Analisis SWOT adalah salah satu alat diagnostik yang paling umum digunakan dalam bisnis. Analisis SWOT merupakan turunan dalam Manajemen Strategis. Empat Perspektif sederhana memberikan kerangka yang mudah diikuti, namun Tools ini sangat sering disalahpahami.
Analisis SWOT adalah metode Perencanaan Strategis yang digunakan untuk mengevaluasi Kekuatan (Strengths), Kelemahan (Weaknesses), Peluang (Opportunities), dan Ancaman (Threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, dan threats). Proses ini melibatkan penentuan tujuan yang spesifik dari spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor Internal dan Eksternal yang mendukung dan yang tidak dalam mencapai tujuan tersebut.
Analisis SWOTdapat diterapkan dengan cara menganalisis dan memilah berbagai hal yang mempengaruhi keempat faktornya, kemudian menerapkannya dalam gambar matrik SWOT, dimana aplikasinya adalah
Bagaimana Kekuatan (strengths) mampu mengambil Keuntungan (advantage) dari Peluang (opportunities) yang ada.
Bagaimana cara mengatasi Kelemahan (weaknesses) yang mencegah Keuntungan (advantage) dari Peluang (opportunities) yang ada.
Selanjutnya bagaimana Kekuatan (strengths) mampu menghadapi Ancaman (threats) yang ada.
Dan yang terakhir adalah bagimana caranya mengatasi Kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat Ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.
7 Aturan Sederhana Keberhasilan Analisis SWOT
^Realistis tentang Kekuatan dan Kelemahan Organisasi Anda
^Analisis harus membedakan antara Organisasi Anda hari ini, dan propsek di masa depan.
^Spesifik. Hindari daerah abu-abu/tengah-tengah
^Selalu menganalisis keterkaitannya dengan Kompetisi yaitu apakah Lebih Baik (Better) atau Lebih Buruk (Worse) daripada kompetitor
^Buatlah SWOT secara Singkat dan Sederhana – Singkat dan Sederhana untuk Aplikasi atau Situasi – ini adalah tentang ‘Penyesuaian Tujuan’. Hindari Kompleksitas yang tidak perlu dan Analisa berlebih (Over Analysis)
^Cukup sedikit daftar Peluang (Opportunities) jika kompetitor memiliki hal yang sama
^Cukup sedikit pula daftar Kekuatan (Strength) jikalau kompetitor Anda juga memilikinya
5 kesalahan Utama Analisis SWOT:
^Tujuan tidak jelas
^Fokus yang terlalu sempit
^Mengabaikan masukan lainnya
^Melakukan analisis hanya sekali
^Ketergantungan pada SWOT Strategi Holistik Diagnostik
diatas adalah hasil copas saya yang bersumber dari http://ikhtisar.com/analisis-swot/
namun metode itu pernah saya utarakan pada teman saya yang berasal dari luar jawa dan kemudian dia menempuh masa perkuliahan di pulau jawa ini. dia berpendapat bahwa dia adalah tomggak harapan masyarakat asalnya yang berada di daerah yang rawan sekali dengan konflik. sempat saya berikan sebuah pertanyaan untuknya apa yang menjadi kelemahan di kota anda? dan dia pun menjawab masyarakat di sana sangatlah temperamental, sehingga sering sekali terjadi konflik adu fisik di tempatnya. dan tentunya mereka memiliki fisik yang kuat, tenaga yang kuat. itupun dapat di manfaatkan oleh mereka untuk bekerja secara fisik, karena menurut statement dia adalah fisik mereka yang sangat kuat adalah pemicu mereka untuk mengambil sebuah kekuasaan.
banyak sekali yang dapat kita analisis kembali terkait dengan analisis swot. dan menurut kesimpulan saya analisis SWOT adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan "kekuatan" sebaik mungkin, menekan dan memanipulasi "kelemahan". mengambil setiap "kesempatan" dan mengantisipasi sebuah "ancaman".
salam perjuangan untuk negara tercinta,, indonesia MERDEKA!!!!!
