Saturday, October 5, 2013

Proses Berharga


Berat rasanya berfikir tentang beberapa waktu lagi saya akan mengakhiri gerak di dalam wadah ternyamanku. Pencapaian tertinggi yang saya cita-citakan memang sudah tercapai. Syukur saya ucapkan. Dan merupakan suatu kebanggaan tersendiri yang ada pada diriku.

Perjalanan awal ini memanglah terasa berat. Karena sangat tidak saya duga, waktu luang saya hampir tertutup untuk keluarga, bahkan teman-teman dekat lainnya. Agenda yang bertumpuk-tumpuk sangatlah membebaniku. Saya takut jika suatu saat saya merasa terbiasa dengan keadaan ini, dan saya asyik dalam menjalaninya, kemudian saya tidak dapat meninggalkan keadaan yang saya cita-citakan ini.

Keadaan seiring berubah, dulu target yang sangat terlihat jelas menjadi buram ketika ada anggota baru di lingkup ini terpampang di nama-nama pengajar. Apakah masih ada kesempatan untukku untuk kesempatan besok? Tuhan memang selalu berkehendak seenaknya sendiri. Karena dia maha kuasa, saya rasa itu memang diciptakan untuk mencambukku. Agar saya menjadi person yang jauh lebih baik, lebih berusaha, lebih bertekat. Terimakasih tuhan kau memberikan kesempatan aku untuk menjadi person yang lebih tangguh.

Di wadah lain kemarin gerbong mengalami kegagalan yang hebat. Sehingga tekanan moral sering sekali menyerangku dengan seangkatanku. Mental juara memang tahu, dimana saya bisa menang dan saya tahu kapan saya bisa kalah.

Menyalahkan memang sudah menjadi tradisi regim. Bukan berusaha memperbaiki, namun melepaskan tanggung jawab bersama yang merugikan adik-adiknya. Maka ganjaran yang diberikannya adalah kekalahan yang dipermainkan oleh senior-senior yang tak menjabat.

Tapi sebenarnya gerbong dapat menjadi juara, karena kita berjuang tanpa kecurangan. Berbeda dengan gerbong yang menghalalkan semua cara untuk menang. Mengambil suara yang seharusnya tidak memiiki hak suara. Namun, itulah politik.

Apalagi pencampur tangan selalu hadir di sisi adik-adik. Jadi, perang saya kemarin adalah perang saya secara pribadi dengan orang yang lebih tua, sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi individu kami.
Yang saya akui adalah sisi moral dari calon saya. Saya dapat saja memangkas apa yang menjadi hak lawan. Namun, semua itu dicegah oleh calon yang memiiki nurani tinggi. Tapi apa daya? Itulah politik. Seburuk, seindah, secantik apapun permainan. Semua akan sah dimata politik. Seperti lumpur yang dihias sehingga menjadi bentuk seni. Namun itu tetaplah lumpur.

Semoga semua proses yang aku alami ini tidak akan pernah sia-sia. Karena ini semua adalah bekalku untuk menghindari eksploitasi atau pemanfaatan diri pribadi. MERDEKA !!!

.

No comments:

Post a Comment