Indonesia pusaka...
Indonesia tercinta...
Indonesia merdeka... ... ... ... . . . . .
Malam tujuh
belas agustus tahun dua ribu tiga belas adalah momentum yang spesial bagi
kawan-kawan seperjuangan. Di tengah hari itupun juga merupakan sebuah hari yang
sangat mendebarkan jantung pribadi saya. Dan itu tidak akan saya ulas apa yang
telah mendebarkan jantung saya karena itu bersifat personal. Ditengah persiapan
menuju tempat eksekusi, kawan-kawanku terlihat bersemangat sekali. Semangat yang
berapi-api itu juga menyulut sumbu semangat saya untuk berjuang bersama.
Di
tempat eksekusi kita bergerak dengan membagikan selebaran dan bendera-bendera
kecil. Itu merupakan gerakan kecil dari kami yang semoga bisa memberikan sebuah
pengaruh besar terhadap pengendara yang melintas di daerah eksekusi kami. Selebaran
tersebut berisi tentang tulisan api semangat kemerdekaan. Layaknya seorang
veteran yang hendak berburu penjajah 68 tahun yang lalu, bahkan lebih dari 68
tahun yang lalu.
Nyanyian
yang seakan menjadi background orasi kita melengkapi suasana di waktu itu. Nyanyian
lagu aktivis, nyanyian lagu nasional yang kita pelajari waktu duduk di bangku
sekolah menjadi suara latar belakang luapan emosi kawan-kawan sekalian melalui
orasi kebangsaan. Dalam prosesi pembacaan sumpah mahasiswa, kawan-kawanku
bersemangat menyerukan kalimat, kata per kata, hingga suara tersebut terdengar
menyaingi klakson dan suara emisi kendaraan bermotor sekitar yang melintas.
Pada waktu
itu sungguh gelisah diriku yang memiliki beberapa beban pikiran; Fokus menjalani
aksi kecil dengan kawan-kawanku, deadline waktu tuntutan, memberikan
keseimbangan relasi, beban jabatan, dan perasaan baru yang muncul kembali
setelah beberapa waktu sempat menghilang. Manajemen waktu memanglah sebuah
keharusan bagi saya. Manajemen beban pikiran-lah yang belum saya pelajari
hingga saat ini. Dan saya kurang yakin dengan adanya suatu study tentang manajemen
sebuah beban pikiran. Apakah beban pikiran tersebut bisa didefinisi secara
real? Dan prioritas akan ada mulai dari; mana yang terpenting, terbanyak
memiliki resiko, terminim kemungkinan penyelesaiannya.
Fokus untuk
tupoksi diri pada aksi tersebut; setiap langkah demi langkah kawan-kawanku
sudah saya ikuti. Orasi kebangsaanpun juga saya luapkan dengan sepenuh hati. Saya
akui saya kurang terlatih untuk ber orasi dengan lantunan lagu dari
kawan-kawanku yang mungkin saya rasa memecah fokus kata-kata yang akan saya
utarakan. Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi saya yang diharapkan
kawan-kawanku untuk memegang mega-phone. Namun saya sudah sedikit puas dengan
tindakan individu saya. Namun saya kurang puas dengan takdir yang pada waktu
itu sedikit memberi sandungan pada diri ini. Sehingga terkesan sedikit lepas
fokus.
Deadline
waktu tuntutan juga turut membebani diri. Pikiran terpecah, sehingga di
sela-sela waktu peringatan tersebut, saya sering sekali membuka hand-phone yang
berisi BBM dari client untuk segera menuntaskan sebelum deadline. Sangat terasa
sekali seberapa berat beban yang harus saya pikul pada waktu itu.
Memberikan
keseimbangan relasi memang kegiatan yang saya lakukan di setiap waktu. Penjagaan
atau marking agar tidak overtaking sudah kendala biasa dan ada sedikit
toleransi yang dapat di maklumi. Walaupun kadang saya lakukan dengan cara tidak
seharusnya, tapi disitulah cara yang terbaik agar relasi dapat merapat ke arah
kita.
Beban karena
suatu jabatan juga mulai membayangi pada waktu itu. Waktu luang harus di
manfaatkan untuk mengatur langkah-langkah kedepan. Seperti yang dilakukan oleh
seorang tokoh di buku karangan machiavelli yang berjudul il principe, “di waktu
rehat seorang pemimpin tidak bisa hanya melakukan kegiatan yang tanpa beban,
bahkan seorang pemimpin tetap berpikir didalam tidur-tidurnya.” Di dalam
tekanan agenda yang harus saya lalui dengan langkah kaki saya, saya pun juga berpikir
dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan penghuni baru di
dunia mahasiswa. Untuk satu langkah kedepannya lagi saya juga sudah
mempersiapkan sebuah agenda dengan konsepsi yang sesuai secara teori konsep dan
penerapan secara teknis.