:)
"laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya se-ekor burung. Jika dua sayap itu sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai kepuncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali." _________ dikutip dari buku soekarno [Sarinah, hlm. 17/18]
Saturday, May 25, 2013
Fenomenologi Politik: Membaca (Reading) – Mempertanyakan (Questioning – Memahami (Understanding)
Krisis Legitimasi Sistem Politik: Anatomi Keterasingan Manusia dari Politik
Maka baik dalam wilayah politik maupun ekonomi manusia mengalami depolitisasi dan dehumanisasi entah sebagai massa anonim yang tanpa karakter ataupun sebagai objek komoditas yang tanpa arah. Bersama dengan depolitisasi dan dehumanisasi itu manusia tidak mempunyai pilihan lain kecuali: 1) semakin tersudutkan ke dalam ruang privatnya masing-masing yang terpisah dari ruang publik, dan dengan itu semakin terasing dari keputusan-keputusan publik-politik (mengalami de-politisasi), atau 2) semakin terlempar ke luar ke mekanisme ruang publik (entah politik atau ekonomi) yang anonim di mana intensi-intensi subjektifnya tidaklah relevan, dan dengan itu semakin mengalami keterasingan dari dirinya sendiri (de-humanisasi). Apa yang semakin terkikis dari manusia bersamaan dengan depolitisasi dan dehumanisasi ini adalah dua hal yang sebetulnya telah selalu menjadi bagian dari diri manusia, yaitu: 1) kemampuannya untuk mengambil keputusan dan tanggung jawab, dan 2) kemampuannya untuk mengarahkan diri ke masa depan. Inilah sebabnya mengapa sistem politik demokrasi dan sistem ekonomi kapitalistik selalu ditandai oleh satu ciri umum yang akan selalu menyertainya, yaitu: kerentanan terhadap krisis.
Menjadi jelas bahwa depolitisasi dan dehumanisasi adalah sebuah konsekuensi dari suatu sistem. Sebagai konsekuensi, keduanya tidaklah muncul karena demokrasi dan kapitalisme pada dirinya buruk dan rancu. Kerancuan itu muncul lebih sebagai akibat dari pemahaman, penafsiran, dan penerapan cara-pandang modern saintifik-positivistik atas sistem itu yang membuatnya rancu/salah-kaprah. Maka problemnya tidak terletak pada demokrasi ataupun kapitalisme itu sendiri, melainkan lebih pada cara bagaimana keduanya dipahami, ditafsirkan, dan dijalankan.
Dalam cara baca yang tidak jauh berbeda dengan Schmitt, Jürgen Habermas juga sampai pada kesimpulan yang kurang lebih serupa dengan analisis Schmitt. Dalam naskah kerja hasil penelitian yang dilakukan Habermas bersama dengan Max Planck Institut pada 1970 (Max Planck Institut zur Erforschung der Lebensbedingungen der wissenschaftlich-technischen Welt), ia sampai pada kesimpulan sebagai berikut: bahwa proses integrasi sistem tidak selalu berjalan bersamaan dengan proses integrasi sosial, bahkan integrasi sistem sering menafikkan pentingnya proses integrasi sosial. Artinya, suatu sistem (entah itu sistem nilai, sistem politik-ekonomi, dsb) yang berproses menjadi semakin otonom seringkali membuat masyarakat yang hidup di dalamnya menjadi semakin tergantung pada sistem itu dan membuat mereka justru semakin tidak otonom. Otonomi sistem ternyata justru sering berlawanan (kontradiktif) dengan otonomi sosial.
Salah satu sebab utamanya adalah karena sistem selalu cenderung untuk membuat subjek-subjek berdaulat di dalam sistem itu mengalami automatisasi dan anonimisasi. Inilah sebabnya jika terjadi interupsi, diferensiasi, dan distraksi terhadap sistem tersebut, maka identitas para manusia di dalamnya juga ikut terganggu dan terancam. Ancaman terhadap integrasi sistem (yang bersifat eksternal-struktural) yang secara langsung ikut mengancam integrasi sosial para manusia di dalamnya (yang bersifat internal-eksistensial), inilah yang disebut Habermas sebagai Krisis. Maka, jika mengikuti alur penelitian Habermas ini, krisis terjadi karena logika sistem telah begitu jauh meresap ke dalam diri masing-masing manusia yang membuatnya tidak lagi dapat berpikir dan bertindak di luar kerangka sistem tersebut. Dengan kata lain, tercipta ketergantungan yang tidak setara/imbang antara sistem dan manusia. Jika terjadi berbagai masalah menyangkut keberlangsungan sistem tersebut, manusia-manusia di dalamnya juga ikut terguncang karena tidak lagi dapat dipisahkan antara dirinya dengan sistem yang menaunginya (terjadi identifikasi). Maka terjadinya suatu krisis ekonomi (yang bekerja menurut logika sistem pasar) secara langsung juga mengakibatkan krisis sosial bahkan krisis personal.
