“PARADIGMA MAHASISWA
DALAM MANFAAT BIROKRASI KAMPUS”
BAB I
PEMBUKAAN
PEMBUKAAN
Masih tersimpan didalam benak mahasiswa bahwa
BEM,SEMA,HMJ,HIMA ataupun sebutan lain bagi organisasi dalam kampus (organisasi
mahasiswa intra kampus) merupakan suatu kegiatan yang membebani bagi kehidupan
mereka atas kesibukan mereka didalam kampus. Bahkan mereka tidak segan-segan
menolak anjuran temannya untuk meng-aktif-kan
diri di dalam birokrasi organisasi mahasiswa intra kampus (OMIK). Karena paradigma mereka atas
organisasi kampus masih menjadi bayang-bayang suram.
Dibandingkan dengan mahasiswa yang
mendapatkan nilai dengan perbandingan seratus tanpa bergabung dalam birokrasi
kampus, dengan mahasiwa dengan perbandingan nilai delapan puluh dan aktif dalam
birokrasi kampus, maka saya berpendapat bahwa mereka yang bergabung dalam
birokrasi kampus memiliki kemampuan yang rata-rata melebihi mahasiswa yang
memiliki predikat seratus tanpa bergabung dalam birokrasi kampus. Mengapa
demikian? Karena mahasiswa yang spesial, jelas
mampu membagi waktu mereka untuk kepentingan akademis dan kepentingan
non-akademis/organisasi. Dapat kita bayangkan bagaimana mahasiswa tersebut
mendapatkan suatu tanggung jawab atas bidang akademis seperti tugas yang
berjumlah banyak dengan deadline
waktu yang sempit, dan apabila mahasiswa tersebut juga mendapatkan tanggung
jawab yang besar dalam tugas organisasi/birokrasi kampus. Tentu dapat kita
simpulkan bahwa dia yang bergabung
dalam birokrasi kampus memiliki nilai plus
dalam membagi waktu yang memerlukan keseimbangan dalam melangkah.
BAB II
PROBLEMATIKA
PROBLEMATIKA
Suatu contoh riil yang kita dapat simpulkan dari mahasiswa yang cenderung
tertupoksi pada kewajiban dalam bidang akademis. Apakah mereka paham dengan
birokrasi kampus yang tidak lain merupakan contoh kecil dalam sistem
pemerintahan Negara maupun Daerah?
Bahkan ada juga contoh mahasiswa
yang menjadi aktivis kampus namun mereka lupa akan kewajiban mereka yang
sebenarnya dalam tri darma perguruan tinggi, yang salah satunya adalah
‘pendidikan’ atau belajar. Sering saya temukan seorang mahasiswa yang aktif
dalam birokrasi kampus mengabaikan tentang tugas utama mereka sebagai
mahasiswa. Mahasiswa = maha (agung/tertinggi) + siswa (pelajar), maka dapat
kita simpulkan bahwa mahasiswa merupakan kasta tertinggi dalam lingkup pelajar
yang seharusnya memenuhi kewajibannya sebagai siswa/pelajar. Bagaimana dengan
kemampuan mereka di bidang yang mereka tekuni jika mereka hanya berfikir dengan
ber-organisasi, mereka mampu bersaing di lingkup dan lingkungan mereka?
BAB III
PENYELESAIAN
PENYELESAIAN
Apabila mahasiswa memiliki sebuah
kapabilitas di dua wilayah (akademis dan non-akademis/organisasi). Maka tidak
menutup kemungkinan bahwa kemampuan mereka dalam skill yang di butuhkan untuk mampu bersaing dalam bidang kerja
tidak diragukan lagi. Dan apabila mahasiswa tetap memilih dengan terjun ke
salah satu opsi, atau opsi yang memilih kompeten di bidang akademis tanpa
menengok dalam bidang organisasi, menurut saya memaksimalkan gerak individu
tersebut dalam bidang interaksi sosial di wilayah lingkungan sekitar merupakan
alternatif pilihan untuk dapat memiliki sebuah kompetensi yang baik ketika kita
lepas dari lingkungan kampus.
Ketika mahasiswa yang terlalu
terjebak dalam euphoria organisasi,
mereka mengabaikan kewajiban mereka dalam kewajiban tri darma perguruan tinggi
untuk menuntut ilmu, dapat disimpulkan bahwa mereka memiliki suatu predikat
tertulis yang kurang memenuhi syarat, atau nilai yang kurang memenuhi, nilai
yang kurang maksimal yang seharusnya mereka dapat atas kompetensi yang mereka tekuni.
Dan suatu alternatif yang menurut saya cocok dengan keadaan tersebut, maka ada
kalanya mahasiswa tersebut memerlukan suatu bimbingan dalam bidang yang
mahasiswa tersebut tekuni. Namun, kurangnya efektifitas dalam langkah tersebut
akan menjadi suatu masalah. Kurang efisiennya waktu, efisiennya biaya dan
tenaga kita untuk melakukan langkah tersebut. Alangkah baiknya usaha dari
individu tersebut untuk mengubah kebiasaan mahasiswa tersebut.
BAB IV
KESIMPULAN
KESIMPULAN
Yang mampu kita petik dari kutipan
tersebut adalah; Alangkah baiknya jika seorang mahasiswa mampu menyukseskan
diri mereka pada landasan tri darma perguruan tinggi. Tri darma perguruan
tinggi yang terdiri dari, pendidikan; bahwa mahasiswa memiliki kewajiban untuk
menuntut ilmu, penelitian; bahwa mahasiswa harus mampu menganalisa dan
memberikan kesimpulan yang bermanfaat, pengabdian; bahwa kita harus meng-implementasi-kan seluruh ilmu dan
pengetahuan kita untuk mengabdi pada masyarakat. Dan untuk memenuhi kewajiban
tersebut maka kita dapat memperoleh suatu kurikulum yang tersedia di lingkungan
kampus. Dalam bidang akademis, mampu kita temukan ilmu yang sesuai dengan
kemampuan kita. Dan dalam tatanan birokrasi kampus atau lingkup organisasi, mampu
kita temukan kurikulum ilmu yang berisi cara kita untuk berinteraksi dengan
masyarakat, tanpa adanya sebuah kesulitan, dan kita akan bisa terbiasa dengan
keadaan tersebut. Dan tidak lupa, sebagai mahasiswa harus memiliki moral yang
berkualitas sebagaimana mahasiswa merupakan kasta tertinggi di dalam lingkungan
pelajar.

No comments:
Post a Comment