Tuan Presiden Suharto
Bersama ini saya ingin mengingatkan Tuan terhadap segala sesuatu yang nampaknya oleh Tuan akan dilupakan. Hal hal yang akan dikemukakan ini saya anggap sebagai kewajiban bagi saya untuk menjelaskannya secara benar karena saya justru mengikuti peristiwa-peristiwa di Indonesia itu dari dekat.
Barangkali sementara orang akan berpendapat akan lebih baik kalau saya diam seribu bahasa seperti Sphinks (arca batu di Mesir) daiam hal ini. Akan tetapi karena saya tanggung jawab maka saya harus melakukan hal ini biar membawa resiko betapapun besrnya terhadap diri saya. Inipun karena makin lama di seluruh dunia maupun di Indonesia sendiri banyak tersebar cerita-cerita palsu yang disebarkan tentang peristiwa-peristiwa di Indonesia itu sehingga membeberkan keadaan yang sebenarnya itu merupakan kewajiban saya.
Karena itulah saya kirimkan surat terbuka ini kepada Tuan dalam kedudukan saya sebagai warga negara Indonesia. Selain itu surat terbuka yang saya kirimkan kepada tuan ini termasuk segala isinya adalah sepenuhnya tanggung jawab saya dan tidak ada sangkut pautnya dengan Soekarno, Presiden Republik Indonesia yang terdahulu.
Sebenarnya agaknya sudah terlambat untuk mempersoalkan kembali tentang para Perwira yang telah dinyatakan sebagai “kontra revolusi” atau pemberontak pemberontak terhadap Negara dimana mereka telah sama dihukum mati.
Selama ini saya selalu berpendirian tidak sependapat dengan adanya dalil bahwa ” yang berkuasa itu selalu benar” (power can do no wrong). Sikap inipun sama sewaktu Presiden Soekarno berkuasa Saya berpendapat bahwa seorang Kepala Negara itu mesti dikerumuni oleh orang orang yang mendukungnya. Begitu juga halnya dengan Tuan bahwa di sekeliling Tuan itu banyak orang-orang berkerumun yang pada umumnya tidak berani membuka mulutnya berpura-pura taat dan tunduk bahkan ada yang menjilat yang pada hakekatnya mereka bertujuan untuk mendapatkan kesempatan berkuasa lebih banyak Karena itulah apa yang sebenarnya terjadi di sekitar Tuan sulit akan terungkap.
Pertama-tama dalam surat terbuka saya ini saya ingin mengemukakan apa yang disebut “proses” dimana banyak orang telah dibunuh karena dituduh melakukan kejahatan terhadap Negara. “proses” ini yang sebenamya terjadi di luar norma-norma Hukum dan Keadilan lebih tepat untuk disebut “teror dan kekerasan”
Dan mereka orang-orang yang tidak puas dan tidak mau bicara sewaktu kekuasaan Soekarno maka setelah situasi berubah lalu bersikap tidak bertanggung jawab dan turut serta melakukan pembunuhan dan teror. Dalam hal ini Tuan telah membiarkahnya. Andai kata nanti pada suatu ketika kedudukan Tuan diganti oleh orang lain sudah tentu akan terjadi hal yang sama dimana pembantu-pembantu Tuan yang penting sipil maupun militer termasuk mungkin Tuan sendiri akan mendapat perlakuan yang sama di mana mereka dituduh dan dituntut dengan hukuman mati dengan berbagai dalih misal “karena melakukan korupsi”
Dalam hubungan ini saya ingin bertanya kepada Tuan : “Mengapa Tuan membiarkan dan memberi kesempatan semua itu berlalu yang dapat menjadi contoh (preseden) jelek bagi suatu Negara yang masih muda dan rakyatnya sedang berkembang yaitu Indonesia ?”
Bukan maksud saya untuk mencela kebijaksanaan politik yang Tuan lakukan. Akan tetapi perhatian tertumpah kepada mereka yang dibunuh dan diteror dengan memakai dalih “pembersihan terhadap golongan merah” sejak peristiwa G 30 S itu terjadi. Padahal kebanyakan dari mereka itu hanyalah pengikut-pengikut Soekarno yang tidak tahu menahu tentang peristiwa G 30 S.
Bahkan saya memperoleh berita bahwa tidak kurang dari 800.000 Rakyat Indonesia yang telah terbunuh diantaranya trdapat kaum wanita dan anak-anak karena hanya sebagai simpatisan PKI.
Harian”London Times” membuat berita pada Januari 1966 sebagai berikut “Bahkan sejak pecahnya peristiwa G 30 S itu dalam 3 bulan telah ratusan ribu kaum komunis yang dibunuh jumlah mana menurut para diplomat barat angka tersebut masih terlalu rendah.
Sementara itu menurut sementara pengusaha-pengusaha dan turis-turis dari Eropa yang pulang dari Indonesia mengatakan bahwa pembunuhan dan teror itu begitu hebatnya sehingga mereka melihat sementara di sungai-sungai penuh dengan hanyutnya mayat- mayat tanpa kepala dan sementara anak-anak di desa-desa katanya bermain sepak bola dengan kepala-kepala manusia yang terbunuh. Pokoknya dalam tempo 3 bulan sesudah peristiwa G 30 S itu situasi di Indonesia dicekam dengan ketakutan dan ketegangan dimana banyak darah mengalir yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa Indonesia.
Seorang wartawan dari “Washington Post” memberitakan dari Jakarta bahwa di Jawa Timur saja telah terbunuh 250.000 orang, demikian menurut sumber dari golongan Islam. Lebih lanjut “Washington Post” memberitakan bahwa puncak pembunuhan dan teror itu pada bulan November 1965. Kepala-kepala manusia telah dijadikan hiasan (decorasi) pada suatu jembatan. Di tempat lain orang melihat bahwa mayat-mayat tanpa kepala dihanyutkan di sungai-sungai di atas rakit dalam deretan yang panjang. Sungai bengawan Solo yang indah permai ketika itu penuh dengan mayat-mayat sehingga di sementara tempat kadang-kadang airnya tidak terlihat tertutup oleh mayat-mayat itu. Sungai-sungai itu airnya menjadi merah karena darah Rakyat.Pokoknya ketika itu Indonesia seperti neraka demikian tulis Washington Post.
Sementara itu harian Inggris “Economist” memperkirakan bahwa korban yang jatuh karena pembunuhan dan teror itu mencapai 1.000.000 orang.
Saya ingin bertanya kepada Tuan: mengapa pertumpahan darah itu sampai terjadi atas mereka yang belum tentu berdosa? Dan mengapa masyarakat dunia diam seribu bahasa ? Padahal dipihak lain kalau seorang manusia terbunuh di sepanjang tembok Berlin saja, maka seluruh dunia Barat
ramai dan geger. Tapi mengapa dunia Barat itu diam dimana 800.000 Bangsa Asia (Indonesia) telah dibunuh dan diteror dengan darah dingin, bahkanan dalam situasi Dunia sedang damai??
Saya tahu pasti bahwa diantara yang terbunuh itu ada orang komunis. Tapi apa artinya kemerdekaan dan hak azasi manusia kalau Tuan membenarkan pembunuhan besar-besaran itu sekedar karena mereka melakukan gerakan di bawah tan ah yang tidak diketahui oleh Pemerintah Tuan ?
Sebenamya Tuan akan lebih bijaksana kalau Tuan mengambil langkah-langkah pencegahan terjadinya pembunuhan besar-besaran itu sebelunm PK.I dinyatakan dilarang oleh undang-undang.
Akan tetapi Tuan ternyata tidak berbuat demikian dan hal ini dianggap sebagai pelanggaran terhadap hal-hal azasi manusia dan Tuan tidak mendapatkan respek. Lepas dari ideologi apa yang sudah terjadi itu merupakan “kejahatan nasional”
Tuan Suharto.
Meskipun Tuan akan menolak dengan berbagai dalih untuk bertindak dan mencegah terhadap “kejahtan nasional” yang telah berlangsung itu – dimana telah ratusan ribu orang tak berdaya telah dibantai- bagaimanapun saya juga bersikap tidak membenarkan bahkan mengutuk peristiwa itu. Bukankah telah menjadi kenyataan bahwa pemerintah Orde Baru yang Tuan pimpin memakai slogan demi “penumpasan terhadap PKI”? Ataukah Tuan amat kuatir kalau kekuasaan Soekarno bangkit kembali beserta pendukung- pendukungnya karena Tuan tahu pasti bahwa lebih dari 50 % Rakyat Indonesia itu masih setia pada Soekano? Hal ini pasti Tuan tidak lupa bukan ? Ataukah barangkali Tuan berpendapat bahwa peristiwa G 30 S itu sudah lampau dan harus dilupakan? Bagi saya hal itu bukan soal. Akan tetapi yang menjadi masalah: masih terlalu banyak hal-hal dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab dan bahkan sengaja disembunyikan walaupun begitu saya masih merasa beruntung dan bangga bahwa saya dalam peristiwa 1965 itu tahu dari dekat dan mendapat pelajaran yang bermanfaat. Bahwa fakta-fakta yang benar dalam sejarah itu kadang-kadang memang diputar balikkan oleh karena mereka yang berkuasa dengan maksud untuk kepentingan atau keuntungan tujuan politknya. Begitu juga dengan berita-berita dalam pers (koran-koran) telah dibuat demikian rupa oleh penguasa sebagai suatu Propaganda untuk kepentingan politik pemerintah.
Sebagai misal yang paling mudah kita ambil contoh peristiwa G 30 S. Peristiwa ini sebenamya trjadi pada tanggal l Oktober 1965 dinihari yang didukung oleh dewan revolusi dengan dipimpin oleh salah seorang perwira penanggung jawab pengawal istana Presiden Soekarno yaitu Letnan Kolonel Untung. Pengumuman dewan revolusi itu berbunyi sebagai berikut:
“Sekelompok (grup) Jenderal merencanakan untuk mengambil oper kekuasaan (coup) dari Pemerintah Presiden Soekarno dan beliau akan dibunuh. Mereka membentuk dewan Jenderal dengan tujuan untuk membentuk kekuasaan Militer. Rencana coup tersebut akan dilakukan pada HUT ABRI tanggal 5 Oktober 1965 yang akan datang. Untuk mencegah itu maka dewan revolusi mendahului mengambil langkah dengan menangkap 6 Jenderal diantaranya Jenderal A Yani,
Dalam hal ini Tuan temyata telah meyakinkan orang banyak (menfitnah) dengan melancarkan berita bahwa G 30 S itu dilakukan oleh PKI. Hal ini jelas tidak benar. Bukankah yang melakukan gerakan ini adalah orang-orang militer? Dan saya meragukan kalau mereka yang melakukan gerakan itu orang komunis.
Saya ingin bertanya kepada Tuan lalu siapakali yang berbuat menyebarkan isyu sehingga timbul situasi dimana masa dibakar dan digerakkan. dengan menuduh G 30 S itu didalangi oleh PKI ?
Menteri Pertahanan sendiri yaitu Jenderal Nasution sebagai salah seorang anggauta Dewan Jenderal yang menunrt rencana seharusnya juga ditangkap oleh gerakan G 30 S telah berkata pada upacara penguburan 6 Jenderal yang terbunuh itu pada HUT ABRI tanggai 5 Oktber 1965 sebagai berikut:
“Sampai hari ini pun HUT ABRI kita masih tetap penuh khitmat dan kebanggaan meskipun ditandai oleh peristiwa yang merupakan noda bagi kita ABRI. Yaitu bahwa telah terjadi suatu fitnah dan pengkhianatan serta kekejaman atas perwira-perwira tinggi kita. Walaupun bagitu saudara saudara kita yang menjadi korban itu adalah tetap merupakan pahlawan-pahlawan di hati kita Bangsa Indonesia. Yang pada akhirnya nanti kebenaran pasti akan menang meskipun kita telah diftnah oleh pengkhianat-pengkhinat int. Hal mana pada waktunya nanti kita akan memperhitungkannya.”
Dalam pidato Jenderal Nasution itu sama sekali tidak nampak ada kesan bahwa terbunuhnya 6 Jenderal itu telah didukung apalagi dilakukan oleh PKI. Bahkan sebaliknya dari kalimat-kalimat yg diucapkan oleh Jenderal Nasution itu jelas, bahwa peristiwa G 30S itu adalah akibat pertentangan yg ada di kalangan ABRI sendiri.
Tuan Suharto – dapatkah saya bertanya kepada Tuan, siapakan yang dimaksud dengan kata-kata Nasution “fitnah dan pengkhianat pengkhianat” itu dan apakah yang dimaksud dengan kalimat “kita akan memperhitungkan mereka”.
Sebenarnya yang penting diperhitungkan dalam peristiwa itu adaiah: siapa dan apa tujuan dari 50 orang “yang bersegam seperti pengawal Presiden Soekarno” itu. Dan ketika mereka menyerbu rumah dan kediaman Jenderal Nasution dengan senjata lengkap diketahui jelas oleh beliau bahwa mereka itu (penyerbu) adalah mereka yang dikenal sebagai orang-orang yang anti komunis. Justru karena mereka tidak kenal Jenderal itulah maka mereka menyangka Letnan Tendean sebagai Komandan Jaga dikira Jenderal Nasution dan terus menembaknya.
Dari fakta ini jelas menurut penilaian saya bahwa andaikata para penyerbu itu benar-benar pengawal Presidcn Soekarno pasti mereka akan tahu dan kenal betul pada Jenderal Nasution. Jadi tidak masuk akal pula kalau para penyerbu itu adalah orang-orang komunis yang mendapat tugas khusus tidak akan kenal pada Jenderal Nasution sehingga terjadi kegagalan itu.
Apakah Tuan tahu – bahwa banyak orang di Indonesia ini telah membicarakan bahwa timbul tanda tanya yang besar yang penuh prasangka kepada Tuan.
Yalah: mengapa Tuan sebagai komandan tertinggi pada Kostrad justru malah tidak diserbu untuk dibnnuh dengan dalih katanya”karena mereka (penyerbu) tidak tahu alamat Tuan”? Dan yang menarik perhatian lagi – justru Tuanlah yang pada tanggal l Oktober 1965 pada dinihari sudah memainkan peranan dan ambil oper pimpinan ABRI dengan memberikan perintah-perintah sehingga dengan mudah sekali Tuan telah bisa menguasai dan menumpas Dewan Revolusi dalam waktu yang singkat.
Setelah Presiden Soekarno kehilangan Jenderal A. Yani maka beliau terus mengangkat Tuan sebagai Menteri Hankam, sekaligus sebagai Pangab ABRI. Ini terjadi pada tanggai 14 Oktober 1965 dimana Presiden Soekarno pada pengangkatan Tuan itu telah berpesan sebagai berikut:
“Adalah mendesak sekali agar keamanan dan ketertibann harus segera dipulihkan agar terciptanya keadaan, dimana emosi dari golongan kiri maupun golongan kanan dapat ditenangkan dan dikendalikan, sehingga peristiwa G 30 S itu dapat diselesaikan sambil kita mempelajari segala sesuatunya yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Kejadian itu tidak akan menenangkan saya
sebelum segala sesuatunya jelas siapa yg bertanggung jawab entah dari pihak manapun, entah merah, hijau ataupun kuning”
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Tuan memikul tugas yang diberikan olch Presiden Soekarno untuk menghimpun segala data sekitar peristiwa G 30 S itu dan seharusnya Tuan segera memulai dengan penyelidikan dan pengusutan yang harus dilaporkan pada Presiden Soekarno. Akan tetapi Tuan ternyata tidak mentaati perintah-perintah itu bahkan Tuan telah memberikan tafsiran sendiri dan berkata:: “Sekarang saya sudah memperoleh kepercayaan dari Presiden Soekarno. Dan saya akan terus menumpas sisa-sisa kekuatan dari peristiwa tersebut ” Pernyataan Tuan jelas mempunyai arti tersendiri.
Sebenarnya Presiden Soekarno mengharapkan dan mempercayakan pada Tuan agar Tuan tetap setia dan loyal untuk melaksanakan perintah-perintahnya. Dengan tujuan selanjutnya akan diambil tindakan-tindakan hukum oleh Presiden Soekarno terhadap siapa yang bersalah tanpa pandang bulu – apakah PKI atau pihak Militer. Akan tetapi Tuan ternyata tidak memberikan laporan apa- apa pada Presiden Soekarno. Bahkan Tuan telah menggerakkan ABRI tanpa persetujuan Presiden bersama-sama dengan beberapa Jenderal antara lain Sarwo Edhie. Dan sejak inilah dimulai pengejaran dan pembunuhan terhadap mereka yang belum tentu bersalah yaitu kaum komunis. Yang kemudian telah terkenal luas di seluruh negeri bahwa TNI di bawah pimpinan Tuan telah melakukan penganiayaan, pembakaran, perarnpokan dan pembunuhan terhadap orang PKI. TNI telah melakukan teror yang berselubung di bawah pimpinan Tuan Rakyat yang hidup tenang dihasut/dibangkitkan untuk membenci dan mengamuk dengan dalih karena adanya kejadian terbunuhnya para Jenderal tersebut. Rakyat telah dihasut untuk anti PKI yang dikaitkan dengan negeri Cina yang dituduh memberikan dukungan terhadap G 30 S tersebut. Dan rakyat telah dibikin rupa sehingga tidak percaya bahwa “Dewan Revolusi” itu ada.