Cukup menarik melihat bahwa Habermas mengatakan hal yang kurang lebih sama dengan Schmitt, yaitu bahwa cara-kerja sistem yang mekanis-anonim itu telah mendominasi dan merasuk sedemikian rupa ke dalam cara-berpikir manusia yang seharusnya berproses secara komunikatif-hermeneutis. Oleh karena itu setiap krisis sebetulnya merupakan krisis yang berkenaan dengan problem legitimasi atas cara kerja suatu sistem. Mesin tidak dapat dan tidak perlu melegitimasi dirinya. Problem legitimasi adalah problem yang khas manusia dan hanya bisa terjadi pada manusia. Sebabnya tidak lain karena tanggung jawab dan apropriasi (menjadikan sesuatu sebagai milik atau bagian dari diri kita) hanya dapat muncul dari manusia sebagai subjek yang memiliki kesadaran. Ketidakmampuan manusia untuk menanggapi/merespon (to respond/being responsible) berbagai problem legitimasi yang muncul dari suatu krisis menunjukkan bagaimana manusia sebagai subjek yang sadar itu telah mengalami depolitisasi dan dehumanisasi yang sedemikian parah. Pengandaian inilah yang berdiri di balik analisis Habermas saat ia menyebut sistem politik-ekonomi modern yang kapitalistik itu sebagai “suatu proses pertumbuhan yang akan selalu ditunggangi oleh krisis.” (a crisis-ridden course of economic growth)
Dalam perspektif fenomenologi Husserlian-Schmittian, analisis tentang krisis legitimasi, depolitisasi, dan dehumanisasi tidak tinggal begitu saja sebagai perspektif teoretis. Sebaliknya, analisis itu sendiri muncul sebagai sebuah bentuk ekspresi dari apa yang senyatanya terjadi dalam dunia-kehidupan konkret manusia-manusia politik modern. Dari perspektif fenomenologi Husserlian-Schmittian, analisis mengenai krisis ini semakin menegaskan kembali dimensi terdalam tetapi juga tergelap dari diri dan hidup manusia, yaitu: dimensinya yang tanpa-dasar (Grundlos / Groundless). Dari situasi ontologis-eksistensial yang tanpa-dasar inilah manusia mulai membangun sistem (apapun) untuk melangsungkan hidup dan merawat dirinya. Maka setiap sistem, apapun itu, akan selalu memuat kemungkinan untuk kembali terjatuh ke dalam situasi yang tanpa-dasar. Apa yang menjadi awal (alfa) dari segala sesuatu dapat pula menjadi akhir dari segalanya itu (omega).
Untuk manusia sebagai pribadi, situasi tanpa-dasar itu akan selalu mungkin dialaminya melalui pengalaman-pengalaman kejatuhan eksistensial yang membuat seluruh normalitas hidupnya bergeser ke dalam ab-normalitas, seluruh kewarasan bergerak ke arah kegilaan, seluruh kenyamanan-diri bergeser menjadi pertanyaan/pergulatan-diri. Manusia seringkali mengalami kejatuhan eksistensial ini dalam pengalaman-pengalaman otentik yang seringkali juga traumatis, seperti misalnya dalam situasi perang, konflik batin, situasi-situasi kritis, dll. Untuk dunia politik, situasi tanpa-dasar yang selalu mengintai di ambang batas segala tatanan sosial-politik adalah keadaan total chaos dan total disorder. Chaos dan ambruknya tatanan (disorder) menjadi extremus necessitatis casus (kasus-kasus ekstrem yang niscaya) yang justru menentukan karater otentik dari setiap aktivitas politik. Bagi Schmitt, normalitas tidaklah muncul dari normalitas itu sendiri layaknya tautologi yang tidak bermakna. Seluruh normalitas dibangun di atas dasar ab-normalitas, sebagaimana semua pendasaran (tatanan) dibangun di atas situasi tanpa-dasar (tanpa-tatanan).
