan cita-cita bangsa indonesia. Pundak regenerasi bangsa adalah dimana
kaum-kaum pemuda itu diletakkan. Pada masa usia muda, pemuda diharapkan
memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk mengambil sebuah persiapan dalam
menyongsong masa depan. Dalam lingkup mahasiswa merupakan suatu lingkungan yang
ideal dalam mempersiapkan diri untuk menyongsong masa depan. Namun, mahasiswa belum tentu dapat memanfaatkan dirinya di
tempat yang cocok bagi dirinya.
Mahasiswa
sebagai agen perubahan tentu sangat diharapkan oleh seluruh elemen masyarakat
indonesia. Namun, ironis ketika kita melihat seorang mahasiswa yang bertingkah
seperti layaknya orang yang tidak berlatarbelakang pendidikan. Contoh dari
mahasiswa yang layaknya tidak berlatar belakang pendidikan adalah Mahasiswa “Hedonis”
(dengan kata lain adalah foya-foya). Satu yang dapat kita simpulkan pada
mahasiswa yang hedonis, mereka hanya menghambur-hamburkan materi demi
kepentingan yang dirasa tidak perlu. Realitas ini sering kita temukan pada mahasiswa
yang terlalu menjaga penampilan dirinya secara “fashion”. Dengan suatu permisalan; salah satu teman
dari mahasiswa tersebut memiliki jaket baru, maka dia ingin membeli jaket lebih
dari itu dengan rasa dalam hati jaketnya sudah merasa tersaingi (jaket bisa diganti dengan jam tangan, tas,
baju, sepatu, dan lain lain). Dan untuk contoh lainya adalah mahasiswa yang
terlalu memperhatikan penampilannya dengan make-up
yang “berlebihan”. Pada umumnya make-up se natural mungkin adalah make-up yang
paling cocok digunakan untuk kaum mahasiswa. Namun ada sebagian dari mahasiswa
yang terlalu mengikuti mode make-up, dan mereka sangat memperhatikan sekali
akan penampilan mereka.
Tidak hanya mahasiswa, bahkan
sebagian masyarakat juga memiliki pola pikir yang sama terkait dengan make-up
dan barang mewah. Apakah yang menjadi penyebab dari permasalahan di atas? Mungkin
hanya sebagian yang mampu saya bagi kepada para pembaca. Dapat kita ambil satu
contoh, pola pikir hedonis ini sering kita temui di layar kaca. Gaya hidup seorang selebritis adalah faktor yang sering
kita tirukan. Mulai dari gaya rambut, model baju, kaos, jaket dan lain
sebagainya. Dapat sedikit kita simpulkan bahwa yang mempengaruhi pola pikir
masyarakat adalah “perilaku selebritis
yang dapat kita amati di layar kaca”.
Dalam layar kaca sering sekali
kita diberikan suatu tayangan yang kurang bermutu oleh stasiun televisi. Maka pandai-pandailah
dalam memilah sebuah “tayangan televisi”. Mungkin tanpa kita sadari kita semua sudah
terpengaruh
oleh tayangan televisi yang (sebagian) kurang bermutu. Sebagai mahasiswa, kita harus
mampu memilah tayangan televisi yang mampu merubah gaya hidup di sekitar kita, dengan
memberikan sebuah gerakan anjuran kepada lingkungan sekitar, agar tidak
terpengaruh oleh acara stasiun-stasiun televisi yang dapat berpengaruh lebih
akan “perubahan perilaku dan gaya hidup individu”.
Dalam layar kaca ada sebuah
kejadian yang sangat sering menjadi ide utama dalam inti cerita sinetron. Yaitu
orang yang baik hati, dan memiliki sebuah akhlak yang baik akan selalu mendapatkan
sebuah keberuntungan di setiap hidupnya. Memang ada unsur ‘benar’ nya. Namun janganlah
kita terlalu mengikuti perilaku sinetron yang sangat berbeda dalam kehidupan
nyata. “Keberuntungan berpihak pada
orang yang memiliki persiapan terbaik”, maka barang siapa yang memiliki
persiapan yang sangat maksimal, bersiaplah dihujani oleh keberuntungan.
Kesimpulan dari tulisan diatas
kurang lebih mengangkat sebuah nilai “pola pikir mahasiswa dan masyarakat
hedonis yang dipengaruhi oleh tayangan televisi kurang bermutu” (sinetron). Bukan berarti disini saya
menjelekkan sinetron, namun sebagian sinetron memberikan dampak pola pikir yang
negatif bagi pemirsanya.
Jika teman-teman pembaca peduli
dengan keadaan realita seperti ini berikanlah sebuah gerakan untuk
mengurangi/mencegah gaya hidup hedonis pada diri sendiri, mahasiswa, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas,
dengan cara; minimal mengurangi intensitas dalam menonton sinetron, dan dapat memberikan
himbauan kepada lingkungan terdekat agar mengurangi menonton sinetron yang
dapat memberikan dampak buruk bagi gaya hidup.
Salam indonesia
merdeka dan HIDUP MAHASISWA !!!!!!
.