Dan juga
sebuah getaran yang kembali muncul. Sebuah percakapan yang membuat hati saya
menangis. Percakapan yang tidak dilakukan secara langsung. Percakapan yang
melalui perantara sebuah teknologi. Ungkapan yang sungguh menyayat hati bahkan
nadi saya. Sebuah pernyataan yang mungkin datang di waktu yang kurang tepat. Sungguh
saya sayangkan sekali, mengapa tuhan berkehendak seperti itu. Saya mengerti
akan kuasa tuhan yang melebihi makhluk-makhluknya. Tuhan memberikan cinta padaku. Dan kata tidak sulit
untuk saya lontarkan. Dan kata setuju tidak memungkinkan untuk saya ucapkan. Karena
keadaan-keadaan saya dan pertimbangan-pertimbangan saya adalah alasan utama. Tuhan
maha kuasa. “kau bisa berencana menikahi siapa. Tapi tak bisa kau rencanakan
cintamu untuk siapa.” Di sela-sela kebohongan ini saya ungkapkan sebuah hati
yang tak akan pernah tertutup untuk menerima cinta dari yang maha kuasa.
Di dalam
jeda setiap detik-detik luang. Gelisah selalu muncul untuk membebani pikiran
yang seharusnya tertuang di malam hari itu. Dan langkah kawan-kawanku sudah
jauh mendahului fokus pikiran saya. Di tempat tujuan lain pikiran saya tetap
terbagi, terbelah-belah. Kawan-kawanku memerankan drama yang indah. Namun saya
tidak berfikir di titik tersebut. Ada benak lain yang saya pikirkan. Tentu, beban
pikiran perasaan baru mempengaruhi perilaku saya pada malam itu. Sungguh tidak
terbayang percakapan sedikit memukul lembut.
Dan setelah
usai perjalanan juang kami, kamipun kembali ke tempat asal kami. Dan disanalah
perasaan tersebut semakin dalam menghantam. Di sela waktu untuk menenangkan
pikiran dan menyimpan tenaga untuk acara lanjutan. Percakapan semakin membuat
bibir ini tersenyum. Kami terlarut di dalam percakapan yang berjarak ini. Semakin
kami merasa nyaman, semakin kami terasa dekat, semakin kami mengerti satu sama
lain. Andai tuhan memberikan jeda waktu yang lebih panjang, maka takdir ini
masih ada kemungkinan untuk berputar berbalik arah.
Jelang waktu
istirahat selesai, perpindahan tempatku hanya memberikan sedikit perubahan
untuk percakapan jarak dekat. Di dalam lingkaran kekeluargaan ini semua
bercanda ria. Termasuk separuh dari diriku juga ikut larut di dalam seni ucap. Namun,
tidak terlepas tujuanku dari dua tangan yang memadu jempol. Di waktu yang cukup
larut itu yang memberikan hentakan cukup keras. Kata-kata yang sama sekali
tidak terpikirkan keluar dan tertangkap oleh inderaku. Jantung berdegup, darah
mengalir deras yang menimbulkan hangat pada tubuhku, semakin hangat, semakin
hangat, dan semakin hangat hingga membuatku berkeringat. Dunia seakan terhenti.
Jemari tak mampu bertindak ke arah mana jemari ini memberikan isyarat yang akan
muncul di layar matanya. Sulit untuk mengatakan tidak, namun apa yang saya
alami menjadi sebuah perasaan yang bergejolak hebat.
Ingin sekali
waktu itu saya katakan yang sebenarnya dan tanpa kiasan. Mengapa selalu tidak
ada waktu yang tepat untuk kita? Apakah belum? Ataukah tuhan merencanakan
tempat, waktu, dan keadaan yang sesuai?
Di detik-detik
kegiatan tersebut mungkin cinderella sudah terlelap. Sedikit memberikan sebuah
nafas untuk saya hirup pada waktu itu. Seddikit waktu untuk saya manfaatkan
ketika beban itu dapat saya tunda untuk waktu yang sangat panjang, yang
melewati pejaman mata. Dan saya berharap engkau menungguku untuk hadir di dalam
mimpimu ketika engkau sudah terlelap terlebih dahulu, dan ketika diriku pun
terlelap, saya yang menghampirimu di dalam mimpimu dan membawanya kedalam mimpi
kita.
Ceremonial
kuhadapi di sana yang di kelilingi oleh kawan-kawanku sedikit hikmat, karena
masih ada gangguan sedikit ketika ku berucap di depan kawan-kawanku. Rasa nasionalisme
dari kawan-kawan juga saya rasakan di dalam kegiatan kecil mengais asa di dalam
tumpukan debu kemerdekaan. Kegiatan kecil
kami semoga bermanfaat bagi kehidupan sekitar, setiap kegiatan kami mengandung
arti yang besar bagi diri kami. Meskipun sekitar menganggap kegiatan tersebut
bukanlah kegiatan yang ber arti.
Di dalam
tulisan ini tersirat arti, makna, harapan, mimpi, dan cita-cita. Perasaan apapun
itu tidak bisa dibohongi. Ucapan bisa membohongi insan lain. Namun, apa yang
diberikan oleh tuhan dan yang kita rasakan tidak merupakan suatu kebohongan. Saya
katakan te amo, salam hidup mahasiswa
dan dirgahayu indonesia merdeka...
Cinderella..
Indonesia...
Cinta...
Merdeka..
(.^_^)
No comments:
Post a Comment