Selanjutnya Presiden Soekarno dipaksakan untuk menyatakan PKI dilarang dan di luar hukum karena dianggap partai itu terlibat pada G 30 S. Selama setahun lamanya mahasiswa-mahasiswa dan kelompok-kelompok yang tidak puas diorganisasi untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi terhadap Soekarno dengan tuntutan-tuntutan termaksud. Akan tetapi Presiden Soekarno menolak untuk membubarkan PKI sebab tidak ada data-data dan bukti-bukti yang menyakinkan yang sudah dilaporkan pada Presiden.
Yang menarik perhatain ialah, bahwa “pemimpin-pemimpin” demonstrasi tersebut yang katanya adalah “mahasiswa-mahasiswa” kenyataannya umumya kebanyakan lebih dari 30 tahun dan bahkan pengikut-pengikutnya demonstrasi iru memakai pakaian seragam para troops (tentara payung) yang masih baru-baru. Sehingga perlu dipertanyakan apakah benar mereka itu mahasiswa-mahasiswa betul ? Dan dari mana dana (keuangan) yang didapat untuk mengorganisasi demonstrasi-demnstrasi itu? Dan mengapa ternyata sekarang, bahwa mereka yang menjadi pemimpin-pemirnpin” demonstrasi itu kini menempati kedudukan-kedudukan penting dalam Pemerintahan Tuan ?
Semua kekacauan dan tidak tenang yang nampaknya dibikin (artificial) telah berlangsung se-lama satu tahun. Sementara itu telah dilancarkan Propaganda secara luas bahwa segala kesulitan dan keburukan diberbagai bidang itu ditimpakan pada PKI? Dan hal ini sampai hari inipun masih berlangsung walaupun peristiwa G 30 S itu telah 4 tahun berlalu.
Akan tetapi tentang hal ini sebenarnya dapat dimengerti sebab dalam politik yang berkuasa itu harus membuat Rakyat yang tidak tahu apa-apa itu sedemikian rupa sehingga rakyat merasa tidak tenteram dan aman dengan menimpakan kesalahan dan ancaman itu pada PKI. yang kemudian
diarahkan bahwa penguasa (pemerintah) itu adalah satu-satunya pelindung rakyat yang sebenarnya.
Kalau demikian halnya maka jelas bahwa Tuan telah mengabaikan perintah dan peringatan Presiden Soekarno pada sidang kabinet tanggal 2 Januari 1966 di Bogor yang meminta kepada Tuan agar situasi yang tidak menentu itu harus segera diakhiri dan dipulihkan sehingga rasa kesatuan dan persatuan bangsa lIndonesia dapat tercipta kembali. Bukan saling membunuh diantara sebangsa dan setanah air. Apabila pembunuhan besar-besaran itu berlangsung terus menerus maka perjuangan kita selama ini akan sia-sia, karena dalam hai ini Tuan ternyata telah menempuh jalan sendiri.
Saya tidak akan mengatakan bahwa G 30 S itu baik. Tapi saya tidak akan menyalahkan siapa-pun dan belum memberikan penilaian terhadap peristiwa itu.
Andaikata sebagai orang komunis atau simpatisan. maka yang pertama-tama menjadi pertanyaan dan yang tidak masuk akal apa perlunya dan apa keuntungannya PKI itu melibatkan diri dalam G 30 S itu. Padahal PKI itu merupakan partai yang besar? Selain itu kalau memang benar PKI itu adalah pengacau? Mengapa TNI tidak mengetahui atau mencegah bahkan yang membakar Markas CG PKI itu dibiarkan untuk selanjutnya diselidiki kalau-kalau bisa diperoleh data yang penting? Dan kalau benar PK1 itu terlibat apakah tidak lebih baik kalau para pemimpinnya yang bertanggung jawab diadili di depan umum untuk diketahui oleh seluruh Rakyat Indonesia? Dan mengapa Tentara yang menangkap DN Aidit itu justru telah membunuhnya dengan diam-diam baru kemudian melapor pada Presiden Soekarno. Dan apa pula sebabnya ketua I dan wakil ketua II PKI. yaitu Sdr. Nyoto dan Lukman juga diperlakukan yang sama dengan cara dibunuh dengan diam-diam dan tanpa proses hukum?
Kata orang bahwa NU itu mempunyai anggota sebanyak 6 juta. Tapi mengapa orang-orang di kalangan partai tersebut terlaiu takut kepada PKI. yang jumlah angggotanya lebih kecil hanya 3 juta orang ? Memang terlalu banyak soal-soal dan pertanyaan- pertanyaan yang tidak bisa terjawab bahkan sengaja ditutup disembunyikan.
Komunisme yang begitu Tuan takutkan itu sebenarnya akan tidak berdaya. apabila kesengsaraan dapat ditiadakan. Hakekat ideologi PKI di bawah pimpinan DN Aidit sebenarnya berdasarkan Pancasila (Soekarnoisme). Dan PKI telah memainkan peranan yang penting dalam kebangkitan dan kebangunan Bangsa Indonesia serta berjuang untuk sosialisme Indonesia.
Juga Nasution pimpinan MPRS. telah menyalahkan PKI karena telah melakukan aksi-aksi di bidang ekonomi. Dia juga menyalahkan PKI bahwa sebab terjadinya inflasi dewasa ini karena adanya hutang pada luar negeri sebanyak $ 2.5 milyard dan diantaranya berupa pembelian sen-jata-senjata seharga $ l milyard pada Uni Sovyet. Yang aneh dalam hal ini justru hutang-hutang pada Uni Sovyet ini bukankah Jenderal Nasution sendiri yang menandatangani kontrak-kontraknya ? Bahkan dia sendiri sudah 2 kali berkunjung ke Moskow. Apakah dengan begitu ucapan Jenderal Nasution itu dapat dipertanggung jawabkan ?
Tuan Suharto.
Saya ingin mengajukan banyak data-data yang Tuan sendiri berharap akan menjadikan data-dala itu sebagai bukti terlibatnya PKI. Tapi mengapa Tuan tidak membuka penyelidikan untuk menghimpun sesungguhnya ? Sudah tentu bukan data-data yang bersifat sepihak. Saya kira seluruh Negri dan rakyat Indonesia berhak untuk tahu dan mengerti yang sebenarnya. Sekali biar seluruh rakyat tahu juga bagaimana pendapat Tuan tentang peristiwa tersebut. Hal ini penting sekali karena telah diisukan bahwa bukan hanya PKI yang terlibat tapi juga Presiden Soekarno yang ikut dituduh merestui ” dewan revolusi.”
Selain itu juga dikatakan bahwa beberapa ribu orang PKI sebelum peristiwa G 30 S itu telah dipersiapkan dengan mengadakan latihan militer di daerah lapangan udara Halim. Dimana Presiden Soekarno pada tengah malam ketika peristiwa itu terjadi juga diamankan disitu. Dengan adanya berita-berita itu orang pada bertanya bagaimana hal ini bisa terjadi adnya suatu latihan militer yang diikuti oleh ribuan orang dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi ? Dan apa perlunya Presiden Soekarno itu mencari perlindungan di tempat yang tidak menguntungkan baginya?
Kenyataan berita-berita lain yang saya peroleh dari lapangan udara Halim adalah bahwa : peristiwa G 30 S itu adaiah cetusan dari suatu konflik dalam angkatan Darat. Oleh karena itu mereka menggunakan dalih”pribadi Soekarno itu dibawa kesana karena saya sebagai istri merasa khawatir akan keselamatan suami saya. Sampai di Halim saya malah jadi bingung karena ketika saya tanyakan pada sementara orang tenyata tak seorang pun yang tahu apa yang telah terjadi. Bahkan ketika itu kita tidak tahu bahwa Jenderal A.Yani telah terbunuh. Pokoknya ketika itu kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan. Hampir semuanya dalam kebingungan dan tidak tahu apa yang akan diperbuat. Tidak seorang pun tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi berikutnya.
Dalam mengenang peristiwa G 30 S itu kembali saya kira persoalannya akan lain andaikata Jenderal A.Yani masih hidup. Presiden Soekarno sendiri sangat sedih bagaimana sampai terjadi dia jadi korban dan bagaimana tempat tinggalnya sampai diketahui.
Selain hal diatas dengan ini saya ingin mengajukan pertanyaan yang penting kepada Tuan yang kiranya Tuan perlu perhatikan.Yalah tentang adanya ” dewan jenderal” yang Tuan telah tentang keras tidak mengetahuinya. Orang hanya tahu bahwa Jenderal A. Yani dan jenderal-jenderal lain yang terbunuh itu yang hanya mengetahui tentang persoalan “dewan jenderal1′ tersebut.
Akan tetapi 2 minggu sebelum peristiwa tersebut Presiden Soekarno bertanya kepada Jenderal A. Yani: bagaimna sebenamya duduk persoalan dewan jenderal tersebut. Yang dijawab oleh Jenderal A. Yani dengan tegas: Bapak Presiden serahkan kepada saya saja segala hal yang bersangkutan dengan anak buah saya tersebut” (maksudnya D.D.)
Dari dialog tersebut bagi saya timbul pertanyaan yang besar: bagaimana bisa terjadi Jenderal A. Yani itu ikut terbunuh? (jelas karena justru ada kontradiksi dalam ABRI sendiri=penyalin).
Jadi andai kata Tuan benar-benar obyektif maka pasti Tuan akan yakin bahwa Soekarno itu benar-benar tidak terlibat dan tidak tahu apa-apa tentang G 30 S tersebut.
Tuan Suharto.
Dengan mengetahui tentang hal-hal di atas maka lalu timbul pertanyaan saya: apakah kiranya jawaban Tuan ada seluruh rakyat Indonesia yang menduga bahwa dengan adanya tindakan cepat dari Tuan untuk membentuk kekuasaan “orde baru” dalam situasi yang kacau balau itu bukankah justru sebenarnya Tuanlah yang mempunyai semua rencana dan melaksanakan rencana “dewan jenderal”
Bukti-bukti kemudian menunjukkan bahwa dalam situasi yang kacau di Indonesia itu, Tuan telah membangun tentara yang berorientasi ke kanan, bergandengan tangan dengan sementara mahasiswa-mahasiswa (yang tidak puas) yang kemudian didorong dan bekerja sama dengan pimpinan-pimpinan partai islam serta politisi yang kanan untuk menghancurkan PKI. Yang selanjutnya terjadilah pembunuhan dan pertumpahan darah yang terencana. Bagaimana hal ini sampai terjadi bahwa sikap ABRI malah lebih dekat dengan Pentagon (markas Besar Departemen Pertahanan Amerika Serikat) dimana hampir semua kegiatan militer didunia dikendalikan dari sana? Apakah dalam situasi demikian itu orang bisa mengharapkan lain kecuali PKI itu menjadi hancur beranakan karenanya dan hubungan dengan RRC dengan sendirinya putus.
Presiden Soekarno telah berulang kali mengatakan bahwa tidak benar untuk hanya menyalahkan PKI. Beliau berkata: “Kita jangan melemparkan semua kesalahan itu kepada PKI saja. Tapi persoalannya terletak pada hal-hal lain.”
Saya sangat menghargai akan sikap Bung Karno yang begitu tegas itu meskipun beliau harus mengorbankan nasibnya sendiri. Beliau telah menolak untuk tunduk pada tekanan pihak ABRI untuk menyatakan PKI itu dilarang dan di luar hukum. Ideenya meskipun telah mengalami tekanan yang berat dari pihak ABRI. Andaikata Bung Karno itu tidak bersikap teguh sedemikian rupa, barangkali situasi dan posisi beliau tidak akan seburuk seperti sekarang, apalagi kalau beliau melakukan langkah-langkah kompromis. Tapi beliau tidak demikian dan tetap berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan.
Adam Malik, Menteri Luar Negri Republik Indonesia pada tahun 1966 telah berbicara di depan mahasiswa-mahasiswa di Tokyo dengan penuh kebohongan dan kebodohan. la menerangkan bahwa Soekarnolah yang bertanggung jawab atas terjadinya pembunuhan massal terhadap kaum komunis di Indonesia itu. Andaikata Soekarno tepat pada waktunya menentukan sikapnya terhadap PKI maka pembunuhan massal itu dapat dihindari.
Dengan pidatonya Adam Malik itu maka orang-orang yang tidak tahu tentang apa sebenarnya yang telah terjadi di Indonesia itu akan menanggapinya dengan benar. Sementara itu Bung Karno masih terus secara terbuka berbicara dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya tentang PKI itu. Hal ini pun telah ditafsirkan oleh sementara mereka itu, bahwa Presiden Soekarno telah merestui tindakan-tindakan lebih lanjut dari PKI yang ternyata kemudian berakibat terjadinya pembunuhan yang lebih kejam.
Seperti kata pepatah Latin”Cui Bono” yang artinya: yang penting bukan siapa yang benar akan tetapi siapa yang memperoleh keuntungan. Bukankah kemudian ternyata terbukti, bahwa Amerika Serikatlah yang memperoleh keuntungan dengan peristiwa G 30 S itu. Kini terbukti bahwa Jakarta telah dibanjiri oleh Investor-Investor asing (penanam modal) yaitu Amerika Serikat. Tentang inipun tidak menjadi soal andaikan dengan kegiatan-kegiatan ekonomi itu Indonesia dan rakyatnya yang pertama-tama memperoleh keuntungan. Bung Karno sejak semula sebenarnya selalu menolak untuk dibuatkan patung untuk dirinya. Baru setelah 22 tahun kemudian beliau mengabdi kepada Revolusi Indonesia dengan enggan beliau baru menerima untuk dituliskan autobiografinya (riwayat hidupnya).
Akan tetapi bagi Tuan Suharto sendiri segera setelah tidak lama memegang kekuasaan telah dibuatkan buku riwayat hidup Tuan dengan memakai judul “The Smiling General” (Jenderal yang suka senyum). Selain itu Tuan telah mengabadikan potret Tuan pada uang kertas Republik Indonesia yang sudah tentu agar Tuan cepat dikenal. Semua itu tentunya dengan advis (pertimbangan) para pembantu yang mengelilingi Tuan.
Tetapi sebaliknya – Tuan sama sekali telah meniadakan foto-foto Bung Karno pada kedutaan-kedutaan di Luar Negeri yang mempunyai kebiasaan memancangkan foto tokoh-tokoh dari bangsa di Dunia. Dalam hal ini tidak satu gambar Presiden Soekarno nampak
Tuan Suharto.
Tuan yang pernah mengkritik tentang kediktatoran Presiden Soekarno dan bahkan Tuan telah berjanji akan memulihkan demokrasi di Indonesia, ternyata sekarang Tuan telah berbuat melebih apa yang diperbuat oleh bung Kanio. Langkah pertama yang seharusnya Tuan lakukan untuk men demokratisir keadaan/ situasi antara lain tentang pemilihan Presiden. Temyata tentang halin inipun oleh Tuan selalu ditunda-tunda. Selain itu Tuan telah melarang untuk mencantumkan nama Bung Karno dalam buku-buku sejarah Indonesia yang harus diterbitkan. Sementara itu Tuan telah menahan Bung Karno dengan dalih untuk melindungi keselamatannya yang hakekatnya Tuan telah mengisolir beliau dari dunia luar. Tindakan Tuan yang tidak benar dan tidak adil inilah yang menyebabkan Bung Karno itu menjadi sakit. Beliau tidak mendapat perawatan sebagaimana mestinya. Dokter-dokter yang disediakan hanya proforma saja. Malah dokter gigi yang sangat diperlukan oleh beliau Tuan tidak berikannya. Bahkan pernah ada orang yang mengingatkannya agar Bung Karno itu jangan selalu diberi obat-obat injeksi sebab ada kemungkinan obat-obat in justru membahayakan kesehatannya.
Disamping itu saya juga berharap mudah-mudahan makanan yang dibuat dan dikirm oleh Putra/Putri Bung Soekarno itu benar-benar akan sampai ke tangan beliau selama beliau dalam isolas dalam tahanan benar-benar dalam keadaan sangat berat dalam hidupnya. Bahkan hak-hak ke manusiannya yang paling azasipun beliau tidak memperolehnya. Satu-satunya kesempatan yang diberikan kepada beliau selama beliau untuk meninggalkan isolasinya ialah ketika menghadir-perkawinan salah satu putrinya. Untuk itu mobil Bung Karno dikawal dengan ketat dengan kendaraan panser dan tidak boleh didekati oleh siapapun. Ketika beliau berdiri dan mendekati putrinya yang sedang menjadi temanten guna memberikan ciuman selamat dari seorang ayah pada anaknya inipun teiah dicegah oleh Polisi Militer yang mengawalnya dan beliau didorong secara kasar sehingga terjatuh duduk di atas sofa. Selain itu wajah beliau ditutupi dan dihalang-halangi agar tidak dapat diambil fotonya.
