Friday, January 25, 2013

media instruksional


1.             PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmad, taufiq dan hidayahnya, sehingga saya dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab, dalam menghimpun dan menyalurkan potensinya guna memberikan kontribusi yang positif untuk memberikan segenap pengetahuan secukupnya yang saya miliki tentang media instruksional kepada mahasiswa IKIP PGRI Bojonegoro.
        Dalam upaya untuk mengembangkan minat baca mahasiswa, yang nantinya diharapkan dapat memberikan prestasi bagi kampus. Oleh sebab itu, saya memberikan persembahan karya ini untuk teman-teman sekalian.

2.             I S I

a. Media
Media adalah alat fisik atau benda yang dapat digunakan untuk difungsikan sebagai perantara untuk menyebarkan suatu gagasan, ide, pesan dari sumber ke penenerima sumber
b. Media Instruksional
media instuksional adalah suatu media atau perantara bisa dalam bentuk komunikasi, ransangan dan interaksi antara sumber ke penerima sumber. Dimana komunikasi bisa dalam bentuk visualisasi dan suara. Ransangan disesuaikan dengan kemampuan indera si penerima sumber, dan interaksi menggunakan metode dan teknik yang terjadi didalam proses pembelajaran.
d. Fungsi Media instruksional
Terdapat dua fungsi media instruksional, yaitu (1)   Fungsi AVA (Audio Visual Aids)  berfungsi untuk memberikan pengalaman yang konkrit dengan menggunakan media suara dan gambar sebagai ilustrasi. (2) Fungsi Komunikasi. Media (Flural) berasal darikata medium (Singular) yang artinya inbetween (diantara). Jadi media disebut juga sebagai perantara antara satu orang sebagai sumber media kepada orang lain sebagai penerima sumber  media dalam berkomunikasi, disebut komunikator adalah sumber/yang mendesain/yang membuat) dan disebut si penerima  sumber (membaca, melihat dan mendengar ) media  (dalam komunikasi disebut receiver, penerima, audiensi atau komunikan) media yang dibuat (ditulis dalam bentuk modul dll., dibuat dalam bentuk film slide, OHP dsb). isi muatan pesan (message) akan disampaikan (ditransmisikan/dikirim) kepada penerima. Dalam komunikasi tatapmuka (face to face communication) pembicara (kommunikator) langsung berhadapan dalam menyampaikan pesannya kepada penerima (audience). Dengan meletakan pesan yang hendak disampaikan kedalam suatu format media tertentu (buku, film, slide, dsb). Yang dinamakan kegiatan encoding.
e. Manfaat media instruksional
Umumnya manfaat dapat diperoleh dalam proses pembelajaran jika lebih menarik, lebih interaktif, sehingga waktu mengajar dapat  dipakai seefisien mungkin dan efektifitas membuat kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dan proses belajar mengajar dapat dilakukan di mana dan kapan saja, serta sikap  dan kreatifitas belajar siswa dapat ditingkatkan.

3.             MACAM MACAM MEDIA INSTRUKSIONAL










·           *isi dengan gambar dan kegunaan anda masing-masing* 

4.             PENUTUP
Demikian makalah ini saya kembangkan, dengan harapan bahwa makalah ini dapat dijadikan sebagai referensi pembaca pada kesempatan berikutnya. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih yang sebesar besarnya.



“PARADIGMA MAHASISWA DALAM MANFAAT BIROKRASI KAMPUS”

BAB I
PEMBUKAAN

Masih tersimpan didalam benak mahasiswa bahwa BEM,SEMA,HMJ,HIMA ataupun sebutan lain bagi organisasi dalam kampus (organisasi mahasiswa intra kampus) merupakan suatu kegiatan yang membebani bagi kehidupan mereka atas kesibukan mereka didalam kampus. Bahkan mereka tidak segan-segan menolak anjuran temannya untuk meng-aktif-kan diri di dalam birokrasi organisasi mahasiswa intra kampus  (OMIK). Karena paradigma mereka atas organisasi kampus masih menjadi bayang-bayang suram.
            Dibandingkan dengan mahasiswa yang mendapatkan nilai dengan perbandingan seratus tanpa bergabung dalam birokrasi kampus, dengan mahasiwa dengan perbandingan nilai delapan puluh dan aktif dalam birokrasi kampus, maka saya berpendapat bahwa mereka yang bergabung dalam birokrasi kampus memiliki kemampuan yang rata-rata melebihi mahasiswa yang memiliki predikat seratus tanpa bergabung dalam birokrasi kampus. Mengapa demikian? Karena mahasiswa yang spesial, jelas mampu membagi waktu mereka untuk kepentingan akademis dan kepentingan non-akademis/organisasi. Dapat kita bayangkan bagaimana mahasiswa tersebut mendapatkan suatu tanggung jawab atas bidang akademis seperti tugas yang berjumlah banyak dengan deadline waktu yang sempit, dan apabila mahasiswa tersebut juga mendapatkan tanggung jawab yang besar dalam tugas organisasi/birokrasi kampus. Tentu dapat kita simpulkan bahwa dia yang bergabung dalam birokrasi kampus memiliki nilai plus dalam membagi waktu yang memerlukan keseimbangan dalam melangkah.