Dengan menyingkapkan situasi ab-normal/tanpa-dasar dari seluruh sistem, Schmitt memperlihatkan bahwa politik, sebagaimana hidup manusia sendiri, tidak akan pernah dapat dilepaskan dari satu senyawanya yang paling penting, yaitu: Kedaulatan. Hanya manusia yang sadar sajalah yang mampu menegaskan dirinya di atas segala pengecualian, menegaskan dirinya di atas segala ab-normalitas dan ketanpa-dasaran. Inilah sebab mengapa hanya manusia saja satu-satunya makhluk yang dapat disebut sebagai subjek-berdaulat yang mampu mewujudkan kedaulatannya. Kedaulatan itu sendiri bukanlah sebuah ruang kosong nihilistik, melainkan selalu memuat tiga dimensi dasarnya: 1) keputusan, 2) tanggung jawab, 3) keterjangkaran pada tradisi (historisitas) dan keterarahan ke arah masa depan (temporalitas). Ketiganya merupakan faktor dasar yang mendefinisikan karakter setiap orang dalam kekhasannya masing-masing, sebagaimana ketiganya juga mendefinisikan karakter kolektivitas setiap bangsa dalam kekhasannya masing-masing. Dimensi kedaulatan inilah yang kemudian terjinakkan bersama dengan semakin meluasnya pengaruh ilmu-ilmu modern yang saintifik-naturalistik-positivistik ke dalam wilayah politik. Proses penjinakkan manusia (depolitisasi dan dehumanisasi) menjadi makhluk-makhluk yang pasif, konsumtif, dan a-politis melalui sistem politik-ekonomi modern inilah yang menyebabkan mengapa manusia-manusia modern lebih rentan terhadap krisis: sejak awal ia telah terasing dari historisitasnya, terasing dari temporalitasnya, asing dari pengertian tanggung jawab, dan asing dengan dimensi eksistensial keputusan.
(Dikutip dari: Ito Prajna-Nugroho, Fenomenologi Politik – Membongkar Politik Menyelami Manusia, Purworejo: Penerbit Sanggar Pembasisan Pancasila, 2013, Bab IV)
juga saya kutip dari;___ http://fenomenologipolitik.wordpress.com/2013/04/18/fenomenologi-politik-membaca-reading-mempertanyakan-questioning-memahami-understanding/
:)
10 TIPS MENCIPTAKAN HIDUP BERMAKNA
Carmen Stine, MS
Hidup itu sesungguhnya sederhana saja. Tidak
sebagaimana yang dikatakan orang yang mengatakan bahwa hidup itu rumit.
Masyarakat sekarang berada dalam masa yang sulit untuk memahami konsep hidup
ini. Kita percaya pada pendapat bahwa "hidup itu pertarungan",
"kita harus melakukan yang terbaik
untuk itu", dan "hidup adalah
tantangan lalu anda mati." Berikut ini 10 tips untuk mengatasi kekusutan
hidup yang tidak terbatas pada apa keyakinan anda.
1--Ingatlah: mungkin anda tidak bisa
mendapatkan apa yang anda inginkan tetapi seringkali hal itu adalah sebuah
keberuntungan yang baik. Tidak selalu mendapatkan apa yang anda mau seringkali
berarti bahwa ada sesuatu yang lebih baik berada di balik cakrawala. Anda perlu
untuk bersabar dan tenang. Hal itu pasti akan datang pada waktunya.
2--Saat anda menyadari anda melakukan
kekeliruan, segera ambil langkah-langkah perbaikan. Cepat ambil tindakan untuk
menyelamatkan hubungan anda, menjelaskan kesalah-mengertian, dan lakukan
tindakan yang diperlukan untuk menjaga keadaan dari kehancuran.
3--Hiduplah dalam kehidupan yang baik dan
penuh kehormatan. Dengan demikian, maka pada saat anda tua dan menoleh ke
belakang kehidupan, anda dapat menikmatinya untuk yang kedua kali. Hidup dalam
kehormatan berarti anda meninggalkan warisan yang dapat diikuti oleh orang
lain. Kemudian, anda dapat melakukan refleksi dan menikmati kembali saat-saat
tersebut.