Andaikata saya yang mendapat perlakuan demikian mungkin pasti jiwa saya akan terpukul keras. Akan tetapi karena Bung Soekarno itu mempunyai jiwa yang besar dan mentalnya kuat perlakuan demikian itu dianggapnya sebagai pengorbanan yang harus dideritanya. Saya benar-benar sangat khawatir bahwa mungkin perlakuan alat-alat kekuasaan Tuan kepada Bung Karno itu kalau sedang sendirian lebih kasar karena di depan umurn pun alat-alat kekuasaan Tuan itu sampai berani berbuat demikian terhadap beliau. Tuan dapat saja menghancurkan jasmani Bung Karno tetapi Tuan tak akan pernah berhasil menghancurkan semangat dan jiwanya dalam membela keadilan dan kebenaran Jiwa dan semangat Bung Karno itu tak akan pernah mati!
Bung Karno telah berjasa membebaskan Indonesia dari penjajahan Belanda yang 350 tahun lamanya. Setelalh 13 tahun di penjara dan dibuang pemerintah Belanda dan memimpin perjuangan bersenjata untuk kemerdekaan Indonesia selama tahun 1945 sampai tahun 1949. Bung Karno itu pasti tahu apa yang harus diperbuat untuk mengisi kemerdekaan negerinya.
Tanpa kepemimpinan Bung Soekarno Tuan pasti tidak akan punya kedudukan sebagai Presiden seperti sekarang ini. Bung Soekarno itu telah meletakkan Undang-undang dasar yang demokratis untuk Indonesia dan telah mendirikan “Lingua Franca”.
Dibidang seni dan budaya beliau adalah promotor. Beliaulah orangnya yang telah meletakkan dasar untuk pembangunan Bangsa Indonesia. Apakah dengan jasa-jasanya itu tidakkah pantas beliau mendapatkan imbalan?!.
Andaikan Bung Soekarno tahu bahwa akan terjadi suatu pengkhianatan yang berakibat pembunuhan antar sesama Bangsa seperti peristiwa G 30 S itu pasti beliau tidak akan menyetujuinya
Dan sayapun tidak akan tinggal diam apabila sampai suami saya terlibat dalam tindakan kekerasan itu. Didepan mata saya Bung Karno itu sangat terpuji dengan sifat-sifatnya yang luhur! Saya sangat yakin bahwa kalau ada seseorang yang berbuat dengan cara sadar dan sistematis membunuh sesama manusia maka perbuatan itu adalah yang paling keji dan tak beradab. Saya kenal pepatah Jepang yang berbunyi “mencekek seseorang dengan kain sutra: Sehubungan dengan inilah Tuan Suharto. Tuan telah memperkenankan Bung Karno itu diperlakukan sedemikian rupa tersiksa baik lahir maupun batinnya.
Selama ini saya belum pernah mengeluarkan suara atau pernyataan apa-apa karena saya sadar bahwa Tuan sedang menghadapi persoalan-persoalan yang cukup gawat. Tapi kali ini saya harus berbicara secara terbuka kepada Tuan karena: pertama-pertama untuk menjaga keselarnatan dan nama baik Presiden Soekarno.
Ketika Presiden Soekarno menyerahkan wewenangnya kepada Tuan sebagai pejabat Presiden pada tanggal 7 Märet 1967 telah diberikan 3 syarat oleh beliau kepada Tuan. Salah satu diantaranya yalah: bahwa Tuan harus menjaga keselamatan keluarga Presiden Soekarno. Ternyata Tuan tidak memperhatikan permintaan beliau itu.
Sewaktu Tuan diwawancarai oleh wartawan Jepang tentang banyaknya korupsi di Indonesia dewasa ini. Tuan telah memberikan keterangan sebagai berikut: “Tentang masalah korupsi itu saya kira selamanya akan ada. Dan soal korupsi ini sebenarnya adalah sisa-sisa dari pemerintah Soekarno dulu. Sementara ini akan tetap demikian karena memang sedemikian sejak semula”
Kalau ucapan Tuan itu benar maka ucapan Tuan itu seakan-akan ucapan seorang yang üdak bertanggung jawab. Sikap Tuan itu adalah licik dan tidak jantan karena Tuan ternyata berlindung dibelakang nama Soekarno tentang apa yang sekarang terjadi. Ketika Tuan berbicara demikian didepan wartawan itu maka habislah segala rasa hormat saya pada Tuan sampai yang terakhirpun!
Memang selama masih disebut manusia biasanya siapa yang menang akan selalu menganggap dirinya benar dan sebaliknya mereka yang kalah pasti segala sesuatunya akan ditimpakan kepadanya
Apabila Tuan memang bersedia dan benar-benar mau menyelidiki serta memberantas korupsi sebagai seorang warga negara Indonesia saya sepenuhnya bersedia untuk menjadi saksi dan hadir pada setiap sidang-sidang pengadilan yang dilakukan secara terbuka. Sudah tentu pelaksanaanya harus sesuai dengan norma-norma dan hukum yang berlaku dan tidak ditutup-tutup serta tidak boleh (…?? Sambungan kalimat tidak jelas, oleh penyebar, Enje)
Bung Karno adalah Pahlawan Revolusi Indonesia. Dengan kerendahan hati ingin saya katakan bahwa beliau memang belum tentu bisa menjadi pemimpin diwaktu damai. Akan tetapi saya kira andaikata Bung Karno itu sewaktu menjadi mahasiswa sempat belajar di luar negeri beliau pasti akan lebih banyak mengenal masalah-masalah ekonomi yang akan melengkapi kepemimpinanya. Saya katakan demikian karena mungkin “Nasionalisasi” perusahaan – perusahaan asing di Indonesia yang telah dilakukanya itu sebagai suatu kekhilafan.
Selain itu Bung Karno itu sebenarnya tak pernah mengalami dan berada dalam kehidupan keluarga yang stabil. (Sebagai seorang pejuang pasti tidak mungkin ! penyalin). Andaikata beliau lebih lama mengenal kehidupan rumah-tangga yang harmonis seperti halnya kebanyakan orang mungkin beliau ini akan menjadi Presiden yang lebih baik dalam suatu pemerintahan yang terpimpin dan sosiaiis dinegeri ini. Sayangnya tidak memungkinkan sehingga beliau itu lebih cenderung pada sifat-sifat seorang kaisar. Dan beliau jadi korban dari kekuasaan yang dikuasainya sendirian secara-penuh.
Saya dapat mengatakan demikian kepada Tuan karena saya memang menganggap dan menghomati Soekarno itu sebagai orang besar. Akan tetapi kiranya Tuan tahu, bahwa saya tidak selalu menyetujui setiap pendapatnya.
Sebagai misal terhadap Pancasila yang beliau gali dan ciptakan itu, menunrt pendapat saya adalah sepenuhnya terlalu idealistis. Meskipun idealisme itu perlu akan tetapi dalam abad ke 21 ini tidak sepenuhnya idealisme itu dapat dilaksanakan dalam praktek.
Indonesia sebenarnya belum matang untuk dibawa pada sistem demokrasi ala barat. Oleh karena itulah maka Bung Karno memberikan konsep pemikiran: “Demokrasi Terpirnpin”. Lebih-lebih karena Rakyat Indonesia kebanyakan masih banyak yang buta humf dan taraf pendidikan maupun kemampuan ekonominya tidak sama. Dalam hal ini saya sependapat dengan Bung Karno.
Akan tetapi dipihak lain beliau itu telah meletakan dasar politik yang terlalu tinggi dan terlalu ideal. Karena itu dapatlah dimengerti kalau beliau mendapat kritik yang begitu keras terutama dengan cita-citanya untuk mengadakan perbaikan atas nasib seluruh rakyat Indonesia secara rnasal dan serentak. Beliau sebetulnya harus lebih realistis dengan ide-idenya itu. Pada saat-saat beliau mempunyai posisi yang cukup kuat sebagai penguasa tertinggi mestinya bliau akan mendapatkan dukungan dari pembantu-pembantunya atas ide-idenya tersebut. Akan tetapi kebanyakan dari Rakyat Indonesia itu hanya mengharapkan perubahan-perubahn dalam kebutuhan hidup sehari-harinya. Rakyat hanya menginginkan pemenuhan material yang nyata dan mereka sudah mulai jenuh dengan idealisme yang sering dipidatokan. Bung Karno itu mengemukakan bahwa dunia ini dikuasai oleh 2 blok kekuasaan adi kuasa. Dan ide beliau ingin membentuk kekuatan ke 3 sebagai imbangan. Dalam perjuangan mewujudkan cita-cita ini Indonesia dapat mempengaruhi dan menggerakkan dunia ke 3 seperti negara- negar di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini berarti bahwa Indonesia sekaligus harus bisa berdikari disegala bidang. Demikian yang dicita-citakan oleh Bung Karno.
Kalau kemerdekan penuh dapat diberikan kepada semua negeri dan bangsa-bangsa yang terjajah. Akan sikap politik Indonesia yang mengisolasi diri itu menyebabkan Indonesia menarik diri dari keanggotaan P.B.B, dari Bank Dunia tidak ikut dalam Olympiade di Tokyo. Hal ini terjadi dalam rangka ketegangan dan perjuangan pembebasan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.
Bung Karno berpendapat bahwa P.B.B telah bersikap tidak adil terhadap anggota-anggotanya. Indonesia yang belum pernah mendapat pinjaman dari Bank Dunia (Yang dikuasai oleh Amerika Serikat) telah menolak bantuan itu, kalau memakai syarat-syarat politik. Sebelum olympiade Tokyo dimulai Indonesia telah dituduh mempolitisir olah-raga seluruh bangsa-bangsa Asia-Afrika di Jakarta (Ganefo). Karena Indonesia lalu ditolak untuk ikut dalam Olympiade Tokyo itu. Dalam hal ini Bung Karno menolak tuduhan tersebut kerena ternyata pertandingan-pertandingan Olympiade selama inipun juga tidak mengikut sertakan semua negeri khususnya negara-negara komunis.
Tuan Suharto.
Apabila Tuan juga mencoba memikirkan tentang hari depan Indonesia pada hari-hari yang gawat itu tuan pun akan pasti mempunyai pendapat-pendapat lain mengenai ide-ide Bung Karno itu, yang mempunyai akibat tantangan angin taufan. Saya sendiripun ikut prihatin dengan hati yang berdebar-debar memperhatikan bahwa diplomasi Indonesia itu makin hari makin bergeser kekiri.
Memang tak ada orang yang sempurna! Begitu juga dengan diri Bung Karno menurut saya apa yang dikerjakan oleh beliau itu sama sekali tidak terselip untuk keuntungan diri sendiri tetapi sepenuhnya segala sesuatunya itu diabdikan pada Indonesia dan rakyatnya satu-satunya yang dicintainya dan hendak diabdinya. Dalam perjalanan hidupnya Bung Karno itu selalu berusaha untuk mencegah dan menghindari ada pertentangan dalam negeri yang bisa berakibat adanya korban-korban.
Dibanding dengan sikap Tuan dan pembantu-pembantu Tuan ternyata jauh berbeda dimana Tuan atau pembantu-pembantu Tuan telah memerintah Indonesia dengan perampokan dan pertum-pahan darah. Tuan dan pembantu-pembantu Tuan kelak akan dituntut dengan tuduhan telah melaksanakan pembunuhan yang disengaja terhadap ratusan ribu orang PKI yang tidak bersalah, dengan dalih “penumpasan PKI sampai ke akar-akarnya”
Siapa dapat percaya bahwa Tuan percaya kepada Tuhan ? Dalam hal ini Indonesia seharusnya tidak memerlukan Presiden dimana tangannya penuh berlumuran darah.
Tuan Suharto.
Bung Karno itu saya tahu benar-benar sangat mencintai Indonesia dengan Rakyatnya. Sebagai bukti bahwa meskipun ada lawannya yang berkali-kali hendak menteror beliau beliau pun masih mau memberikan pengampunan kalau yang bersangkutan itu mau mengakui kesalahannya. Dibanding dengan Bung Karno maka dibalik senyuman Tuan itu, Tuan mempunyai hati yang kejam. Tuan telah membiarkan ratusan ribu orang orang PKI dibantai. Kalau saya boleh bertanya : apakah Tuan tidak mampu dan tidak berkuasa untuk mencegah dan melindungi mereka agar tidak terjadi pertumpahan darah?
Mungkin Tuan kelupaan bahwa ketika peristiwa tahun 1965 itu berlangsung Bung Karno tidak juga Tuan suruh bunuh pula. Tuan pasti mudah amat untuk mempersalahkan dan menuduh PKI itu bersalah sehingga terjadinya tragedi tersebut. Kalau Tuan mau berbuat demikian maka pasti rakyat banyak yang menjadi pengagum dan menganut Bung Karno itu akan tetap hidup tenang. Tidak seperti sekarang dimana mereka tidak dapat berbuat apa-apa sementara mereka tidak tahu bagai-mana nasib pemimpinnya.
Semestinya Tuan tidak perlu memperlakukan Bung Karno itu sedemikian rupa, yang rnungkin karena perasaan kerdil Tuan. Sebenarnya Tuan akan lebih terhormat apabila Bung Karno itu sebagai Pemimpin Besar Revolusi dapat meninggal secara wajar bukan karena tersiksa dalam tahanan. Adalah suatu kerugian besar sekali bagi Indonesia bahwa Bung Karno itu telah mendapat perilakuan yang tidak wajar seperti itu setelah beliau mengabdi selama hidupnya untuk Negara Indonesia dan bangsanya.
Pada akhir surat terbuka ini saya akan tutup surat ini dengan mengenang kembali akan kecintaan dan kemesraan saya terhadap Bung Karno dengan seruan!!!
Paris tgl 16-4-1970
Tertanda
Ratna Sari Dewi Soekarno
.
"laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya se-ekor burung. Jika dua sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai kepuncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali." _________ dikutip dari buku soekarno [Sarinah, hlm. 17/18]
Monday, December 23, 2013
Saturday, December 14, 2013
Udah, Gitu Doang?
Terkadang, harus dimulai dari mana tulisan ini.. kali ini
tulisan random ya.. entah asyik dibaca ataupun tidak..
"Perempuan bagai belut, meski telah kau kenali segala
lekuk liku tubuhnya, sukmanya selalu luput dari genggaman." ~ WS Rendra.
Cerita pada satu objek yang sama. Selalu ada cerita untuk
dirinya. Kisah memang tak pernah berjalan seiring. Tapi selalu ada doa yang
tersirat di dalam iringan jalan masing-masing.
Kala itu sedang bercanda lewat pesawat. Ada sedikit siratan
makna di setiap kata-kata. Namun berita yang terdengar tentangnya adalah berita
yang tak pernah nyaman di telinga. Apa sebegitu pandainya berpura-pura? Apa munafik?
...
Seperti itulah wanita, apa yang dikatakan ws rendra
memanglah benar. Ibarat belut yang licin, selalu luput dari gennggaman. Banyak sekali
ungkapan kata-kata untuk wanita. Mulai dari ws rendra yang mengagumi wanita. Kartini
yang menjunjung tinggi wanita. Soekarno yang sangat menghargai wanita. Sukarno juga
mengatakan laki-laki dan perempuan ibarat kedua sayap seekor burung..
disimpulkan bahwa kedudukan wanita dan pria adalah sejajar.
Oke.. fokus..
Ketika kita berbicara di pesawat banyak sekali maksud yang
disembunyikan.. yaahhh seperti itulah cewek.. terlalu banyak kode.. kadang kita
menanggapinya biasa, dikira gak peka.. tp kita mengandai-andai atau meraba-raba
maksudnya, jika ketinggian pasti bilangnya ke ge er an.. maklum.. cewek..
mintanya dimengerti jika salah ngerti dikit aja udah illfeel.. jika kita cuek
dikira dingin..
Aduh,, lepas fokus lagi -_____-
Gini,, intinya kita di pesawat itu sedang “kode-kodean” diri
kita masing-masing. Pernah dia nembak, tapi gak saya terima.. yah, secara waktu
itu aku udah ada yang punya,, dan aku sayang banget.. di waktu itu aja dia
dateng. Dan datengnya dia pas waktu itu gak tepat sama sekali.. dan di lain
waktu aku putus, eh dia ada yang punya.. giliran mau aku tikung tuh, eh dianya
setia.. fak banget gak sih???