BAB II
PROBLEMATIKA

            Suatu contoh riil yang kita dapat simpulkan dari mahasiswa yang cenderung tertupoksi pada kewajiban dalam bidang akademis. Apakah mereka paham dengan birokrasi kampus yang tidak lain merupakan contoh kecil dalam sistem pemerintahan Negara maupun Daerah?
            Bahkan ada juga contoh mahasiswa yang menjadi aktivis kampus namun mereka lupa akan kewajiban mereka yang sebenarnya dalam tri darma perguruan tinggi, yang salah satunya adalah ‘pendidikan’ atau belajar. Sering saya temukan seorang mahasiswa yang aktif dalam birokrasi kampus mengabaikan tentang tugas utama mereka sebagai mahasiswa. Mahasiswa = maha (agung/tertinggi) + siswa (pelajar), maka dapat kita simpulkan bahwa mahasiswa merupakan kasta tertinggi dalam lingkup pelajar yang seharusnya memenuhi kewajibannya sebagai siswa/pelajar. Bagaimana dengan kemampuan mereka di bidang yang mereka tekuni jika mereka hanya berfikir dengan ber-organisasi, mereka mampu bersaing di lingkup dan lingkungan mereka?
BAB III
PENYELESAIAN

            Apabila mahasiswa memiliki sebuah kapabilitas di dua wilayah (akademis dan non-akademis/organisasi). Maka tidak menutup kemungkinan bahwa kemampuan mereka dalam skill yang di butuhkan untuk mampu bersaing dalam bidang kerja tidak diragukan lagi. Dan apabila mahasiswa tetap memilih dengan terjun ke salah satu opsi, atau opsi yang memilih kompeten di bidang akademis tanpa menengok dalam bidang organisasi, menurut saya memaksimalkan gerak individu tersebut dalam bidang interaksi sosial di wilayah lingkungan sekitar merupakan alternatif pilihan untuk dapat memiliki sebuah kompetensi yang baik ketika kita lepas dari lingkungan kampus.
            Ketika mahasiswa yang terlalu terjebak dalam euphoria organisasi, mereka mengabaikan kewajiban mereka dalam kewajiban tri darma perguruan tinggi untuk menuntut ilmu, dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki suatu predikat tertulis yang kurang memenuhi syarat, atau nilai yang kurang memenuhi, nilai yang kurang maksimal yang seharusnya mereka dapat atas kompetensi yang mereka tekuni. Dan suatu alternatif yang menurut saya cocok dengan keadaan tersebut, maka ada kalanya mahasiswa tersebut memerlukan suatu bimbingan dalam bidang yang mahasiswa tersebut tekuni. Namun, kurangnya efektifitas dalam langkah tersebut akan menjadi suatu masalah. Kurang efisiennya waktu, efisiennya biaya dan tenaga kita untuk melakukan langkah tersebut. Alangkah baiknya usaha dari individu tersebut untuk mengubah kebiasaan mahasiswa tersebut.
BAB IV
KESIMPULAN

            Yang mampu kita petik dari kutipan tersebut adalah; Alangkah baiknya jika seorang mahasiswa mampu menyukseskan diri mereka pada landasan tri darma perguruan tinggi. Tri darma perguruan tinggi yang terdiri dari, pendidikan; bahwa mahasiswa memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu, penelitian; bahwa mahasiswa harus mampu menganalisa dan memberikan kesimpulan yang bermanfaat, pengabdian; bahwa kita harus meng-implementasi-kan seluruh ilmu dan pengetahuan kita untuk mengabdi pada masyarakat. Dan untuk memenuhi kewajiban tersebut maka kita dapat memperoleh suatu kurikulum yang tersedia di lingkungan kampus. Dalam bidang akademis, mampu kita temukan ilmu yang sesuai dengan kemampuan kita. Dan dalam tatanan birokrasi kampus atau lingkup organisasi, mampu kita temukan kurikulum ilmu yang berisi cara kita untuk berinteraksi dengan masyarakat, tanpa adanya sebuah kesulitan, dan kita akan bisa terbiasa dengan keadaan tersebut. Dan tidak lupa, sebagai mahasiswa harus memiliki moral yang berkualitas sebagaimana mahasiswa merupakan kasta tertinggi di dalam lingkungan pelajar.