4--Suasana rumah yang penuh cinta kasih
adalah pondasi hidup anda. Lakukan semua yang anda bisa untuk menciptakan
suasana rumah yang harmonis, tenang dan sentausa. Hal-hal kecil itu berharga,
baik bagi anda maupun orang lain.Nyalakan lilin beraroma di kamar anda, tiuplah
busa-busa sabun dalam kamar mandi anda dengan musik lembut mengiringi.
Tinggalkan pesan pada bantal pasangan anda atau keluarga anda yang menyatakan
cinta kasih anda "Saya Sayang Kamu".
5--Ingatlah: hubungan yang terbaik adalah
hubungan dimana kasih anda untuk yang lain melebihi kebutuhan anda dari yang
lain. Jadilah orang yang saling ketergantungan, bukan orang
yang tergantung atau ikut-ikutan tergantung.
6--Kejujuran dan kepercayaan adalah hal yang
paling penting dalam semua komunikasi anda dengan klien, kekasih atau karyawan
anda.
7--Tak seorang pun yang peduli seberapa
banyak anda tahu sampai mereka tahu seberapa banyak anda peduli. Pesan yang
terbaik datang dari hati.Tanamlah benih, lalu ambillah jarak, biarkan ia
tumbuh, dan amatilah bagaimana benih itu bertunas.
8--Sekali dalam setahun, pergilah ke suatu
tempat yang belum pernah anda kunjungi. Tambahkan kegembiraan anda dengan
membaginya pada orang-orang yang spesial di hati anda. Ciptakan kenangan.
Menjelajahi tempat-tempat baru, mencicipi cita rasa baru, mengalami pengalaman
baru, dan bertemu kenalan-kenalan baru dapat membawa anda lebih dekat dan
memperkaya makna
hidup anda.
9--Hargailah hal-hal kecil. Berbagilah secangkir the dengan
rekan-rekan baik anda, atau lilin saat makan malam berdua, atau kue coklat yang
anda miliki. Sekali lagi, semua itu adalah hal-hal kecil.
Namun, hargailah.
10--Hubungi dan teleponlah mereka yang sudah
lama tidak berhubungan dengan anda, hanya sekedar menunjukkan perhatian anda.
(diadaptasi dari, "The Top 10 Tips for Creating a Meaningful
Life",
Carmen Stine, MS,
coachmentor@aol.com. http://www.welcometoyourlife.com)
:)
Wednesday, May 15, 2013
Should internet be banned in school?
Computer networks provide ease cooperation among computer
users. The computer network transformation of data between computers can be
doneeasily and quickly. Therefore the effectiveness and efficiency can be
achieved that eventually becomes higher productivity.Computer technology has
penetrated into various fields including education. Most schools have computers
to speed up the work process administrative and academic. In fact there are
utilizing technologies in computerto support the learning process. Computers
used as a medium to conveyscientific concept becomes more attractive and
readily accepted by the students. Not only that's it, it's been a lot of
schools that have computer networksintegrate local network to the intranet and
internet. Even toenabled mobile phone technology and services for the learning
processschools to parents and the community outside the school.
Internet (computer network) has become the most complete
communication tool today, because in the internet we can get whatever
information we need such as politics, religion, entertainment, science and much
more that we can get. Benefits of the internet for our school, as a place to
find information about science and technology or about what happened.
Information from the internet that we can not only include information in the
country, we also can find information from abroad.
When students have the ability to use the internet at
school, they can quickly find almost any information needed for homework or
other assignments. Without the Internet is available, the only option students
have is to go to the school library, where the number of books is limited, on
some subjects. Accessing the Internet is very useful for students when they
have to collect a variety of sources for a research paper. Students may spend
less time researching and more time putting together a well-written paper and
informative.
Although many people think that those who use the Internet
often develop a lack of social skills, this is not always true. Students in a
class tend to enjoy and learn from communicating with other classes through
email or chat rooms. Students may be able to chat with kids from other
countries, which allows them the opportunity to socialize and learn about other
cultures at the same time. Shy students are very likely to benefit from this,
because chatting online does not involve face-to-face interaction. It can build
their confidence levels when they realize that having a conversation with
someone else does not have to be difficult or uncomfortable.
Internet provides a lot of educational material, but also
has many sites where students can spend their time. Hundreds of websites allow
users to play, annoying and time-wasting online games, and social networking
sites, such as MySpace and Facebook, it can also be a major distraction.