Dan terpaksa saya jalan dengan orang lain.. putus lagi.. ada
lagi.. putus lagi.. ada lagi.. sampe aku ketemu orang yang cocok,, udah
berjalan lama.. eh dianya putus, dan anehnya dateng lagi.. dan di saat itu dia
nembak.. dan nembaknya serius.. aku yakin.. kan g enak banget itu.. ngrusak
hubungan orang,, tp aku rela hubunganku dirusak,, asal dia itu jelas maunya..
apa ini yang namanya di PHP in??
Dan akhirnya aku putus,, eh sampe sekarang g ada sinyal
dateng lagi.. yang ada dia sinyal balikan sama mantannya.. duyuno wot itis?? Iya,,
bungcudzs beuudd.. (baca: bangsat banget- belajar alay)
Oke fine... sekarang masih menunggu kode-kode yang lain..
kalo ada kode ya bagus.. kalo g ada kode ya bungcudzs beudd..
Udah.. gitu doang..
Monday, November 25, 2013
Cultural belief
In the history of indonesia. Reog
is a kind of two-headed animals. Some people will be scared if you see the head
of the reog. But residents believe that the dance reog ponorogo will bring
blessing. Like to invite the rain, fertilize crops, and other goodness.
In bali. Barong also looks very
meneramkan for outsiders bali. However, bali barong is a hero who is able to
cast out evil spirits. Barong is the submission of the god vishnu to expel
natural disasters, social disaster, disaster public unrest.
Two examples of these cultural
beliefs are examples of cultural beliefs indonesia, western cultures also have
a lot of variety.
The aim of courses in the Culture
and Belief category is to develop an understanding of and appreciation for the
ways that social, political, religious, economic, and historical conditions
shape the production and reception of ideas and works of art, either within or
across cultural boundaries. Students in these courses examine how cultures and
beliefs affect the identities of individuals and communities. Courses in this
category draw connections between the material covered in the course and
cultural issues of current concern or interest.
Another example of cultural
beliefs, Asians/Pacific Islanders are a large ethnic group in the United
States. There are several important cultural beliefs among Asians and Pacific
Islanders that nurses should be aware of. The extended family has significant
influence, and the oldest male in the family is often the decision maker and
spokesperson. The interests and honor of the family are more important than
those of individual family members. Older family members are respected, and
their authority is often unquestioned. Among Asian cultures, maintaining
harmony is an important value; therefore, there is a strong emphasis on
avoiding conflict and direct confrontation. Due to respect for authority,
disagreement with the recommendations of health care professionals is avoided.
However, lack of disagreement does not indicate that the patient and family
agree with or will follow treatment recommendations. Among Chinese patients,
because the behavior of the individual reflects on the family, mental illness
or any behavior that indicates lack of self-control may produce shame and
guilt. As a result, Chinese patients may be reluctant to discuss symptoms of mental
illness or depression.
Some sub-populations of cultures,
such as those from India and Pakistan, are reluctant to accept a diagnosis of
severe emotional illness or mental retardation because it severely reduces the
chances of other members of the family getting married. In Vietnamese culture,
mystical beliefs explain physical and mental illness. Health is viewed as the
result of a harmonious balance between the poles of hot and cold that govern
bodily functions. Vietnamese don’t readily accept Western mental health
counseling and interventions, particularly when self-disclosure is expected.
However, it is possible to accept assistance if trust has been gained.
Russian immigrants frequently
view U.S. medical care with a degree of mistrust. The Russian experience with
medical practitioners has been an authoritarian relationship in which free
exchange of information and open discussion was not usual. As a result, many
Russian patients find it difficult to question a physician and to talk openly
about medical concerns. Patients expect a paternalistic approach-the competent
health care professional does not ask patients what they want to do, but tells
them what to do. This reliance on physician expertise undermines a patient’s
motivation to learn more about self-care and preventive health behaviors.
Although Hispanics share a strong
heritage that includes family and religion, each subgroup of the Hispanic
population has distinct cultural beliefs and customs. Older family members and
other relatives are respected and are often consulted on important matters
involving health and illness. Fatalistic views are shared by many Hispanic
patients who view illness as God’s will or divine punishment brought about by
previous or current sinful behavior. Hispanic patients may prefer to use home
remedies and may consult a folk healer, known as a curandero.
Many African-Americans
participate in a culture that centers on the importance of family and church.
There are extended kinship bonds with grandparents, aunts, uncles, cousins, or
individuals who are not biologically related but who play an important role in
the family system. Usually, a key family member is consulted for important
health-related decisions. The church is an important support system for many
African-Americans.
Cultural aspects common to Native
Americans usually include being oriented in the present and valuing
cooperation. Native Americans also place great value on family and spiritual
beliefs. They believe that a state of health exists when a person lives in
total harmony with nature. Illness is viewed not as an alteration in a person’s
physiological state, but as an imbalance between the ill person and natural or supernatural
forces. Native Americans may use a medicine man or woman, known as a shaman.
As can be seen, each ethnic group
brings its own perspectives and values to the health care system, and many
health care beliefs and health practices differ from those of the traditional
American health care culture. Unfortunately, the expectation of many health
care professionals has been that patients will conform to mainstream values.
Such expectations have frequently created barriers to care that have been compounded
by differences in language and education between patients and providers from
different backgrounds.
Cultural differences affect
patients’ attitudes about medical care and their ability to understand, manage,
and cope with the course of an illness, the meaning of a diagnosis, and the
consequences of medical treatment. Patients and their families bring culture
specific ideas and values related to concepts of health and illness, reporting
of symptoms, expectations for how health care will be delivered, and beliefs
concerning medication and treatments. In addition, culture specific values
influence patient roles and expectations, how much information about illness
and treatment is desired, how death and dying will be managed, bereavement
patterns, gender and family roles, and processes for decision making.
.
Monday, November 4, 2013
Pengabdian Pada Masyarakat
Pada umumnya pengabdian pada masyarakat adalah suatu
kewajiban mahasiswa sebagaimana tercantum dalam tri dharma perguruan tinggi.
Namun sering kita ketahui bahwa kegiatan yang dikampus saya disebut dengan KKM,
merupakan sebuah pengabdian pada masyarakat. Bagi saya KKM bukan merupakan
salah satu kewajiban kita atas tri dharma perguruan tunggi pengabdian pada
masyarakat.
Dengan analogi seperti berikut:
- Pengabdian pada masyarakat yang murni adalah gerakan dari hati nurani pribadi yang tidak membebani individu.
- Transkrip nilai dari KKM merupakan target pencapaian dari mahasiswa. Maka, mahasiswa belum tentu murni melakukan pengabdian pada masyarakat. Karena masih terikat dengan kewajiban kampus. Dan sudah dapat dipastikan, sebagian mahasiswa mau melakukan KKM karena mereka tertuntut untuk mengisi transkrip nilai.
- Mahasiswa yang memiliki inisiatif tinggi dalam menjalani kewajiban dalam pengabdian pada masyarakat adalah mahasiswa yang sadar akan tugas, pokok, dan fungsi dari mahasiswa itu sendiri.
Mahasiswa memiliki pola pikir yang berbeda. Pola pikir
mahasiswa terbentuk ketika SDM lingkungan mendukung pola perkembangan mahasiswa
itu sendiri. Lingkungan mahasiswa di kota besar sangatlah berbeda jauh dengan
lingkungan mahasiswa di kota yang sederhana. Di kota besar atmosfer persaingan
antar mahasiswa sangatlah ketat. Dibanding dengan atmosfer persaingan di kota
sederhana, mahasiswa di kota besar lebih memiliki kesempatan yang melimpah
untuk berproses di dalam maupun di luar kampus. Terkadang mahasiswa di kota
sederhana kurang dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas dan keadaan-keadaan
yang seharusnya mampu dimanfaatkan oleh seorang yang memiliki status mahasiswa.
Pengabdian pada masyarakat harusnya dilandasi dengan
keinginan murni dari diri sendiri tanpa latar belakang mendapat nilai, pujian
dan kepentingan-kepentingan di balik langkah pengabdian.
Pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk kegiatan yang
di tujukan kepada masyarakat agar dapat memperbaiki kehidupan dan pola pikir
yang lebih baik dalam bentuk material maupun non materil. Disamping itu
bertujuan membina dosen, juga membina mahasiswa agar mampu menguasai ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni serta berjiwa penuh pengabdian dan memiliki
rasa tanggung jawab yang besar terhadap masa depan bangsa dan negara dalam
rangka pelaksanaan Tri Darma Perguruan Tinggi.
Pengabdian kepada masyarakat merupakan pelaksanaan
pengamalan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni budaya langsung pada masyarakat
secara kelembagaan melalui metodologi ilmiah sebagai penyebaran Tri Dharma
Perguruan Tinggi serta tanggung jawab yang luhur dalam usaha mengembangkan
kemampuan masyarakat, sehingga dapat mempercepat laju pertumbuhan tercapainya
tujuan pembangunan nasional.
Tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan pengabdian
kepada masyarakat adalah sebagai berikut:
- Bertambahnya kecepatan proses peningkatan kemampuan sumber daya manusia sesuai dengan laju pertumbuhan pembangunan.
- Bertambahnya kecepatan upaya pengembangan masyarakat ke arah terbinanya masyarakat yang harmonis serta dinamis yang siap menempuh perubahan-perubahan menuju perbaikan dan kemajuan sesuai dengan nilai-nilai sosial budaya dan norma-norma dalam kehidupan masyarakat berkembang dalam kehidupan masyarakat yang berlaku.
- Bertambahnya kecepatan usaha pembinaan institusi dan profesi masyarakat sesuai dengan laju pertumbuhan proses modernisasi dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.
- Untuk memperoleh umpan balik dan masukan bagi fakultas dalam rangka meningkatkan relevansi pendidikan, diperlukan adanya ahli-ahli yang memiliki kemampuan secara interdisipliner dan multidisipliner.
..
Saturday, October 5, 2013
Proses Berharga
Berat rasanya berfikir tentang beberapa waktu lagi saya akan
mengakhiri gerak di dalam wadah ternyamanku. Pencapaian tertinggi yang saya
cita-citakan memang sudah tercapai. Syukur saya ucapkan. Dan merupakan suatu
kebanggaan tersendiri yang ada pada diriku.
Perjalanan awal ini memanglah terasa berat. Karena sangat
tidak saya duga, waktu luang saya hampir tertutup untuk keluarga, bahkan
teman-teman dekat lainnya. Agenda yang bertumpuk-tumpuk sangatlah membebaniku. Saya
takut jika suatu saat saya merasa terbiasa dengan keadaan ini, dan saya asyik
dalam menjalaninya, kemudian saya tidak dapat meninggalkan keadaan yang saya
cita-citakan ini.
Keadaan seiring berubah, dulu target yang sangat terlihat
jelas menjadi buram ketika ada anggota baru di lingkup ini terpampang di
nama-nama pengajar. Apakah masih ada kesempatan untukku untuk kesempatan besok?
Tuhan memang selalu berkehendak seenaknya sendiri. Karena dia maha kuasa, saya
rasa itu memang diciptakan untuk mencambukku. Agar saya menjadi person yang
jauh lebih baik, lebih berusaha, lebih bertekat. Terimakasih tuhan kau
memberikan kesempatan aku untuk menjadi person yang lebih tangguh.
Di wadah lain kemarin gerbong mengalami kegagalan yang
hebat. Sehingga tekanan moral sering sekali menyerangku dengan seangkatanku. Mental
juara memang tahu, dimana saya bisa menang dan saya tahu kapan saya bisa kalah.
Menyalahkan memang sudah menjadi tradisi regim. Bukan berusaha
memperbaiki, namun melepaskan tanggung jawab bersama yang merugikan
adik-adiknya. Maka ganjaran yang diberikannya adalah kekalahan yang
dipermainkan oleh senior-senior yang tak menjabat.
Tapi sebenarnya gerbong dapat menjadi juara, karena kita
berjuang tanpa kecurangan. Berbeda dengan gerbong yang menghalalkan semua cara
untuk menang. Mengambil suara yang seharusnya tidak memiiki hak suara. Namun,
itulah politik.
Apalagi pencampur tangan selalu hadir di sisi adik-adik. Jadi,
perang saya kemarin adalah perang saya secara pribadi dengan orang yang lebih
tua, sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi individu kami.
Yang saya akui adalah sisi moral dari calon saya. Saya dapat
saja memangkas apa yang menjadi hak lawan. Namun, semua itu dicegah oleh calon
yang memiiki nurani tinggi. Tapi apa daya? Itulah politik. Seburuk, seindah,
secantik apapun permainan. Semua akan sah dimata politik. Seperti lumpur yang
dihias sehingga menjadi bentuk seni. Namun itu tetaplah lumpur.
Semoga semua proses yang aku alami ini tidak akan pernah
sia-sia. Karena ini semua adalah bekalku untuk menghindari eksploitasi atau
pemanfaatan diri pribadi. MERDEKA !!!
.
Wednesday, September 11, 2013
IDEOLOGI DUNIA
Ideologi dunia
Banyak
sekali ideologi dunia yang sepertinya sulit untuk disebutkan satu persatu.
Seluruh kata yang berakhiran “isme” adalah sebuah ideologi. “Isme” dapat kita
terjemahkan sebagai kata “paham”. Komun-isme yang dapat kita artikan paham komunis.
Sosial+isme adalah paham sosial. Dan berbagai macam isme-isme lainnya.
Di
dunia ada dua kutub ideologi yang berseberangan. Antara ideologi
liberalisme-kapitalisme dan sosialisme-komunisme. Liberalisme adalah suatu
paham liberal, paham kebebasan, paham yang menjadikan pasar bebas itu ada.
Paham yang di gunakan PBB untuk menstabilkan ekonomi dunia. Sedangkan
kapitalisme adalah paham kapital. Paham yang dimana seorang pemilik harta/modal
terbanyak, maka dia yang berhak berkuasa dan yang paling berhak mendapat
keuntungan banyak. Sosialisme adalah paham sosial kemanusiaan. Paham yang
menempatkan rasa kemanuisiaan di tempat tertinggi. Kemanusiaan adalah harga
mati di atas ketuhanan. Jadi tidak heran jika warga negara sosialisme lebih
cenderung menjunjung tinggi nilai toleransinya daripada nilai-nilai agamanya.
Komunisme adalah paham yang biasa kita dengar sebagai sama-rasa sama-rata.
Komunisme cenderung bersifat kolektif kolegial. Kita bekerja keras dan kita
tidak bekerja keras, kita akan mendapat sebuah hasil yang sama.
Mengapa
dua kutub ideologi tersebut berseberangan? Pertama, kutub liberal-kapital
dibandingkan dengan kutub sosial-komunis adalah prinsip budayanya. Budaya yang
biasanya kita dengar di indonesia, atau sering kita sebut gotong royong itu
tidak berlaku bagi paham kapitalis maupun liberalis. Sebaliknya, paham sosialis
dan komunis sangat menjunjung tinggi gotong-royong, atau kolektif-kolegial
sebutan bagi dunia.
Kedua,
tentang sistem ekonomi. Sistem ekonomi kapitalisme sangatlah berseberangan
dengan sistem ekonomi komunisme.
Kapitalisme dapat dikatakan juga egois dalam sistem ekonomi dan dapat juga
dikatakan sebagai nilai kemandirian. Karena, kapitalisme dapat menimbun harta
dan meraup keuntungan banyak jika dia bekerja keras dan alternatif lain dia
memiliki modal yang banyak sehingga dapat membeli saham. Berbeda dengan sistem
ekonomi komunis. Sistem ekonomi komunis dapat kawan-kawan simpulkan sendiri
atas arti dari komunis itu sendiri, sama-rasa sama-rata. Sistem ekonomi yang
menjunjung tinggi gotong-royong/kolektif-kolegial. Maka dari itu seberapa
banyak modal yang ditanamkan, seberapa keras upaya untuk bekerja, hasil yang di
dapat adalah sama rata.
Sistem ekonomi dan budaya dua
kutub tersebut sangatlah jauh berseberangan. Sekarang jika kawan-kawan di
hadapkan oleh sebuah pilihan, kawan-kawan akan memilih paham yang mana?
Kapitalis? Dapat menimbun harta, memiliki konsep kemandirian, barang siapa yang
bekerja keras mendapatkan hasil yang berbeda. Dan yang menanamkan modal besar
juga mendapatkan hasil yang berbeda. Namun untuk gotong royong di segala
bidangnya dapat di katakan nol.
Atau kawan-kawan memilih paham
komunisme? Yang memiliki budaya toleransi dan kemanusiaan yang tinggi. Meskipun
kalian malas, bekerja secara tidak serius akan mendapatkan hasil yang sama.
Tidak dapat menimbun harta. Namun setiap kesulitan kawan-kawan di bidang apapun
akan di tolong. Begitulah perbedaan antara dua kutub ideologi tersebut.
Adakah kutub ketiga selain itu?
