Tuesday, April 16, 2013


Siapa yang peduli, silakan membaca tulisan singkat ini.......

Mahasiswa
                Nama mahasiswa dapat diartikan sebagai kasta tertinggi pada seorang pelajar. Maka, seorang mahasiswa haruslah menjadi contoh dan teladan bagi seluruh kaum yang berpendidikan. Menyandang gelar sarjana seharusnya memiliki pola pikir yang brilian. Mahasiswa bukan orang yang pantas menjadi budak berdasi. Melainkan orang yang seharusnya membuat lapangan pekerjaan bagi orang lain. Sehingga dapat membantu menekan angka pengangguran di negeri ini.

                Mahasiswa di dalam sebuah harapan bangsa yang sangat berpengaruh bagi negeri ini merupakan cita-cita bangsa indonesia. Pundak regenerasi bangsa adalah dimana kaum-kaum pemuda itu diletakkan. Pada masa usia muda, pemuda diharapkan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk mengambil sebuah persiapan dalam menyongsong masa depan. Dalam lingkup mahasiswa merupakan suatu lingkungan yang ideal dalam mempersiapkan diri untuk menyongsong masa depan. Namun, mahasiswa belum tentu dapat memanfaatkan dirinya di tempat yang cocok bagi dirinya.

                Mahasiswa sebagai agen perubahan tentu sangat diharapkan oleh seluruh elemen masyarakat indonesia. Namun, ironis ketika kita melihat seorang mahasiswa yang bertingkah seperti layaknya orang yang tidak berlatarbelakang pendidikan. Contoh dari mahasiswa yang layaknya tidak berlatar belakang pendidikan adalah Mahasiswa “Hedonis” (dengan kata lain adalah foya-foya). Satu yang dapat kita simpulkan pada mahasiswa yang hedonis, mereka hanya menghambur-hamburkan materi demi kepentingan yang dirasa tidak perlu. Realitas ini sering kita temukan pada mahasiswa yang terlalu menjaga penampilan dirinya secara “fashion”.  Dengan suatu permisalan; salah satu teman dari mahasiswa tersebut memiliki jaket baru, maka dia ingin membeli jaket lebih dari itu dengan rasa dalam hati jaketnya sudah merasa tersaingi (jaket bisa diganti dengan jam tangan, tas, baju, sepatu, dan lain lain). Dan untuk contoh lainya adalah mahasiswa yang terlalu memperhatikan penampilannya dengan make-up yang “berlebihan”. Pada umumnya make-up se natural mungkin adalah make-up yang paling cocok digunakan untuk kaum mahasiswa. Namun ada sebagian dari mahasiswa yang terlalu mengikuti mode make-up, dan mereka sangat memperhatikan sekali akan penampilan mereka.

Tidak hanya mahasiswa, bahkan sebagian masyarakat juga memiliki pola pikir yang sama terkait dengan make-up dan barang mewah. Apakah yang menjadi penyebab dari permasalahan di atas? Mungkin hanya sebagian yang mampu saya bagi kepada para pembaca. Dapat kita ambil satu contoh, pola pikir hedonis ini sering kita temui di layar kaca. Gaya hidup seorang selebritis adalah faktor yang sering kita tirukan. Mulai dari gaya rambut, model baju, kaos, jaket dan lain sebagainya. Dapat sedikit kita simpulkan bahwa yang mempengaruhi pola pikir masyarakat adalah “perilaku selebritis yang dapat kita amati di layar kaca”.

Dalam layar kaca sering sekali kita diberikan suatu tayangan yang kurang  bermutu oleh stasiun televisi. Maka pandai-pandailah dalam memilah sebuah “tayangan televisi”. Mungkin tanpa kita sadari kita semua sudah terpengaruh oleh tayangan televisi yang (sebagian)  kurang bermutu. Sebagai mahasiswa, kita harus mampu memilah tayangan televisi yang mampu merubah gaya hidup di sekitar kita, dengan memberikan sebuah gerakan anjuran kepada lingkungan sekitar, agar tidak terpengaruh oleh acara stasiun-stasiun televisi yang dapat berpengaruh lebih akan “perubahan perilaku dan gaya hidup individu”.

Dalam layar kaca ada sebuah kejadian yang sangat sering menjadi ide utama dalam inti cerita sinetron. Yaitu orang yang baik hati, dan memiliki sebuah akhlak yang baik akan selalu mendapatkan sebuah keberuntungan di setiap hidupnya. Memang ada unsur ‘benar’ nya. Namun janganlah kita terlalu mengikuti perilaku sinetron yang sangat berbeda dalam kehidupan nyata. “Keberuntungan berpihak pada orang yang memiliki persiapan terbaik”, maka barang siapa yang memiliki persiapan yang sangat maksimal, bersiaplah dihujani oleh keberuntungan.

Kesimpulan dari tulisan diatas kurang lebih mengangkat sebuah nilai “pola pikir mahasiswa dan masyarakat hedonis yang dipengaruhi oleh tayangan televisi kurang bermutu” (sinetron). Bukan berarti disini saya menjelekkan sinetron, namun sebagian sinetron memberikan dampak pola pikir yang negatif bagi pemirsanya.

Jika teman-teman pembaca peduli dengan keadaan realita seperti ini berikanlah sebuah gerakan untuk mengurangi/mencegah gaya hidup hedonis pada diri sendiri, mahasiswa, lingkungan sekitar, hingga masyarakat luas, dengan cara; minimal mengurangi intensitas dalam menonton sinetron, dan dapat memberikan himbauan kepada lingkungan terdekat agar mengurangi menonton sinetron yang dapat memberikan dampak buruk bagi gaya hidup.


Salam indonesia merdeka dan HIDUP MAHASISWA !!!!!!

.

No comments:

Post a Comment