Sunday, August 18, 2013

Cinderella, Indonesia, Cinta, Merdeka...


Indonesia pusaka...
Indonesia tercinta...
Indonesia merdeka...  ... ... ...  . . . . .

                Malam tujuh belas agustus tahun dua ribu tiga belas adalah momentum yang spesial bagi kawan-kawan seperjuangan. Di tengah hari itupun juga merupakan sebuah hari yang sangat mendebarkan jantung pribadi saya. Dan itu tidak akan saya ulas apa yang telah mendebarkan jantung saya karena itu bersifat personal. Ditengah persiapan menuju tempat eksekusi, kawan-kawanku terlihat bersemangat sekali. Semangat yang berapi-api itu juga menyulut sumbu semangat saya untuk berjuang bersama.

                Di tempat eksekusi kita bergerak dengan membagikan selebaran dan bendera-bendera kecil. Itu merupakan gerakan kecil dari kami yang semoga bisa memberikan sebuah pengaruh besar terhadap pengendara yang melintas di daerah eksekusi kami. Selebaran tersebut berisi tentang tulisan api semangat kemerdekaan. Layaknya seorang veteran yang hendak berburu penjajah 68 tahun yang lalu, bahkan lebih dari 68 tahun yang lalu.

                Nyanyian yang seakan menjadi background orasi kita melengkapi suasana di waktu itu. Nyanyian lagu aktivis, nyanyian lagu nasional yang kita pelajari waktu duduk di bangku sekolah menjadi suara latar belakang luapan emosi kawan-kawan sekalian melalui orasi kebangsaan. Dalam prosesi pembacaan sumpah mahasiswa, kawan-kawanku bersemangat menyerukan kalimat, kata per kata, hingga suara tersebut terdengar menyaingi klakson dan suara emisi kendaraan bermotor sekitar yang melintas.

                Pada waktu itu sungguh gelisah diriku yang memiliki beberapa beban pikiran; Fokus menjalani aksi kecil dengan kawan-kawanku, deadline waktu tuntutan, memberikan keseimbangan relasi, beban jabatan, dan perasaan baru yang muncul kembali setelah beberapa waktu sempat menghilang. Manajemen waktu memanglah sebuah keharusan bagi saya. Manajemen beban pikiran-lah yang belum saya pelajari hingga saat ini. Dan saya kurang yakin dengan adanya suatu study tentang manajemen sebuah beban pikiran. Apakah beban pikiran tersebut bisa didefinisi secara real? Dan prioritas akan ada mulai dari; mana yang terpenting, terbanyak memiliki resiko, terminim kemungkinan penyelesaiannya.

                Fokus untuk tupoksi diri pada aksi tersebut; setiap langkah demi langkah kawan-kawanku sudah saya ikuti. Orasi kebangsaanpun juga saya luapkan dengan sepenuh hati. Saya akui saya kurang terlatih untuk ber orasi dengan lantunan lagu dari kawan-kawanku yang mungkin saya rasa memecah fokus kata-kata yang akan saya utarakan. Sungguh merupakan suatu kehormatan bagi saya yang diharapkan kawan-kawanku untuk memegang mega-phone. Namun saya sudah sedikit puas dengan tindakan individu saya. Namun saya kurang puas dengan takdir yang pada waktu itu sedikit memberi sandungan pada diri ini. Sehingga terkesan sedikit lepas fokus.

                Deadline waktu tuntutan juga turut membebani diri. Pikiran terpecah, sehingga di sela-sela waktu peringatan tersebut, saya sering sekali membuka hand-phone yang berisi BBM dari client untuk segera menuntaskan sebelum deadline. Sangat terasa sekali seberapa berat beban yang harus saya pikul pada waktu itu.

                Memberikan keseimbangan relasi memang kegiatan yang saya lakukan di setiap waktu. Penjagaan atau marking agar tidak overtaking sudah kendala biasa dan ada sedikit toleransi yang dapat di maklumi. Walaupun kadang saya lakukan dengan cara tidak seharusnya, tapi disitulah cara yang terbaik agar relasi dapat merapat ke arah kita.

                Beban karena suatu jabatan juga mulai membayangi pada waktu itu. Waktu luang harus di manfaatkan untuk mengatur langkah-langkah kedepan. Seperti yang dilakukan oleh seorang tokoh di buku karangan machiavelli yang berjudul il principe, “di waktu rehat seorang pemimpin tidak bisa hanya melakukan kegiatan yang tanpa beban, bahkan seorang pemimpin tetap berpikir didalam tidur-tidurnya.” Di dalam tekanan agenda yang harus saya lalui dengan langkah kaki saya, saya pun juga berpikir dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan penghuni baru di dunia mahasiswa. Untuk satu langkah kedepannya lagi saya juga sudah mempersiapkan sebuah agenda dengan konsepsi yang sesuai secara teori konsep dan penerapan secara teknis.