Ada. Dan saya katakan itu bukanlah kutub ketiga. Melainkan sebuah poros tengah
penyeberangan dari dua kutub ideologi tersebut. Ideologi tersebut adalah
ideologi kita sebagai bangsa indonesia. Pancasila adalah poros tengah daripada
dua kutub ideologi tersebut dan dunia menganggap pancasila adalah kutub
ideologi yang ketiga yang mampu mambawa perdamaian dunia. Azas
nasionalisme-kemanusiaan, sosial-demokrasi dan ketuhanan adalah suatu ideologi
yang paling sempurna. Dan akhirnya
banyak negara yang mengikuti azas tersebut dengan sebutan berbeda di tiap negara,
yakni bukan pancasila lagi. Di india ajaran tersebut dimulai oleh mahatma
gandhi. Di venezuela dimulai oleh hugo chavez. Dan mereka menggunakan ideologi
serupa atas dasar inspirasi dari presiden proklamator indonesia ir soekarno.
Pancasila adalah gabungan dari
paham dua kutub dunia tersebut. Mulai dari sistem ekonomi dan budaya. Sitem
ekonomi non-komunis dan non-kapitalis diterapkan oleh negara kita tercinta.
Kita tetap mandiri di dalam bidang ekonomi. Dalam artian, kita tetap harus
bekerja keras jika ingin mendapatkan sebuah hasil yang lebih. Namun, tidak
terlepas dari azas KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKAT INDONESIA yang sesuai
dengan sila kelima pancasila. Dan tidak ada perbedaan hak dan kewajiban di
antara si kaya dan si miskin. Saya ulas kembali perbedaan si kaya dan si miskin
sangat dirasakan sekali pada masyarakat yang tinggal di negara kapitalis dan
liberalis. Namun tidak di negara komunis. Jadi, indonesia memiliki sebuah
sistem yang tepat. Setiap individu berhak mandiri, menimbun harta, namun tidak
ada kesenjangan sosial di tiap-tiap individu.
Sistem budaya yang tertera di
dalam pancasila adalah sistem gotong-royong atau yang lebih dikenal mendunia
adalah kolektif-kolegial. Sistem budaya ini adalah sistem budaya yang tidak
jauh beda dari sistem budaya komunis-sosialis yang mengutamakan toleransi antar
sesama manusia yang berlandaskan ketuhanan.
Jadi patut kita bangga dengan
bangsa kita yang mampu melahirkan paham perdamaian dunia yaitu
nasionalisme-kemanusiaan, sosial demokrasi, dan ketuhanan sebagai landasan
utama. Dan terpenting lagi, bapak presiden pertama indonesia yang menjadi
pencetusnya. Sang proklamator ir soekarno yang sekaligus mengantarkan kita
menuju gerbang kemerdekaan.
MERDEKA !!!!!!!
.
..
Sunday, August 18, 2013
Cinderella, Indonesia, Cinta, Merdeka...
Indonesia pusaka...
Indonesia tercinta...
Indonesia merdeka... ... ... ... . . . . .
Malam tujuh
belas agustus tahun dua ribu tiga belas adalah momentum yang spesial bagi
kawan-kawan seperjuangan. Di tengah hari itupun juga merupakan sebuah hari yang
sangat mendebarkan jantung pribadi saya. Dan itu tidak akan saya ulas apa yang
telah mendebarkan jantung saya karena itu bersifat personal. Ditengah persiapan
menuju tempat eksekusi, kawan-kawanku terlihat bersemangat sekali. Semangat yang
berapi-api itu juga menyulut sumbu semangat saya untuk berjuang bersama.
Di
tempat eksekusi kita bergerak dengan membagikan selebaran dan bendera-bendera
kecil. Itu merupakan gerakan kecil dari kami yang semoga bisa memberikan sebuah
pengaruh besar terhadap pengendara yang melintas di daerah eksekusi kami. Selebaran
tersebut berisi tentang tulisan api semangat kemerdekaan. Layaknya seorang
veteran yang hendak berburu penjajah 68 tahun yang lalu, bahkan lebih dari 68
tahun yang lalu.
Nyanyian
yang seakan menjadi background orasi kita melengkapi suasana di waktu itu. Nyanyian
lagu aktivis, nyanyian lagu nasional yang kita pelajari waktu duduk di bangku
sekolah menjadi suara latar belakang luapan emosi kawan-kawan sekalian melalui
orasi kebangsaan. Dalam prosesi pembacaan sumpah mahasiswa, kawan-kawanku
bersemangat menyerukan kalimat, kata per kata, hingga suara tersebut terdengar
menyaingi klakson dan suara emisi kendaraan bermotor sekitar yang melintas.
Pada waktu
itu sungguh gelisah diriku yang memiliki beberapa beban pikiran; Fokus menjalani
aksi kecil dengan kawan-kawanku, deadline waktu tuntutan, memberikan
keseimbangan relasi, beban jabatan, dan perasaan baru yang muncul kembali
setelah beberapa waktu sempat menghilang. Manajemen waktu memanglah sebuah
keharusan bagi saya. Manajemen beban pikiran-lah yang belum saya pelajari
hingga saat ini. Dan saya kurang yakin dengan adanya suatu study tentang manajemen
sebuah beban pikiran. Apakah beban pikiran tersebut bisa didefinisi secara
real? Dan prioritas akan ada mulai dari; mana yang terpenting, terbanyak
memiliki resiko, terminim kemungkinan penyelesaiannya.
Fokus untuk
tupoksi diri pada aksi tersebut; setiap langkah demi langkah kawan-kawanku
sudah saya ikuti. Orasi kebangsaanpun juga saya luapkan dengan sepenuh hati. Saya
akui saya kurang terlatih untuk ber orasi dengan lantunan lagu dari
kawan-kawanku yang mungkin saya rasa memecah fokus kata-kata yang akan saya
utarakan. Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi saya yang diharapkan
kawan-kawanku untuk memegang mega-phone. Namun saya sudah sedikit puas dengan
tindakan individu saya. Namun saya kurang puas dengan takdir yang pada waktu
itu sedikit memberi sandungan pada diri ini. Sehingga terkesan sedikit lepas
fokus.
Deadline
waktu tuntutan juga turut membebani diri. Pikiran terpecah, sehingga di
sela-sela waktu peringatan tersebut, saya sering sekali membuka hand-phone yang
berisi BBM dari client untuk segera menuntaskan sebelum deadline. Sangat terasa
sekali seberapa berat beban yang harus saya pikul pada waktu itu.
Memberikan
keseimbangan relasi memang kegiatan yang saya lakukan di setiap waktu. Penjagaan
atau marking agar tidak overtaking sudah kendala biasa dan ada sedikit
toleransi yang dapat di maklumi. Walaupun kadang saya lakukan dengan cara tidak
seharusnya, tapi disitulah cara yang terbaik agar relasi dapat merapat ke arah
kita.
Beban karena
suatu jabatan juga mulai membayangi pada waktu itu. Waktu luang harus di
manfaatkan untuk mengatur langkah-langkah kedepan. Seperti yang dilakukan oleh
seorang tokoh di buku karangan machiavelli yang berjudul il principe, “di waktu
rehat seorang pemimpin tidak bisa hanya melakukan kegiatan yang tanpa beban,
bahkan seorang pemimpin tetap berpikir didalam tidur-tidurnya.” Di dalam
tekanan agenda yang harus saya lalui dengan langkah kaki saya, saya pun juga berpikir
dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan penghuni baru di
dunia mahasiswa. Untuk satu langkah kedepannya lagi saya juga sudah
mempersiapkan sebuah agenda dengan konsepsi yang sesuai secara teori konsep dan
penerapan secara teknis.
Dan juga
sebuah getaran yang kembali muncul. Sebuah percakapan yang membuat hati saya
menangis. Percakapan yang tidak dilakukan secara langsung. Percakapan yang
melalui perantara sebuah teknologi. Ungkapan yang sungguh menyayat hati bahkan
nadi saya. Sebuah pernyataan yang mungkin datang di waktu yang kurang tepat. Sungguh
saya sayangkan sekali, mengapa tuhan berkehendak seperti itu. Saya mengerti
akan kuasa tuhan yang melebihi makhluk-makhluknya. Tuhan memberikan cinta padaku. Dan kata tidak sulit
untuk saya lontarkan. Dan kata setuju tidak memungkinkan untuk saya ucapkan. Karena
keadaan-keadaan saya dan pertimbangan-pertimbangan saya adalah alasan utama. Tuhan
maha kuasa. “kau bisa berencana menikahi siapa. Tapi tak bisa kau rencanakan
cintamu untuk siapa.” Di sela-sela kebohongan ini saya ungkapkan sebuah hati
yang tak akan pernah tertutup untuk menerima cinta dari yang maha kuasa.
Di dalam
jeda setiap detik-detik luang. Gelisah selalu muncul untuk membebani pikiran
yang seharusnya tertuang di malam hari itu. Dan langkah kawan-kawanku sudah
jauh mendahului fokus pikiran saya. Di tempat tujuan lain pikiran saya tetap
terbagi, terbelah-belah. Kawan-kawanku memerankan drama yang indah. Namun saya
tidak berfikir di titik tersebut. Ada benak lain yang saya pikirkan. Tentu, beban
pikiran perasaan baru mempengaruhi perilaku saya pada malam itu. Sungguh tidak
terbayang percakapan sedikit memukul lembut.
Dan setelah
usai perjalanan juang kami, kamipun kembali ke tempat asal kami. Dan disanalah
perasaan tersebut semakin dalam menghantam. Di sela waktu untuk menenangkan
pikiran dan menyimpan tenaga untuk acara lanjutan. Percakapan semakin membuat
bibir ini tersenyum. Kami terlarut di dalam percakapan yang berjarak ini. Semakin
kami merasa nyaman, semakin kami terasa dekat, semakin kami mengerti satu sama
lain. Andai tuhan memberikan jeda waktu yang lebih panjang, maka takdir ini
masih ada kemungkinan untuk berputar berbalik arah.
Jelang waktu
istirahat selesai, perpindahan tempatku hanya memberikan sedikit perubahan
untuk percakapan jarak dekat. Di dalam lingkaran kekeluargaan ini semua
bercanda ria. Termasuk separuh dari diriku juga ikut larut di dalam seni ucap. Namun,
tidak terlepas tujuanku dari dua tangan yang memadu jempol. Di waktu yang cukup
larut itu yang memberikan hentakan cukup keras. Kata-kata yang sama sekali
tidak terpikirkan keluar dan tertangkap oleh inderaku. Jantung berdegup, darah
mengalir deras yang menimbulkan hangat pada tubuhku, semakin hangat, semakin
hangat, dan semakin hangat hingga membuatku berkeringat. Dunia seakan terhenti.
Jemari tak mampu bertindak ke arah mana jemari ini memberikan isyarat yang akan
muncul di layar matanya. Sulit untuk mengatakan tidak, namun apa yang saya
alami menjadi sebuah perasaan yang bergejolak hebat.
Ingin sekali
waktu itu saya katakan yang sebenarnya dan tanpa kiasan. Mengapa selalu tidak
ada waktu yang tepat untuk kita? Apakah belum? Ataukah tuhan merencanakan
tempat, waktu, dan keadaan yang sesuai?
Di detik-detik
kegiatan tersebut mungkin cinderella sudah terlelap. Sedikit memberikan sebuah
nafas untuk saya hirup pada waktu itu. Seddikit waktu untuk saya manfaatkan
ketika beban itu dapat saya tunda untuk waktu yang sangat panjang, yang
melewati pejaman mata. Dan saya berharap engkau menungguku untuk hadir di dalam
mimpimu ketika engkau sudah terlelap terlebih dahulu, dan ketika diriku pun
terlelap, saya yang menghampirimu di dalam mimpimu dan membawanya kedalam mimpi
kita.
Ceremonial
kuhadapi di sana yang di kelilingi oleh kawan-kawanku sedikit hikmat, karena
masih ada gangguan sedikit ketika ku berucap di depan kawan-kawanku. Rasa nasionalisme
dari kawan-kawan juga saya rasakan di dalam kegiatan kecil mengais asa di dalam
tumpukan debu kemerdekaan. Kegiatan kecil
kami semoga bermanfaat bagi kehidupan sekitar, setiap kegiatan kami mengandung
arti yang besar bagi diri kami. Meskipun sekitar menganggap kegiatan tersebut
bukanlah kegiatan yang ber arti.
Di dalam
tulisan ini tersirat arti, makna, harapan, mimpi, dan cita-cita. Perasaan apapun
itu tidak bisa dibohongi. Ucapan bisa membohongi insan lain. Namun, apa yang
diberikan oleh tuhan dan yang kita rasakan tidak merupakan suatu kebohongan. Saya
katakan te amo, salam hidup mahasiswa
dan dirgahayu indonesia merdeka...
Cinderella..
Indonesia...
Cinta...
Merdeka..
(.^_^)
Friday, August 9, 2013
Coretan 10 Agustus 2013
Agustus
adalah bulan spesial di negara Indonesia. Namun, alangkah ironisnya jika kita
keluar rumah di awal agustus dan masih ada rumah yang tidak mengibarkan bendera
pusaka. Lambang kecintaan kita terhadap bangsa dan negara memang tidak harus
diwujudkan hanya dengan memasang bendera tinggi-tinggi di depan rumah. Namun,
kita harus memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme akan negara kita
tercinta.
Dan untuk
memberikan sedikit konstribusi kepada kawan-kawan sekalian. Saya berikan
sedikit sumber terkait pidato bung karno pada momentum hari lahirnya pancasila.
Lahirnya
Pancasila 1 Juni 1945
________________________________________________
Paduka tuan
Ketua yang mulia!
Sesudah tiga
hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan
pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka tuan
Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya. Saya akan menepati
permintaan Paduka tuan Ketua yan mulia. Apakah permintan Paduka tuan Ketua yang
mulia? Paduka tuan Ketua yang mulia minta kepad sdang Dkuritsu Zyunbi Tyoosakai
untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nati akan saya
kemukakan di dalam pidato saya ini.
Maaf, beribu
maaf! Banyak anggota telah berpidato, dan dalam pidato mereka itu diutarakan
hal-hal yang sebenarnya bukan permintaan Paduka tuan Ketua yang Mulia, yaitu
bukan dasarnya Indonesia Merdeka. Menurut anggapan saya, yang diminta oleh
Paduka Tuan Ketua yang mulia ialah, dalam bahasa Belanda: “Philosofische
grondslag itulah pundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya, jiwa hasrat
yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung Indonesia Merdeka yang
kekal dan abadi. Hal ini nanti akan saya kemukakan: Paduka tuan Ketua yang mulia,
tetapi lebih dahulu izinkanlah saya membicarakan, memberitahukan kepada
tuan-tuan sekalian, apakah yang saya artikan dengan perkataan “merdeka”.
Merdeka buat
saya ialah “political independence”, politieke onafhankelijkheid. Apakah yang
dinamakan politieke onafhankelijkheid?
Tuan-tuan
sekalian! Dengan terus-terang saja saya berkata: Tatkala Dokuritsu Zyunbi
Tyoosakai akan bersidang, maka saya, di dalam hati saya banyak khawatir,
kalau-kalau banyak anggota yang saya katakan di dalam bahasa asing, maafkan
perkataan ini “zwaarwichtig” akan perkara yang kecil-kecil “Zwaarwichtig”
sampai kata orang Jawa “jelimet”. Jikalau sudah membicarakan hal yang
kecil-kecil sampai jelimet, barulah mereka berani menyatakan kemerdekaan.
Tuan-tuan
yang terhormat! Lihatlah di dalam sejarah dunia, lihatlah kepada perjalanan
dunia itu.
Banyak
sekali negara-negara yang merdeka, tetapi bandingkanlah kemerdekaan
negara-negara itu satu sama lain! Samakah isinya, samakah derajatnya
negara-negara yang merdeka itu? Jermania merdeka, Saudi Arabia merdeka, Iran
merdeka, Tiongkok merdeka, Nippon merdeka, Amerika merdeka, Inggris merdeka,
Rusia merdeka, Mesir merdeka. Namanya semuanya merdeka, tetapi bandingkanlah
isinya!
Alangkah
berbedanya isi itu! Jikalau kita berkata: Sebelum Negara merdeka, maka harus
lebih dahulu ini selesai, itu selesai, itu selesai, sampai jelimet! Maka saya
bertanya kepada tuan-tuan sekalian kenapa Saudi Arabia merdeka, padahal 80%
dari rakyatnya terdiri kaum Badui, yang sama sekali tidak mengerti hal ini atau
itu.
Bacalah buku
Amstrong yang menceritakan tentang Ibn Saud! Di situ ternyata bahwa tatkala Ibn
Saud mendirikan pemerintahan Saudi Arabia, rakyat Arabia sebagian besar belum
mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari otomobil Ibn Saud
dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Saudi Arabia itu! Toh Saudi
Arabia merdeka.
