Idealisme merupakan
suatu harga diri gerakan. Ketika harga diri tersebut dipandang rendah, maka tak
kan berarti yang namanya sebuah gerakan. Setiap langkah kita akan dianggap
suatu kepentingan. Kenyataannya memang sulit sekali menjaga idealisme gerakan.
Organisasi sulit berdiri tanpa uang, bukan berarti
organisasi tak kan bisa hidup tanpa uang. Seharusnya kita bisa memilih sumber
keuangan organisasi. Sumber keuangan organisasi yang mengandung kepentingan
yang berlebih akan menggores nama kita. Namun sumber keuangan yang demi
kepentingan bersama akan lebih membuat gerakan kita semakin terpercaya.
Menjaga idealisme di dalam gerakan sebenarnya sangat mudah
untuk dijalani jika kita memiliki landasan ideologi yang kuat. Yaitu atas nama
rakyat. Ketika ideologi tersebut menancap kuat, maka kita tak akan pernah ragu
dengan setiap langkah-langkah kita. Karena setiap langkah kita akan mengandung
unsur yang sangat ideologis.
Idealisme sering sekali tergadai ketika di dalam individu
organisasi memiliki kepentingan yang menyimpang, kepentingan yang tidak sesuai
dengan koridor kesepakatan di dalam organisasi. Organisasi sangatlah bergantung
kepada orang yang mengisi di dalamnya. Maka tonggak organisasi adalah kekuatan
mendasar ideologi masing-masing personal. Ancaman tergadainya idealisme dipicu
dari keserakahan individu. Keserakahan individu yang menjadi contoh kali ini
adalah keserakahan akan proses. Keserakahan atas jabatan, bahkan keserakahan
yang memicu adanya bibit koruptor, yaitu keserakahan di bidang financial.
Idealisme harus di pegang teguh oleh setiap organisasi,
karena harga diri organisasi menyangkut seluruh nama anggota di dalamnya. Ketika
ada salah satu anggota yang memang terkesan tidak perduli dengan sesama anggota
organisasi. Maka harus ada salah satu tindakan yang tegas. Disini bukan berarti
kita harus memberhentikan dari keanggotaan, namun segala bentuk upaya harus
dilakukan demi eksistensi dan harga diri organisasi.
Tindakan tegas yang patut dilakukan ketika idealisme
individu di dalam organisasi itu dipertanyakan adalah; loby personal, shock
terapi, pendekatan persuasif, pragmatisme gerakan, manajemen konflik.
Loby personal merupakan sebuah cara yang paling ideal untuk
dilakukan karena loby personal adalah sebuah cara yang mengedepankan
keterbukaan di dalam organisasi. Loby personal adalah sebuah cara yang sedikit
efektif jika si individu tersebut memiliki kesadaran dan rasa memiliki organisasi
yang kuat, dan mengedepankan kepentingan organisasi. Jika memang egoisme
individu belum terlalu parah, maka loby personal dirasa cukup untuk memberikan
solusi.
Shock terapi di dalam organisasi ini sangatlah memiliki
banyak contoh. Mulai dari ancaman individu akan sebuah kebijakan bersama, atau
terkesan memberikan hukuman bersama secara moral maupun immoral. Atau hanyalah
sebatas gertakan yang nanti dapat mengakibatkan efek jera kepada si pemilik
egoisme tinggi.
Pendekatan persuasif ini dirasa cara yang paling efektik
untuk menemukan sebuah solusi, dan memberikan kemudahan dalam menemukan
permasalahan dibalik lunturnya idealisme, dan menjadi sebuah bekal untuk
menemukan solusi bersama. Sehingga pendekatan persuasif ini dapat menggali
sebuah topik-topik tertutup yang dimiliki oleh si individu yang luntur
ideologinya dan idealismenya.
Pragmatisme gerakan ini merupakan suatu cara yang paling
praktis (pragmatis). Ketika ada seorang individu yang memiliki perilaku yang
tidak sesuai dengan kaidah organisasi dan menyimpang dari koridor organisasi,
maka pragmatisme gerakan ini dapat dilakukan. Walaupun terkesan kejam, inilah
suatu langkah revolusi sejati yang harus dilakukan oleh seorang revolusioner.
Manajemen konflik adalah cara yang paling istimewa. Jika si
pelaku atau pengguna manajemen koflik ini berhasil menggunakannya dengan rapi. Manajemen
konflik ini dapat diartikan sebagai politisasi di dalam organisasi. Semua gerakan
masif yang dirancang, untuk mencapai cita-cita yang sebenarnya pragmatis yang
sebenarnya menjadi tujuan bersama, atau tujuan terselubung di balik itu semua
(manajemen konflik).
Didalam sebuah gerakan kita dituntut untuk memiliki sikap
yang tegas. Bahkan, ketika tuntutan waktu yang sangat mendesak kita dalam
memberikan sebuah keputusan haruslah sikap yang terbaik, sehingga kita tidak
meberikan bekas penyesalan, dan merupakan sebuah keputusan terbaik yang tidak
merugikan sebelah pihak.
Dan juga di dalam sebuah sikap gerakan, kita harus memiliki
pertimbangan yang matang. Pertimbangan itu harus dilakukan dan di persiapkan
dengan keadaan kepala dingin. Ketika kondisi maksimal tanpa ada sebuah pengaruh
apapun, disitulah waktu yang tepat untuk menentukan sikap. Pertimbangan dan
masukan dari individu lain adalah sebuah pertimbangan bagi kita, jangan setiap
pengaruh individu lain dijadikan sebuah prinsip. Sesekali boleh menggunakan
prinsip yang diberikan oleh individu lain jika memang itu sesuai dengan kondisi
masing-masing.
“KEBERUNTUNGAN BERPIHAK KEPADA INDIVIDU YANG MEMILIKI
PERSIAPAN SEMPURNA”
MERDEKA !!!

No comments:
Post a Comment