Students can also use the Internet for legitimate ways, such as research, only
to find a website that is more interesting to see that there is nothing to do
with their work. Often, however, the school can set filters that block students
from accessing some of the most popular online disorders.
It is relatively easy to block adult material online, such
as web sites depicting pornography, profanity and violence, but usually there
is an opportunity for students to stumble upon something that Internet filters
do not catch. And while the Internet can be a great place for kids to meet new
people in a chat room, these places are sometimes watched by child predators.
Such people lurking in chat rooms, sometimes pretending to be a child, to lure
children into a false sense of security. Children can then be required to
disclose information about themselves or even meet with the predator. Many chat
rooms can be blocked, but the site is bad and sometimes people find a way to
slip through the cracks.
From the elaboration above, it can be concluded that
internet should not be banned. The reason is the students who abuse the
internet will have a detrimental impact on the school and himself, and the
impact will be felt first over itself. However, compared with the positive side
that is able to put to good use by student achievement will benefit the school
and the individual.
Monday, May 6, 2013
Great Student (mahasiswa)
Student names can be defined as
the highest caste on a student. Thus, a student must be an example and role
model for all the educated. Holds a bachelor's degree should have the mindset
that brilliant. Students not people who deserve to be “slaves tie.” But one
which should create jobs for others. So as to help reduce unemployment in the
country.
Students in a very influential
nation hope for this country is a national ideals Indonesia. Regeneration of
the nation's shoulders is where the families of the young men laid. At the
younger age, youth are expected to use the time as much as possible to take a
preparation in facing the future. Within the scope of a student is an ideal
environment to prepare for the future. However, students may not be able to use him in a suitable place for him.
Students as agents for change of
course is expected by all elements of Indonesian society. However, ironic when
we see a student who is acting like a person who is not a background in
education. Example of a student who does not like a student educational
background is "Hedonist" (in other words, is spree Spree). One that
can be summed up in the hedonistic college students, they are just a waste of
material in the interests were deemed unnecessary. This reality we often find
in students who are keeping her appearance in "fashion". With an
example; friend of one of the students has a new jacket, then he wanted to buy
a jacket over it with a sense inside his jacket already feel overwhelmed by (jacket can be replaced with watches,
handbags, clothes, shoes, etc.). And for other samples are students who are
too concerned about his appearance with make-up that is "excessive".
In general, a natural make-up make-up is probably the most suitable for the
students. But there are some of the students who really follow fashion make-up,
and they are very concerned about their appearance would once.
Not only students, even some
people also have the same mindset associated with make-up and fancy goods. What
is the cause of the above problems? May only partially able to share with my
readers. Can we take one example, this hedonistic mindset we often encounter on
screen. Celebrity lifestyle is a factor that we often Imitate. Ranging from
hair styles, models clothes, shirts, jackets and so forth. Can we conclude that
slightly affecting the public mindset is "celebrity behavior that can be
observed on the screen".In the screen every so often we are given an
inferior impressions by television stations. So be smart at picking up a "TV show". Possible without
us knowing we've all been influenced by television shows that (mostly)
inferior. As students, we should be able to sort of television that is able to
change the lifestyle around us, by providing a recommendation to the movement
of the surrounding environment, so as not to be affected by events that
television stations would be more influential "change individual behavior
and lifestyle".
On TV Show there is an event that
is very often the main idea in the core soap opera story. That is a good man,
and has a good character will always get a good luck at every life. Indeed,
there is an element of 'correct' it. But do we really follow the soap opera
that is very different behavior in real life. "Luck sided with the people
who have the best preparation", then whoever has the very maximum
preparation, prepared bombarded by luck.The conclusion of the article above about
lifting a value "mindset of students and communities affected by the
hedonic television inferior" (soap operas). Not that I speak ill of the
soap opera here, but most soap operas impact a negative mindset for viewers.If
the reader friends concerned with the state of reality like this give a motion
to reduce / prevent the hedonistic lifestyle yourself, college students, the
environment, to society at large, by the way; least reduce the intensity of
watching soap operas, and can be appealed to the environment nearest to reduce
soap operas that can give a bad impact lifestyle.
.
Subscribe to:
Posts (Atom)