Lihatlah
pula jikalau tuan-tuan kehendaki contoh yang lebih hebat Sovyet Rusia! Pada
masa Lenin mendirikan Negara Sovyet adakah rakyat Sovyet sudah cerdas? Seratus
lima puluh milyun rakyat Rusia, adalah rakyat Musyik yang lebih daripada 80%
tidak dapat membaca dan menulis; bahkan dari buku-buku yang terkenal dari Leo
Tolstoi dan Fulop Miller, tuan-tuan mengetahui betapa keadaan rakyat Sovyet
Rusia pada waktu Lenin mendirikan negara Sovyet itu. Dan kita sekarang di sini
mau mendirikan negara Indonesia Merdeka. Terlalu banyak macam-macam soal kita
kemukakan!
Maaf, PT
Zimukyokutyoo! Berdirilah saya punya buku, kalau saya membaca tuan punya surat,
yang minta kepada kita supaya dirancangkan sampai jelimet hal ini dan itu
dahulu semuanya! Kalau benar semua hal ini harus diselesaikan lebih dulu,
sampai jelimet, maka saya tidak akan mengalami Indonesia Merdeka, tuan tidak
akan mengalami Indonesia Merdeka, kita semuanya tidak akan mengalami Indonesia
merdeka, sampai di lobang kubur! (tepuk tangan riuh)
Saudara-saudara!
Apakah yang dinamakan merdeka? Di dalam tahun 33 saya telah menulis satu
risalah. Risalah yang bernama “Mencapai Indonesia Merdeka”. Maka di dalam
risalah tahun 33 itu, telah saya katakan, bahwa kemerdekaan, politike
onafhankelijkheid, political independence, tak lain dan tak bukan, ialah suatu
jembatan, satu jembatan emas. Saya katakan di dalam kitab itu, bahwa di seberangnya
jembatan itulah kita sempurnakan kita punya masyarakat.
Ibn Saud
mengadakan satu negara di dalam satu malam, in one night only! kata Amstrong di
dalam kitabnya. Ibn Saud mendirkan Saudi Arabia Merdeka di satu malam sesudah
ia masuk kota Riyad dengan 6 orang! Sesudah “jembatan” itu diletakkan oleh Ibn
Saud, maka di seberang jembatan, artinya kemudian daripada itu, Ibn Saud
barulah memperbaiki masyarakat Saudi Arabia. Orang yang tidak dapat membaca
diwajibkan belajar membaca, orang yang tadinya bergelandangan sebagai nomade,
yaitu orang Badui, diberi pelajaran bercocok-tanam. Nomade diubah oleh Ibn Saud
menjadi kaum tani, semuanya di seberang jembatang.
Adakah Lenin
ketika dia mendirikan negara Sovyet Rusia Merdeka, telah mempunyai
Djnepprprostoff, dan yang maha besar di sungai Djeppr? Apa ia telah mempunya
radio-station, yan menyundul ke angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta-kereta
api cukup, untuk meliputi seluruh negara Rusia? Apakah tiap-tiap orang Rusia
pada waktu Lenin mendirikan Sovyet Rusia Merdeka telah dapat membaca dan
menulis?
Tidak,
tuan-tuan yang terhormat! Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin
itulah, Lenin baru mengadakan radio-station, baru mengadakan sekolahan, baru
mengadakan Greche, baru mengadakan Djnepprprostoff! Maka oleh karena itu saya
minta kepada tuan-tuan sekalian, janganlah tuan-tuan gentar di dalam hati,
janganlah mengingat bahwa ini dan itu lebih dulu harus selesai dengan jelimet,
dan kalau sudah selesai, baru kita dapat merdeka. Alangkah berlainannya tuan-tuan
punya semangat, jikalau tuan-tuan demikian, dengan semangat pemuda-pemuda kita
yang 2 milyun banyaknya. Dua milyun pemuda ini menyampaikan seruan pada saya, 2
milyun pemuda itu semua berhasrat Indonesia Merdeka Sekarang!!! (Tepuk tangan
riuh)….
Saudara-saudara,
kenapa kita sebagai pemimpin rakyat, yang mengetahui sejarah, menjadi
zwaarwichtig, menjadi gentar, padahl semboyan Indonesia Merdeka bukan sekarang
saja kita siarkan? Berpuluh-puluh tahun yang lalu, kita telah menyiarkan
semboyan Indonesia Merdeka, bahkan sejak tahun 1932 dengan nyata-nyata kita
mempunyai semboyan “INDONESIA MERDEKA SEKARANG”. Bahkan 3 kali sekarang, yaitu
Indonesia Merdeka Sekarang, sekarang, sekarang! (Tepuk tangan riuh)….
Dan sekarang
kita menghadapi kesempatan untuk menyusun Indonesia Merdeka, kok lantas kita
zwaarwichtig dan gentar-hati! Saudara-saudara, saya peringatkan sekali lagi,
Indonesia Merdeka, political Independence, politieke onafhankelijkheid, tidak
lain dan tidak bukan ialah satu jembatan! Jangan gentar! Jikalau umpamanya kita
pada saat sekarang ini diberikan kesempatan oleh Dai Nippon untuk merdeka, maka
dengan mudah Gunseikan diganti dengan orang yang bernama Tjondro Asmoro, atau
Soomubutyoo diganti denga orang yang bernama Abdul Halim. Jikalau umpamanya
Butyoo-Butyoo diganti dengan orang-orang Indonesia, pada sekarang ini,
sebenarnya kita telah mendapat political independence, politieke
onafhankelijkheid, in one night, di dalam satu malam!
Saudara-saudara,
pemuda-pemuda yang 2 milyun, semuanya bersemboyan: Indonesia Merdeka, sekarang!
Jikalau umpamanya Balatentara Dai Nippon sekarang menyerahkan urusan negara
kepada saudara-saudara, apakah saudara-saudara akan menolak, serta berkata
mangke rumiyin, tunggu dulu, minta ini dan itu selesai dulu, baru kita berani
menerima urusan negara Indonesia Mereka? (Seruan audiens: Tidak! Tidak!)
Saudara-saudara,
kalau umpamanya pada saat sekarang ini Balantentara Dai Nippon menyerahkan
urusan negara kepada kita, maka satu menit pun kita tidak akan menolak,
sekarang pun kita menerima urusan itu, sekarang pun kita mulai dengan negara
Indonesia yang Merdeka! (Tepuk tangan audiens menggemparkan)
Saudara-saudara,
tadi saya berkata, ada perbeaan antara Sovyet Rusia, Saudi Arabia, Inggris,
Amerika dan lain-lain tentang isinya: tetapi ada satu yang sama, yaitu rakyat
Saudi Arabia sanggup mempertahankan negaranya. Musyik-musyik di Rusia sanggup
mempertahankan negaranya. Rakyat Amerika sanggup mempertahankan negaranya.
Rakyat Inggris sanggup mempertahankan negaranya. Inilah yang menjadi
minimum-eis. Artinya, kalau ada kecakapan yang lain, tentu lebih baik, tetapi
manakala sesuatu bangsa telah sanggup mempertahankan negaranya dengan darahnya
sendiri, dengan dagingnya sendiri, pada saat itu bangsa itu telah masak untuk
kemerdekaan. Kalau bangsa kita, Indonesia, walaupun dengan bambu runcing,
saudara-saudara, semua siap-sedia mati, mempertahankan tanah air kita
Indonesia, pada saat itu bangsa Indonesia adalah siap-sedia, masak untuk
Merdeka. (Tepuk tangan riuh)
Cobalah
pikirkan hal ini dengan memperbandingkannya dengan manusia. Manusia pun
demikian, saudara-saudara! Ibaratnya, kemerdekaan saya bandingkan dengan
perkawinan. Ada yang berani kawin, lekas berani kawin, ada yang takut kawin.
Ada yang berkata Ah, saya belum berani kawin, tunggu dulu gaji f500. Kalau saya
sudah mempunyai rumah gedung, sudah ada permadani, sudah ada lampu listrik,
sudah mempunyai tempat tidur yang mentul-mentul, sudah mempunyai meja kursi,
yang selengkap-lengkapnya, sudah mempunyai sendok garpu perak satu set, sudah
mempunyai ini dan itu, bahkan sudah mempunyai kinder-uitzet, barulah saya
berani kawin.
Ada orang
lain yang berkata: saya sudah berani kawin kalau saya sudah mempunyai meja
satu, kursi empat, yaitu “meja makan”, lantas satu sitje, lantas satu tempat
tidur.
Ada orang
yang lebih berani lagi dari itu, yaitu saudara-saudara Marhaen! Kalau dia sudah
mempunyai gubug saja dengan satu tikar, dengan satu periuk: dia kawin. Marhaen
dengan satu tikar, satu gubug: kawin. Sang klerk dengan satu meja, empat kursi,
satu zitje, satu tempat tidur: kawin.
Sang Ndoro
yang mempunyai rumah gedung, electrische kookplaat, tempat tidur, uang
bertimbun-timbun: kawin. Belum tentu mana yang lebih gelukkig, belum tentu mana
yang lebih bahagia, Sang Ndoro dengan tempat-tidurnya yang mentul-mentul, atau
Sarinem dn Samiun yang hanya mempunyai satu tikar dan satu periuk,
saudara-saudara! (tepuk tangan, dan tertawa).
Tekad
hatinya yang perlu, tekad hatinya Samiun kawin dengan satu tikar dan satu
periuk, dan hati Sang Ndoro yang baru berani kawin kalau sudah mempunyai
gerozilver satu kaset plus kinderuitzet, buat 3 tahun lamany! (tertawa)
Saudara-saudara,
soalnya adalah demikian: kita ini berani merdeka atau tidak? Inilah,
saudara-saudara sekalian. Paduka tuan Ketua yang mulia, ukuran saya yang
terlebih dulu saya kemukakan sebelum saya bicarakan hal-hal yang mengenai
dasarnya satu negara yang merdeka. Saya mendengar uraian PT Soetardjo beberapa
hari yang lalu, tatkala menjawab apakah yang dinamakan merdeka, beliau mengatakan:
kalau tiap-tiap orang di dalam hatinya telah merdeka, itulah kemerdekan
Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 milyun ini lebih dulu
harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political
independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia
merdeka! (tepuk tangan riuh)
Di dalam
Indonesia Merdeka itulah kita memerdekakan rakyat kita! Di dalam Indonesia
Merdeka itulah kita memerdekakan hatinya bangsa kita! Di dalam Saudi Arabia
Merdeka, Ibn Saud memerdekakan rakyat Arabia satu persatu. Di dalam Sovyet
Rusia Merdeka Stalin memerdekakan hati bangsa Sovyet Rusia satu persatu.
Saudara-saudara!
Sebagai juga salah seorang pembicara berkata: Kita bangsa Indonesia tidak sehat
badan, banyak penyakit malaria, banyak disentri, banyak penyakit hongerudeem,
banyak ini banyak itu, “Sehatkan dulu bangsa kita, baru kemudian merdeka.”
Saya
berkata, kalau ini pun harus diselesaikan lebih dulu, 20 tahun lagi kita belum
merdeka. Di dalam Indonesia Merdeka itulah kita menyehatkan rakyat kita,
walaupun misalnya tidak dengan kinine, tetapi kita kerahkan segenap masyarakat
kita untuk menghilangkan penyakit malaria dengan menanam ketepeng kerbau. Di
dalam Indonesia Merdeka kita melatih pemuda kita agar supaya menjadi kuat, di
dalam Indonesia Merdeka kita menyehatkan rakyat sebaik-baiknya. Inilah maksud
saya dengan perkataan “jembatan”. Di seberang jembatan, jembatan emas, inilah
baru kita leluasa menyusun masyarakat Indonesia Merdeka yang gagah, kuat,
sehat, kekal, dan abadi.
Tuan-tuan
sekalian! Kita sekarang menghadapi satu saat yang maha penting. Tidakkah kita
mengetahui, sebagaimana telah diutarakan oleh berpuluh-puluh pembicara, bahwa
sebenarnya internasionaalrecht, hukum internasional, menggampangkan pekerjaan
kita? Untuk menyusun, mengadakan, mengakui satu negara yang merdeka, tidak
diadakan syarat yang neko-neko, yang menjelimet, tidak! Syaratnya sekedar bumi,
rakyat, pemerintah yang teguh! Ini sudah cukup untuk internasionaalrecht.
Cukup, saudara-saudara. Asal ada buminya, ada rakyatnya, ada pemerintahan,
kemudian diakui oleh salah satu negara yang lain, yang merdeka, inilah yang
sudah bernama: Merdeka. Tidak peduli rakyat dapat baca atau tidak, tidak
perduli rakyat hebat ekonominya atau tidak, tidak perduli rakyat bodoh atau
pintar, asal menurut hukum internasional mempunyai syarat-syarat suatu negara
merdeka, yaitu ada rakyatnya, ada buminya dan ada pemerintahannya, sudahlah ia
merdeka.
Janganlah
kita gentar, zwaarwichtig, lantas mau menyelesaikan lebih dulu 1001 soal yang
bukan-bukan! Sekali lagi saya bertanya: Mau merdeka atau tidak? Mau merdeka
atau tidak? (Hadirin serempak menjawab: Mauuu!)
Saudara-saudara! Sesudah saya bicarakan tentang hal
“merdeka”, maka sekarang saya bicarakan tentang hal “dasar”.
Paduka Tuan Ketua yang mulia! Saya mengerti apakah
yang Paduka Tuan Ketua kehendaki! Paduka Tuan Ketua minta dasar, minta philosofische
grondslag, atau – jikalau kita boleh memakai perkataan yang muluk-muluk –
Paduka Tuan Ketua yang mulia meminta suatu Weltanschauung (pandangan
hidup, dalam bahasa Jerman-Ed.), di atas mana kita mendirikan negara Indonesia
itu.
Kita melihat dalam dunia ini, bahwa banyak
negeri-negeri yang merdeka, dan banyak di antara negeri-negeri yang merdeka itu
berdiri di atas suatu Weltanschauung. Hitler mendirikan Jermania di atas
national sozialistische Weltanschauung – filsafat nasional-sosialisme
telah menjadi dasar negara Jermania yang didirikan oleh Adolf Hitler itu. Lenin
mendirikan negara Sovyet di atas satu Weltanschauung, yaitu Marxistische,
Historisch-Materialistische Weltanschauung. Nippon mendirikan negara Dai
Nippon di atas satu Weltanschauung, yaitu yang dinamakan Tenno Koodoo
Seishin. Di atas Tenno Koodoo Seishin inilah negara Dai Nippon
didirikan. Saudi Arabia, Ibn Saud, mendirikan negara Arabia di atas suatu Weltanschauung
– bahkan di atas satu dasar agama – yaitu Islam. Demikian itulah yang diminta
oleh Paduka Ketua yang mulia: Apakah Weltanschauung kita, jikalau kita
hendak mendirikan Indonesia yang merdeka?
Tuan-tuan sekalian, Weltanschauung ini sudah
lama harus kita bulatkan di dalam hati kita dan di dalam pikiran kita, sebelum
Indonesia Merdeka datang. Idealis-idealis di seluruh dunia bekerja mati-matian
untuk mengadakan bermacam-macam Weltanschauung, bekerja mati-matian
untuk me-realiteit-kan Weltanschauung mereka itu. Maka oleh
karena itu, sebenarnya tidak benar perkataan anggota yang terhormat Abikoesno,
bila beliau berkata, bahwa banyak sekali negara-negara merdeka didirikan dengan
isi seadanya saja, menurut keadaan. Tidak! Sebab misalnya, walaupun menurut
perkataan John Reed, “Sovyet-Rusia didirikan dalam 10 hari oleh Lenin cs.” –
Reed di dalam kitabnya Ten days that shook the world, Sepuluh hari yang
menggoncangkan dunia… walaupun Lenin mendirikan Rusia dalam 10 hari, tetapi Weltanschauung-nya
telah tersedia berpuluh-puluh tahun. Terlebih dulu telah tersedia Weltanschauung-nya,
dan di dalam 10 hari itu hanya sekedar direbut kekuasaan, dan ditempatkan
negara baru itu di atas Weltanschauung yang sudah ada. Dari 1895 Weltanschauung
itu telah disusun. Bahkan dalam revolusi 1905, Weltanschauung itu
“dicobakan”, di-generale-repetitie-kan.
Lenin di dalam revolusi tahun 1905 telah mengerjakan
apa yang dikatakan oleh beliau sendiri generale-repetitie dari revolusi tahun 1917.
Sudah lama sebelum tahun 1917, Weltanschauung itu disedia-sediakan,
bahkan diikhtiar-ikhtiarkan. Kemudan, hanya dalam 10 hari, sebagai dikatakan
oleh John Reed… hanya dalam 10 hari itulah didirikan negara baru, direbut
kekuasaan, ditaruh kekuasaan itu di atas Weltanschauung yang telah
berpuluh-puluh tahun umurnya itu. Tidakkah pula Hitler demikian?
