Friday, April 11, 2014

IDEALISME YANG TERGADAI


Idealisme  merupakan suatu harga diri gerakan. Ketika harga diri tersebut dipandang rendah, maka tak kan berarti yang namanya sebuah gerakan. Setiap langkah kita akan dianggap suatu kepentingan. Kenyataannya memang sulit sekali menjaga idealisme gerakan.

Organisasi sulit berdiri tanpa uang, bukan berarti organisasi tak kan bisa hidup tanpa uang. Seharusnya kita bisa memilih sumber keuangan organisasi. Sumber keuangan organisasi yang mengandung kepentingan yang berlebih akan menggores nama kita. Namun sumber keuangan yang demi kepentingan bersama akan lebih membuat gerakan kita semakin terpercaya.

Menjaga idealisme di dalam gerakan sebenarnya sangat mudah untuk dijalani jika kita memiliki landasan ideologi yang kuat. Yaitu atas nama rakyat. Ketika ideologi tersebut menancap kuat, maka kita tak akan pernah ragu dengan setiap langkah-langkah kita. Karena setiap langkah kita akan mengandung unsur yang sangat ideologis.

Idealisme sering sekali tergadai ketika di dalam individu organisasi memiliki kepentingan yang menyimpang, kepentingan yang tidak sesuai dengan koridor kesepakatan di dalam organisasi. Organisasi sangatlah bergantung kepada orang yang mengisi di dalamnya. Maka tonggak organisasi adalah kekuatan mendasar ideologi masing-masing personal. Ancaman tergadainya idealisme dipicu dari keserakahan individu. Keserakahan individu yang menjadi contoh kali ini adalah keserakahan akan proses. Keserakahan atas jabatan, bahkan keserakahan yang memicu adanya bibit koruptor, yaitu keserakahan di bidang financial.
Idealisme harus di pegang teguh oleh setiap organisasi, karena harga diri organisasi menyangkut seluruh nama anggota di dalamnya. Ketika ada salah satu anggota yang memang terkesan tidak perduli dengan sesama anggota organisasi. Maka harus ada salah satu tindakan yang tegas. Disini bukan berarti kita harus memberhentikan dari keanggotaan, namun segala bentuk upaya harus dilakukan demi eksistensi dan harga diri organisasi.

Tindakan tegas yang patut dilakukan ketika idealisme individu di dalam organisasi itu dipertanyakan adalah; loby personal, shock terapi, pendekatan persuasif, pragmatisme gerakan, manajemen konflik.


~Ariel Sharon~

Loby personal merupakan sebuah cara yang paling ideal untuk dilakukan karena loby personal adalah sebuah cara yang mengedepankan keterbukaan di dalam organisasi. Loby personal adalah sebuah cara yang sedikit efektif jika si individu tersebut memiliki kesadaran dan rasa memiliki organisasi yang kuat, dan mengedepankan kepentingan organisasi. Jika memang egoisme individu belum terlalu parah, maka loby personal dirasa cukup untuk memberikan solusi.

Shock terapi di dalam organisasi ini sangatlah memiliki banyak contoh. Mulai dari ancaman individu akan sebuah kebijakan bersama, atau terkesan memberikan hukuman bersama secara moral maupun immoral. Atau hanyalah sebatas gertakan yang nanti dapat mengakibatkan efek jera kepada si pemilik egoisme tinggi.

Pendekatan persuasif ini dirasa cara yang paling efektik untuk menemukan sebuah solusi, dan memberikan kemudahan dalam menemukan permasalahan dibalik lunturnya idealisme, dan menjadi sebuah bekal untuk menemukan solusi bersama. Sehingga pendekatan persuasif ini dapat menggali sebuah topik-topik tertutup yang dimiliki oleh si individu yang luntur ideologinya dan idealismenya.

Pragmatisme gerakan ini merupakan suatu cara yang paling praktis (pragmatis). Ketika ada seorang individu yang memiliki perilaku yang tidak sesuai dengan kaidah organisasi dan menyimpang dari koridor organisasi, maka pragmatisme gerakan ini dapat dilakukan. Walaupun terkesan kejam, inilah suatu langkah revolusi sejati yang harus dilakukan oleh seorang revolusioner.

Manajemen konflik adalah cara yang paling istimewa. Jika si pelaku atau pengguna manajemen koflik ini berhasil menggunakannya dengan rapi. Manajemen konflik ini dapat diartikan sebagai politisasi di dalam organisasi. Semua gerakan masif yang dirancang, untuk mencapai cita-cita yang sebenarnya pragmatis yang sebenarnya menjadi tujuan bersama, atau tujuan terselubung di balik itu semua (manajemen konflik).

Didalam sebuah gerakan kita dituntut untuk memiliki sikap yang tegas. Bahkan, ketika tuntutan waktu yang sangat mendesak kita dalam memberikan sebuah keputusan haruslah sikap yang terbaik, sehingga kita tidak meberikan bekas penyesalan, dan merupakan sebuah keputusan terbaik yang tidak merugikan sebelah pihak.

Dan juga di dalam sebuah sikap gerakan, kita harus memiliki pertimbangan yang matang. Pertimbangan itu harus dilakukan dan di persiapkan dengan keadaan kepala dingin. Ketika kondisi maksimal tanpa ada sebuah pengaruh apapun, disitulah waktu yang tepat untuk menentukan sikap. Pertimbangan dan masukan dari individu lain adalah sebuah pertimbangan bagi kita, jangan setiap pengaruh individu lain dijadikan sebuah prinsip. Sesekali boleh menggunakan prinsip yang diberikan oleh individu lain jika memang itu sesuai dengan kondisi masing-masing.

“KEBERUNTUNGAN BERPIHAK KEPADA INDIVIDU YANG MEMILIKI PERSIAPAN SEMPURNA”

MERDEKA !!!

No comments:

Post a Comment