                Dan juga sebuah getaran yang kembali muncul. Sebuah percakapan yang membuat hati saya menangis. Percakapan yang tidak dilakukan secara langsung. Percakapan yang melalui perantara sebuah teknologi. Ungkapan yang sungguh menyayat hati bahkan nadi saya. Sebuah pernyataan yang mungkin datang di waktu yang kurang tepat. Sungguh saya sayangkan sekali, mengapa tuhan berkehendak seperti itu. Saya mengerti akan kuasa tuhan yang melebihi makhluk-makhluknya. Tuhan  memberikan cinta padaku. Dan kata tidak sulit untuk saya lontarkan. Dan kata setuju tidak memungkinkan untuk saya ucapkan. Karena keadaan-keadaan saya dan pertimbangan-pertimbangan saya adalah alasan utama. Tuhan maha kuasa. “kau bisa berencana menikahi siapa. Tapi tak bisa kau rencanakan cintamu untuk siapa.” Di sela-sela kebohongan ini saya ungkapkan sebuah hati yang tak akan pernah tertutup untuk menerima cinta dari yang maha kuasa.

                Di dalam jeda setiap detik-detik luang. Gelisah selalu muncul untuk membebani pikiran yang seharusnya tertuang di malam hari itu. Dan langkah kawan-kawanku sudah jauh mendahului fokus pikiran saya. Di tempat tujuan lain pikiran saya tetap terbagi, terbelah-belah. Kawan-kawanku memerankan drama yang indah. Namun saya tidak berfikir di titik tersebut. Ada benak lain yang saya pikirkan. Tentu, beban pikiran perasaan baru mempengaruhi perilaku saya pada malam itu. Sungguh tidak terbayang percakapan sedikit memukul lembut.

                Dan setelah usai perjalanan juang kami, kamipun kembali ke tempat asal kami. Dan disanalah perasaan tersebut semakin dalam menghantam. Di sela waktu untuk menenangkan pikiran dan menyimpan tenaga untuk acara lanjutan. Percakapan semakin membuat bibir ini tersenyum. Kami terlarut di dalam percakapan yang berjarak ini. Semakin kami merasa nyaman, semakin kami terasa dekat, semakin kami mengerti satu sama lain. Andai tuhan memberikan jeda waktu yang lebih panjang, maka takdir ini masih ada kemungkinan untuk berputar berbalik arah.

                Jelang waktu istirahat selesai, perpindahan tempatku hanya memberikan sedikit perubahan untuk percakapan jarak dekat. Di dalam lingkaran kekeluargaan ini semua bercanda ria. Termasuk separuh dari diriku juga ikut larut di dalam seni ucap. Namun, tidak terlepas tujuanku dari dua tangan yang memadu jempol. Di waktu yang cukup larut itu yang memberikan hentakan cukup keras. Kata-kata yang sama sekali tidak terpikirkan keluar dan tertangkap oleh inderaku. Jantung berdegup, darah mengalir deras yang menimbulkan hangat pada tubuhku, semakin hangat, semakin hangat, dan semakin hangat hingga membuatku berkeringat. Dunia seakan terhenti. Jemari tak mampu bertindak ke arah mana jemari ini memberikan isyarat yang akan muncul di layar matanya. Sulit untuk mengatakan tidak, namun apa yang saya alami menjadi sebuah perasaan yang bergejolak hebat.

                Ingin sekali waktu itu saya katakan yang sebenarnya dan tanpa kiasan. Mengapa selalu tidak ada waktu yang tepat untuk kita? Apakah belum? Ataukah tuhan merencanakan tempat, waktu, dan keadaan yang sesuai?

                Di detik-detik kegiatan tersebut mungkin cinderella sudah terlelap. Sedikit memberikan sebuah nafas untuk saya hirup pada waktu itu. Seddikit waktu untuk saya manfaatkan ketika beban itu dapat saya tunda untuk waktu yang sangat panjang, yang melewati pejaman mata. Dan saya berharap engkau menungguku untuk hadir di dalam mimpimu ketika engkau sudah terlelap terlebih dahulu, dan ketika diriku pun terlelap, saya yang menghampirimu di dalam mimpimu dan membawanya kedalam mimpi kita.

                Ceremonial kuhadapi di sana yang di kelilingi oleh kawan-kawanku sedikit hikmat, karena masih ada gangguan sedikit ketika ku berucap di depan kawan-kawanku. Rasa nasionalisme dari kawan-kawan juga saya rasakan di dalam kegiatan kecil mengais asa di dalam tumpukan debu kemerdekaan.  Kegiatan kecil kami semoga bermanfaat bagi kehidupan sekitar, setiap kegiatan kami mengandung arti yang besar bagi diri kami. Meskipun sekitar menganggap kegiatan tersebut bukanlah kegiatan yang ber arti.

                Di dalam tulisan ini tersirat arti, makna, harapan, mimpi, dan cita-cita. Perasaan apapun itu tidak bisa dibohongi. Ucapan bisa membohongi insan lain. Namun, apa yang diberikan oleh tuhan dan yang kita rasakan tidak merupakan suatu kebohongan. Saya katakan te amo, salam hidup mahasiswa dan dirgahayu indonesia merdeka...

Cinderella..
Indonesia...
Cinta...
Merdeka..


(.^_^)

No comments:

Post a Comment