Di dalam tahun 1933 Hitler menaiki singgasana
kekuasaan, mendirikan negara Jermania di atas National-sozialistische
Weltanschauung. Tetapi kapankah Hitler mulai menyediakan dia punya
Weltanschauung itu? Bukan di dalam tahun 1933, tetapi di dalam tahun 1921 dan
1922 beliau telah bekerja, kemudian mengikhtiarkan pula, agar supaya Naziisme
ini – Weltanschauung ini – dapat menjelma dengan dia punya Munchener Putsch,
tetapi gagal. Di dalam 1933 barulah datang saatnya beliau dapat merebut
kekuasaan dan negara diletakkan oleh beliau di atas dasar Weltanschauung
yang telah dipropagandakan berpuluh-puluh tahun itu. Maka demikian pula, jika
kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka, Paduka Tuan Ketua, timbullah
pertanyaan: Apakah Weltanschauung kita, untuk mendirikan negara
Indonesia Merdeka di atasnya? Apakah nasional-sosialisme? Apakah historisch-materialisme?
Apakah San Min Chu I, sebagai dikatakan oleh Doktor Sun Yat Sen?
Di dalam tahun 1912 Sun Yat Sen mendirikan negara
Tiongkok merdeka, tetapi Weltanschauung-nya telah dalam tahun 1885 –
kalau saya tidak salah – dipikirkan, dirancangkan. Di dalam buku The Three
People’s Principles, San Min Chu I – Mintsu, Minchuan, Min Sheng:
Nasionalisme, demokrasi, sosialisme – telah digambarkan oleh Dr. Sun Yat Sen Weltanschauung
itu, tetapi baru dalam tahun 1912 beliau mendirikan negara baru di atas Weltanschauung
San Min Chu I itu, yang telah disediakan terdahulu berpuluh-puluh tahun.
Kita hendak mendirikan negara Indonesia Merdeka di
atas Weltanschauung apa? Nasional-sosialisme-kah? Marxisme-kah? San
Min Chu I-kah, atau Weltanschauung apakah?
Saudara-saudara sekalian, kita telah bersidang tiga
hari lamanya, banyak pikiran telah dikemukakan – macam-macam – tetapi alangkah
benarnya perkataan dr. Soekiman, perkataan Ki Bagoes Hadi-Koesoemo, bahwa kita
harus mencari persetujuan, mencari persetujuan paham. Kita bersama-sama
mencarai persatuan philosofische grondslag, mencari satu
Weltanschauung yang kita semua setuju. Saya katakan lagi “setuju”! Yang
Saudara yamin setujui, yang Ki Bagoes setujui, yang Ki Hadjar setujui, yang
Saudara Sanoesi setujui, yang Saudara Abikoesno setujui, yang Saudara Liem Koen
Hian setujui, pendeknya kita semua mencari satu modus. Tuan Yamin, ini bukan
kompromis, tetapi kita bersama-sama mencari satu hal yang kita bersama-sama
setujui. Apakah itu?
Pertama-tama, Saudara-saudara, saya bertanya: Apakah
kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu
golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia
Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu orang, untuk memberi
kekuasaan kepada satu golongan yang kaya, untuk memberi kekuasaan pada satu
golongan bangsawan?
Apakah maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik
Saudara-saudara yang bernama kaum Kebangsaan yang di sini, maupun
Saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan
negara yang demikian itulah yang kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan
suatu negara “semua buat semua”. Inilah salah satu dasar pikiran yang nanti
akan saya kupas lagi. Maka, yang selalu mendengung di dalam saya punya jiwa,
bukan saja di dalam beberapa hari di dalam sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai
ini, akan tetapi sejak tahun 1918… ialah: Dasar pertama, yang baik dijadikan
dasar buat negara Indonesia, ialah dasar Kebangsaan. Kita mendirikan satu
Negara Kebangsaan Indonesia.
Saya minta, Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo dan
Saudara-saudara Islam lain, maafkanlah saya memakai perkataan “kebangsaan” ini!
Saya pun orang Islam. Tetapi saya minta kepada Saudara-saudara, janganlah
Saudara-saudara salah paham jikalau saya katakan bahwa dasar pertama buat
Indonesia ialah dasar kebangsaan. Itu bukan berarti kebangsaan dalam arti yang
sempit, tetapi saya menghendaki satu nationale staat (negara nasional,
dalam bahasa Belanda-Ed.), seperti yang saya katakan dalam rapat di Taman Raden
Saleh beberapa hari yang lalu. Satu Nationale Staat Indonesia bukan
berarti staat yang sempit. Sebagai Saudara Ki Bagoes Hadikoesoemo
katakan kemarin, maka Tuan adalah orang bangsa Indonesia, bapak Tuan pun adalah
orang Indonesia, nenek moyang Tuan pun bangsa Indonesia. Di atas satu
kebangsaan Indonesia, dalam arti yang dimaksudkan oleh Saudara Ki Bagoes
Hadikoesoemo itulah, kita dasarkan negara Indonesia.
Satu Nationale Staat! Hal ini perlu diterangkan
lebih dahulu, meski saya di dalam rapat besar di Taman Raden Saleh
sedikit-sedikit telah menerangkannya. Marilah saya uraikan lebih jelas dengan
mengambil tempo sedikit: Apakah yang dinamakan bangsa? Apakah syaratnya bangsa?
Menurut Renan (Ernest Renan, pemikir orientalis
Perancis-Ed.), syarat bangsa ialah “kehendak akan bersatu”. Perlu
orang-orangnya merasa diri bersatu dan mau bersatu. Ernest Renan menyebut
syarat bangsa: le desir d’etre ensemble, yaitu kehendak akan bersatu.
Menurut definisi Ernest Renan, maka yang menjadi bangsa, yaitu gerombolan
manusia yang mau bersatu, yang merasa dirinya bersatu.
Kalau kita lihat definisi orang lain – yaitu definisi
Otto Bauer (pemikir dan teoritikus Partai Sosial Demokrat Austria-Ed.) – di
dalam bukunya, Die Nationalitatenfrage, di situ ditanyakan: Was ist
eine Nation? Dan dijawabnya ialah: Eine Nation ist eine aus
Schiksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft (bangsa adalah satu
persatuan perangai yang timbul karena persatuan nasib-Ed.). Inilah menurut Otto
Bauer satu natie.
Tetapi kemarin pun, tatkala – kalau tidak salah –
Prof. Soepomo mensitir Ernest Renan, maka anggota yang terhormat Mr.Yamin
berkata: Verouderd! Sudah tua! Memang Tuan-tuan sekalian, definisi
Ernest Renan sudah verouderd, sudah tua. Definisi Otto Bauer pun sudah
tua. Sebab tatkala Ernest Renan mengadakan definisinya itu, tatkala Otto Bauer
mengadakan definisinya itu, tatkala itu belum timbul satu wetenschap
baru, satu ilmu baru, yang dinamakan geo-politik.
Kemarin – kalau tidak salah – Saudara Ki Bagoes
Hadikoesoemo, atau Tuan Moenandar, mengatakan tentang “persatuan antara orang
dan tempat”. Persatuan antara orang dan tempat, Tuan-tuan sekalian, persatuan
antara manusia dan tempatnya!
Orang dan tempat tidak dapat dipisahkan! Tidak dapat
dipisahkan rakyat dari bumi yang ada di bawah kakinya. Ernest Renan dan Otto
Bauer hanya sekedar melihat orangnya. Mereka hanya memikirkan Gemeinschaft-nya
(persamaan atau persatuannya, dalam bahasa Jerman-Ed.) dan perasaan orangnya, l’ame
et le desir (jiwa dan kehendaknya, dalam bahasa Perancis-Ed.) Mereka hanya
mengingat karakter, tidak mengingat tempat, tidak mengingat bumi, bumi yang
didiami manusia itu. Apakah tempat itu? Tempat itu yaitu tanah air. Tanah air
itu adalah satu kesatuan. Allah s.w.t membuat peta dunia, menyusun peta dunia.
Kalau kita melihat peta dunia, kita dapat menunjukkan di mana
“kesatuan-kesatuan” di situ. Seorang anak kecil pun – jikalau ia melihat peta
dunia – ia dapat menunjukkan bahwa kepulauan Indonesia merupakan satu kesatuan.
Pada peta itu dapat ditunjukkan satu kesatuan gerombolan pulau-pulau di antara
2 lautan yang besar, Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, dan di antara 2 benua,
yaitu Benua Asia dan Benua Australia. Seorang anak kecil dapat mengatakan,
bahwa pulau-pulau Jawa, Sumatera, Borneo, Selebes, Halmahera, Kepulauan Sunda
Kecil, Maluku dan lain-lain pulau kecil di antaranya, adalah satu kesatuan.
Demikan pula tiap-tiap anak kecil dapat melihat pada peta bumi, bahwa
pulau-pulau Nippon yang membentang pada pinggir timur Benua Asia sebagai
golfbreker atau penghadang gelombang lautan Pasifik, adalah satu kesatuan.
Anak kecil pun dapat melihat, bahwa tanah India adalah
satu kesatuan di Asia Selatan, dibatasi oleh Lautan Hindia yang luas dan Gunung
Himalaya. Seorang anak kecil pula dapat mengatakan, bahwa kepulauan Inggris
adalah satu kesatuan.
Griekenland atau Yunani dapat ditunjukkan sebagai satu
kesatuan pula. Itu ditaruhkan oleh Allah SWT demikian rupa. Bukan Sparta saja,
bukan Athena saja, bukan Macedonia saja, tetapi Sparta plus Athena plus
Macedonia plus daeraha Yunani yang lain-lain – segenap kepulauan Yunani –
adalah satu kesatuan. Maka manakah yang dinamakan tanah tumpah darah kita,
tanah air kita? Menurut geopolitik, maka Indonesialah tanah air kita. Indonesia
yang bulat – bukan Jawa saja, bukan Sumatera saja, atau Borneo saja, atau
Selebes saja, atau Ambon saja, atau Maluku saja, tetapi segenap kepulauan yang
ditunjuk oleh Allah SWT menjadi suatu kesatuan antara dua benua dan dua
samudera – itulah tanah air kita! Maka jikalau saya ingat perhubungan antara
orang dan tempat – antara rakyat dan buminya – maka tidak cukuplah definisi yang
dikatakan Ernest Renan dan Otto Bauer itu. Tidak cukup le desir d’etre
ensemble, tidak cukup definisi Otto Bauer aus Schiksalsgemeinschaft
erwachsene Charaktergemeinschaft itu.
Maaf, Saudara-saudara, saya mengambil contoh
Minangkabau. Di antara bangsa Indonesia, yang paling ada le desir d’etre
ensemble adalah rakyat Minangkabau, yang banyaknya kira-kira 2 milyun.
Rakyat ini merasa dirinya satu keluarga. Tetapi Minangkabau bukan satu
kesatuan, melainkan hanya satu bagian kecil dari satu kesatuan! Penduduk Yogya
pun adalah merasa le desir d’etre ensemble, tetapi Yogya pun hanya satu
bahagian kecil dari satu kesatuan. Di Jawa Barat rakyat Pasundan sangat
merasakan le desir d’etre ensemble, tetapi Sunda pun haya satu bagian
kecil dari satu kesatuan.
Pendek kata, bangsa Indonesia – Natie Indonesia –
bukanlah sekadar contoh satu golongan orang yang hidup dengan le desir
d’etre ensemble di atas daerah yang kecil seperti Minangkabau, atau Madura,
atau Yogya, atau Sunda, atau Bugis, tetapi bangsa Indonesia ialah seluruh
manusia-manusia yang menurut geopolitik, yang telah ditentukan oleh Allah SWT,
tinggal di kesatuannya semua pulau-pulau Indonesia dari ujung Utara Sumatera
sampai ke Irian! Seluruhnya! Karena antara 70.000.000 ini sudah ada le desir
d’etre ensemble, sudah terjadi Charaktergemeinschaft! Natie
Indonesia, bangsa Indonesia, umat Indonesia jumlah orangnya adalah 70.000.000,
tetapi 70.000.000 yang telah menjadi satu, satu, sekali lagi satu!
(Tepuk tangan hebat)
Ke sinilah kita semua harus menuju: Mendirikan satu Nationale
Staat, di atas kesatuan bumi Indonesia dari ujung Sumatera sampai ke Irian.
Saya yakin tidak ada satu golongan di antara Tuan-tuan yang tidak mufakat, baik
Islam maupun golongan yang dinamakan “golongan kebangsaan”. Ke sinilah kita
harus menuju semuanya.
Saudara-saudara, jangan mengira, bahwa tiap-tiap
negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Bayern,
bukan Saksen (kerajaan lama di Jerman, lebih dikenal sebagai Prusia,
Bavaria dan Saxony-Ed.) adalah nationale staat, tetapi seluruh
Jermania-lah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan
Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italia-lah – yaitu seluruh semenanjung
di Laut Tengah, yang di utara dibatasi oleh pengunungan Alpen – adalah nationale
staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh
segitiga India-lah nanti harus menjadi nationale staat.
Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air
kita yang merdeka di jaman dahulu adalah nationale staat. Kita hanya 2
kali mengalami nationale staat, yaitu di zaman Sriwijaya dan zaman
Majapahit. Di luar itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya
berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata
dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram –
meskipun merdeka – bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada
Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata bahwa kerajaannya bukan nationale
staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, saya
berkata, bahwa kerajaannya di Banten – meskipun merdeka – bukan suatu nationale
staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanuddin di Sulawesi yang
telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka
itu bukan nationale staat.
Nationale staat hanya Indonesia seluruhnya, yang telah berdiri di
zaman Sriwijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan
bersama-sama. Karena itu, jikalau Tua-tuan terima baik, marilah kita mengambil
dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia.
Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan
Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali atau lain-lain, tetapi
kebangsaan Indonesia, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat.
Maaf, Tuan Liem Koen Hian. Tuan tidak mau akan
kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan
Fuku Kaityoo (Wakil Ketua, maksudnya Soeroso-Ed.), Tuan menjawab: “Saya tidak
mau akan kebangsaan.”
(Liem Koen Hian menanggapi: “Bukan begitu. Ada sambungannya
lagi.”)
Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih,
karena Tuan Liem Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak
juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena
mereka memeluk paham kosmopolitanisme, yang mengatakan tidak ada
kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitanisme,
sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa Tionghoa, tidak ada bangsa
Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya menschheid
– perikemanusiaan! Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada
rakyat Tionghoa, bahwa ada kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya
berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah HBS di Surabaya, saya dipengaruhi
oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran kepada
saya. Katanya: “Jangan berpaham kebangsaan, tetapi berpahamlah rasa kemanusiaan
sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsaan sedikit pun.” Itu terjadi pada tahun
‘17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan
saya, ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya, San Min Chu I atau The
Three People’s Principles, saya mendapat pelajaran yang membongkar
kosmopolitanisme yang diajarkan oleh Baars itu. Dalam hati saya sejak itu,
tertanamlah rasa kebangsaan oleh pengaruh The Three People’s Principles
itu. Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun
Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia
yang dengan perasaan hormat, sehormat-hormatnya, merasa berterima kasih kepada
Dr. Sun Yat Sen – sampai masuk ke lobang kubur.
(Anggota-anggota Tionghoa bertepuk tangan)
Saudara-saudara! Tetapi… tetapi… memang prinsip
kebangsaan ini ada bahayanya! Bahayanya ialah mungkin orang-orang meruncingkan
nasionalisme menjadi chauvinisme (nasionalisme yang berlebihan,
ekstrem-Ed.), sehingga berpaham “Indonesia uber Alles (Indonesia di atas
semua bangsa-Ed.).” Inilah bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa
berbangsa satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia
hanya satu bagian kecil saja dari dunia! Ingatlah akan hal ini!
Gandhi berkata: “Saya seorang nasionalis, tetapi
kebangsaan saya adalah perikemanusiaan. My nationalism is humanity.”
Kebangsaan yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang
menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropa,
yang mengatakan Deutschland uber Alles. Tidak ada yang setinggi
Jermania, yang katanya bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata
biru – bangsa Arya – yang dianggapnya tertinggi di atas dunia, sedang
bangsa lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas asas demikian,
Tuan-Tuan. Jangan berkata, bahwa bangsa Indonesia-lah yang terbagus dan
termulia, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia,
persaudaraan dunia. Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka,
tetapi kita harus menuju pula kepada kekeluargaan bangsa-bangsa.
Justru inilah prinsip yang kedua. Inilah philosofische
princiep yang nomor dua, yang saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh
saya namakan internasionalisme. Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme,
bukanlah saya bermaksud kosmopolitanisme, yang tidak mau adanya
kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada
Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya. Internasionalisme
tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme.
Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup di dalam taman sarinya internasionalisme.
Jadi, dua hal ini, Saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2 – yang pertama-tama
saya usulkan kepada Tuan-tuan sekalian – adalah bergandengan erat satu sama
lain.
Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah
dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan
satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun
golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara “semua buat semua”, “satu buat
semua, semua buat satu”. Saya yakin, bahwa syarat yang mutlak untuk kuatnya
negara Indonesia ialah permusyawaratan, perwakilan.
Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk
memelihara agama. Kita, saya pun, adalah orang Islam – maaf beribu-ribu maaf,
keislaman saya jauh belum sempurna – tetapi kalau Saudara-saudara membuka saya
punya dada, dan melihat saya punya hati, Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak
bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung Karno ini, ingin membela Islam dalam
mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal,
juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di
dalam Badan Perwakilan Rakyat. Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di
dalam permusyawaratan.
Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk
mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Di sinilah kita usulkan kepada
pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau
memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar supaya
sebagian yang terbesar daripada kursi-kursi badan perwakilan rakyat yang kita
adakan, diduduki oleh utusan-utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia
rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam di sini
agama yang hidup berkobar-kobar di dalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin
menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin
utusan-utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan
rakyat 100 orang anggotanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya,
agar supaya 60, 70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang
Islam, pemuka-pemuka Islam. Dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari
badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula.
Malahan saya yakin, jikalau hal yang demikian itu
nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar hidup di
dalam jiwa rakyat, sehingga 60 persen, 70 persen, 80 persen, 90 persen utusan
adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam, ulama-ulama Islam. Maka saya berkata,
baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, hiduplah Islam Indonesia, dan
bukan hanya Islam yang hanya di atas bibir saja. Kita berkata, 90 persen
daripada kita beragama Islam, tetapi lihatlah di dalam sidang ini berapa persen
yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf beribu maaf, saya tanya hal itu!
Bagi saya hal itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya
di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada Saudara-saudara
sekalian – baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam – setujuilah
prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.
Dalam perwakilan nanti ada perjuangan
sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul, betul hidup,
jikalau di dalam badan perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah
Candaradimuka, kalau tidak ada perjuangan paham di dalamnya. Baik di dalam staat
Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjuangan selamanya ada.
Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat!
Di dalam perwakilan rakyat Saudara-saudara Islam dan
Saudara-saudara Kristen bekerjalah sehebat-hebatnya. Kalau misalnya orang
Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter (huruf, dalam bahasa Inggris-Ed.) di dalam
peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah
mati-matian, agar supaya, sebagian besar dari utusan-utusan yang masukn badan
perwakilan Indonesia ialah orang Kristen. Itu adil, fair play!
(permainan yang jujur, dalam bahasa Inggris-Ed.). Tidak ada negara boleh
dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjuangan di dalamnya. Jangan kira di
Turki tidak ada perjuangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada
pergeseran pikiran. Allah subhanahu wa ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar
supaya dalam pergaulan sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk
membersihkan gabah, supaya keluar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi
nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara prinsip nomor 3,
yaitu prinspi permusyawaratan!
Prinsip nomor 4, sekarang saya usulkan. Saya di dalam
3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip
tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi:
Prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng:
Nationalism, Democracy, Sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau
Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua
rakyatnya sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam
kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi
sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, Saudara-saudara? Jangan Saudara
kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya
sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropa adalah
Badan Perwakilan, adalah parlementaire demoratie. Tetapi tidakkah di
Eropa justru kaum kapitalis merajalela?
Di Amerika ada suatu Badan Perwakilan Rakyat, dan
tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat
kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak
bukan sebabnya, ialah oleh karena badan-badan perwakilan yang diadakan di sana
itu, sekedar menurut resepnya Fransche Revolutie (Revolusi Perancis, dalam
bahasa Belanda-Ed.). Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan demokrasi di sana
itu hanyalah politieke demoratie saja; semata-mata tidak ada sociale
rechtvaardigheid – tidak ada keadilan sosial, tak ada economische
democratie sama sekali.
Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang
pemimpin Perancis, Jean Jaures yang menggambarkan politieke demoratie.
“Di dalam parlementaire demoratie,” kata Jean Jaures, “tiap-tiap orang
mempunyai hak sama. Hak politik yang sama, tiap-tiap orang boleh memilih,
tiap-tiap orang boleh masuk dalam parlemen. Tetapi adakah sociale
rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?”. Maka
oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi: “Wakil kaum buruh yang mempunyai hak
politik itu, didalam Parlemen dapat menjatuhkan minister (menteri, dalam
bahasa Belanda dan Inggris-Ed.). Ia seperti raja. Tetapi di dalam dia punya
tempat bekerja – di dalam pabrik – sekarang ia menjatuhkan minister,
besok dia dapat dilempar ke luar jalan raya, dibikin werloos
(menganggur, dalam bahasa Belanda-Ed.), tidak dapat makan suatu apa.” Adakah
keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki?
Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari
demokrasi, hendaknya bukan demokrasi Barat, tetapi permusyawaratan yang memberi
hidup, yakni politiek-economische democratie yang mampu mendatangkan
kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini.
Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimaksud dengan paham Ratu-Adil,
ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang
tadinya merasa dirinya kurang makan, kurang pakaian, menciptakan dunia baru
yang di dalamnya ada keadilan, di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena
itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat, mencinta rakyat
Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini,
yaitu bukan saja persamaan politik, Saudara-saudara, tetapi pun di atas
lapangan ekonomi kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama
yang sebaik-baiknya.
Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang akan kita
buat, hendaknya bukan bada permusyawaratan politieke democratie saja,
tetapi badan yang bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke
rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid (keadilan politik dan
keadilan sosial, dalam bahasa Belanda-Ed.).
Kita akan bicarakan hal ini bersama-sama,
Saudara-Saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal
akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan Kepala Negara, saya
terus terang, saya tidak akan memilih monarki. Apa sebab? Oleh karena monarki
vooronderstelt erfe-lijkheid (pewarisan yang sudah diketahui terlebih
dahulu, dalam bahasa Belanda-Ed.). Turun-temurun. Saya orang Islam, saya
demokrat karena saya orang Islam, saya menghendaki mufakat, maka saya minta
supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan
bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih
oleh rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau
pada suatu hari Ki Bagoes Hadikoesoemo misalnya, menjadi Kepala Negara
Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, janganlah anaknya Ki Hadikoesoemo
dengan sendirinya – dengan otomatis – menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka
oleh karena itu, saya tidak mufakat kepada prinsip monarki itu.
Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah
mengemukakan 4 prinsip:
1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau perikemanusiaan
3. Mufakat atau demokrasi
4. Kesejahteraan sosial.
Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia
Merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia
bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya
sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam
bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya
menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya bertuhan.
Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah
Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya bertuhan secara
kebudayaan, yakni tiada “egoisme agama”. Dan hendaknya Negara Indonesia satu
Negara yang bertuhan!
Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam,
maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu?
Ialah hormat-menghormati satu sama lain.
(Tepuk tangan sebagian hadirin)
Nabi Muhammad SAW telah memberi bukti yang cukup
tentang verdraagzaamheid (sifat dapat memahami pendapat yang lain, dalam
bahasa Belanda-Ed.), tentang menghormati agama-agama lain, Nabi Isa pun telah
menunjukkan verdraagzaamheid itu. Marilah kita di dalam Indonesia
Merdeka yang kita susun ini – sesuai dengan itu – menyatakan: Bahwa prinsip
kelima dari Negara kita, ialah Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang
berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.
Hatiku akan berpesta raya, jikalau Saudara-saudara menyetujui bahwa Negara
Indonesia Merdeka berasaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!
Di sinilah, dalam pangkuan asas yang kelima inilah,
Saudara-saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan
mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula!
Ingatlah prinsip ketiga – permufakatan, perwakilan –
di situlah tempatnya ktai mempropagandakan ide kita masing-masing dengan cara
yang tidak onverdraagzaam (tidak sabar, memaksa, dalam bahasa
Belanda-Ed.), yaitu dengan cara yang berkebudayaan!
Saudara-saudara! “Dasar-dasar Negara” telah saya
usulkan Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca
Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita
membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun
Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai pancaindera. Apa
lagi yang lima bilangannya?
(Seorang yang hadir: “Pendawa Lima.”)
Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip
– kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan – lima
pula bilangannya.
Namanya bukan Panca Dharma, tetapi – saya namakan
ini dengan petunjuk seorang teman ahli bahasa — namanya ialah Pancasila. Sila
artinya “asas” atau “dasar”, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan
Negara Indonesia, kekal dan abadi.
(Tepuk tangan riuh)
Atau, barangkali ada Saudara-saudara yang tidak suka
akan bilangan lima itu? Saya boleh peras sehingga tinggal 3 saja.
Saudara-saudara tanya kepada saya, apakah “perasan” yang tiga itu?
Berpuluh-puluh tahun sudah saya pikirkan dia, ialah dasar-dasarnya Indonesia
Merdeka, Weltanschauung kita. Dua dasar yang pertama, kebangsaan dan
internasionalisme – kebangsaan dan perikemanusiaan – saya peras menjadi satu:
itulah yang dahulu saya namakan Sosio-nasionalisme.
Dan demokrasi yang bukan demokrasi Barat, tetapi politiek-economische
demoratie – yaitu politieke demoratie dengan sociale
rechtvaardigheid, demokrasi dengan kesejahteraan – saya peraskan pula
menjadi satu: inilah yang dulu saya namakan Sosio-demokrasi. Tinggal
lagi Ketuhanan, yang menghormati satu sama lain.
Jadi yang asalnya lima itu telah menjadi tiga: Sosio-nasionalisme,
sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Kalau Tuan senang kepada simbolik tiga,
ambillah yang tiga ini. Tetapi barangkali tidak semua Tuan-tuan senang kepada Trisila
ini, dan minta satu, satu dasar saja! Baiklah saya jadikan satu, saya kumpulkan
lagi menjadi satu. Apakah yang satu itu?
Sebagai tadi telah saya katakan: Kita mendirikan
negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan
Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo
buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat
Indonesia, tetapi Indoesia buat Indoesia. Semua buat semua! Jikalau saya peras
yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu
perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan “gotong-royong”. Alangkah
hebatnya! Negara Gotong-Royong!
(Tepuk tangan riuh-rendah)
“Gotong-royong” adalah paham yang dinamis, lebih
dinamis dari “kekeluargaan”, Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu paham
yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu
pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karyo, satu
gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini,
bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan tulang bersama, pemerasan
keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan
semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat
kepentingan bersama! Itulah gotong-royong!
(Tepuk tangan riuh-rendah)
Prinsip gotong-royong di antara yang kaya dan yang
tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia
tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia. Inilah, Saudara-saudara,
yang saya usulkan kepada Saudara-saudara.
Pancasila menjadi Trisila, Trisila menjadi Ekasila.
Tetapi terserah kepada Tuan-tuan, mana yang Tuan-tuan pilih: Trisila, Ekasila
ataukah Pancasila? Isinya telah saya katakan kepada Saudara-saudara semuanya.
Prinsip-prinsip seperti yang saya usulkan kepada Saudara-saudara ini, adalah
prinsip untuk Indonesia Merdeka yang abadi. Puluhan tahun dadaku telah
menggelora dengan prinsip-prinsip itu.
Tetapi jangan lupa, kita hidup di dalam masa
peperangan, Saudarna-saudara. Di dalam masa peperangan itulah kita mendirikan
negara Indonesia. Di dalam gunturnya peperangan! Bahkan saya mengucap syukur
alhamdulillah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, bahwa kita mendirikan negara
Indonesia bukan di dalam sinarnya bulan purnama, tetapi di bawah palu godam
peperangan dan di dalam api peperangan. Timbullah Indonesia Merdeka, Indonesia
yang gemblengan, Indonesia Merdeka yang digembleng dalam api peperangan, dan
Indonesia Merdeka yang demikian itu adalah negara Indonesia yang kuat, bukan
negara Indonesia yang lambat-laun menjadi bubur. Karena itulah saya mengucap
syukur kepada Allah SWT.
Berhubungan dengan itu – sebagai yang diusulkan oleh
beberapa pembicara-pembicara tadi – barangkali perlu diadakan noodmaat-regel
(aturan darurat, dalam bahasa Belanda-Ed.), peraturan yang bersifat sementara.
Tetapi dasarnya, isinya Indonesia Merdeka yang kekal abadi menurut pendapat
saya, haruslah Pancasila. Sebagai dikatakan tadi, Saudara-saudara, itulah harus
Weltanschauung kita.
Entah Saudara-saudara memufakatinya atau tidak, tetapi
saya berjuang sejak tahun 1918 sampai 1945 sekarang ini untuk Weltanschauung
itu. Untuk membangun nasionalistis Indonesia, untuk kebangsaan Indonesia; untuk
kebangsaan Indonesia yang hidup di dalam perikemanusiaan; untuk permufakatan;
untuk sociale rechtvaardigheid; untuk Ketuhanan. Pancasila, itulah yang
berkobar-kobar di dalam dada saya sejak berpuluh tahun. Tetapi,
Saudara-saudara, diterima atau tidak, terserah kepada Saudara-saudara. Tetapi
saya sendiri mengerti seinsyaf-insyafnya, bahwa tidak ada satu Weltanschauung
dapat menjelma dengan sendirinya, menjadi realiteit dengan sendirinya. Tidak
ada satu Weltanschauung dapat menjadi kenyataan – menjadi realiteit
– jika tidak dengan perjuangan!
Jangan pun Weltanschauung yang diadakan oleh
manusia, jangan pun yang diadakan oleh Hitler, oleh Stalin, oleh Lenin, oleh
Sun Yat Sen!
De Mensch – manusia – harus perjuangkan itu. Zonder
(tanpa, dalam bahasa Belanda-Ed.) perjuangan itu tidaklah ia akan menjadi realiteit!
Leninisme tidak bisa menjadi realiteit zonder perjuangan seluruh rakyat
Rusia, San Min Chu I tidak dapat menjadi kenyataan zonder perjuangan bangsa
Tionghoa, Saudara-saudara! Tidak! Bahkan saya berkata lebih lagi dari itu:
Zonder perjuangan manusia, tidak ada satu hal agama, tidak ada satu cita-cita
agama, yang dapat menjadi realiteit. Jangan pun buatan manusia,
sedangkan perintah Tuhan yang tertulis di dalam kitab Qur’an, zwart op wit
(hitam di atas putih, dalam bahasa Belanda-Ed.), tertulis di atas kertas, tidak
dapat menjelma menjadi realiteit zonder perjuangan manusia yang
dinamakan umat Islam. Begitu pula perkataan-perkataan yang tertulis di dalam
kitab Injil, cita-cita yang termasuk di dalamnya tidak dapat menjelma zonder
perjuangan umat Kristen.
Maka dari itu, jikalau bangsa Indonesia ingin supaya
Pancasila yang saya usulkan itu, menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita
ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin
hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan,
ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale
rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, dengan ketuhanan
yang luas dan sempurna – janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya,
ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan!
Jangan mengira bahwa dengan berdirinya negara
Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya
berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjuangan kita harus berjalan terus,
hanya lain sifatnya dengan perjuangan sekarang, lain coraknya. Nanti kita
bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu-padu, berjuang terus menyelenggarakan
apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila.
Dan terutama di dalam zaman peperangan ini, yakinlah,
insyaflah, tanamkanlah dalam kalbu Saudara-saudara, bahwa Indonesia Merdeka
tidak dapat datang jika bangsa Indonesia tidak berani mengambil resiko – tidak
berani terjun menyelami mutiara di dalam samudera yang sedalam-dalamnya.
Jikalau bangsa Indonesia tidak bersatu dan tidak menekadkan mati-matian untuk
mencapai merdeka, tidaklah kemerdekaan Indonesia itu akan menjadi milik bangsa
Indonesia buat selama-lamanya, sampai ke akhir zaman! Kemerdekaan hanyalah
diperdapat dan dimiliki oleh bangsa, yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad:
Merdeka! “Merdeka atau mati!”
(Tepuk tangan riuh)
Saudara-saudara! Demikianlah saya punya jawab atas
pertanyaan Paduka Tuan Ketua. Saya minta maaf, bahwa pidato saya ini menjadi
panjang lebar, dan sudah meminta tempo yang sedikit lama, dan saya juga minta
maaf, karena saya telah mengadakan kritik terhadap catatan Zimukyokutyoo yang
saya anggap verschrikkelijk zwaarwichtig (seolah-olah sangat berat,
dalam bahasa Belanda-Ed.) itu.
Terima kasih!
(Tepuk tangan riuh-rendah dari segenap hadirin)
___________________________________________
salam
indonesia merdeka.. dan hidup mahasiswa!!!!!
.
.
Subscribe to:
Posts (Atom)
